Geger Sepehi dan Intrik di Keraton Yogyakarta

Geger Sepehi dan Intrik di Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta. ©2020 liputan6.com
HISTORI | 22 Juli 2021 05:03 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Suara meriam terdengar menyalak pada keheningan pagi di Keraton Yogyakarta. Hari itu, tanggal 20 Juni 1812, meriam-meriam milik tentara Inggris ditembakkan dengan Keraton Yogyakarta sebagai sasaran utamanya. Bombardir meriam ini disusul dengan derap langkah ribuan pasukan gabungan dari Inggris, Sepoy (India) dan Legiun Mangkunegaran milik Kadipaten Mangkunegaran merangsek ke benteng Keraton Yogyakarta.

Sebanyak 10 ribu lebih tentara milik Keraton Yogyakarta dan rakyat coba menahan serangan pasukan gabungan milik Inggris ini. Tiba-tiba suara ledakan terdengar di pojok benteng Keraton Yogyakarta di sisi timur laut. Ledakan ini berasal dari salah satu tempat penyimpanan mesiu Keraton Yogyakarta. Ledakan ini meluluhlantakkan pojok benteng Keraton Yogyakarta.

Usai salah satu benteng berhasil dijebol, ribuan pasukan gabungan di bawah kepemimpinan Inggris pun merangsek masuk ke dalam area Keraton Yogyakarta.

Serbuan tentara Inggris dari berbagai penjuru ini akhirnya bisa menembus masuk ke Keraton Yogyakarta. Melihat kondisi ini, Raja Keraton Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II pun menyerah. Menyerahnya Sultan HB II ini menandai takhluknya Keraton Yogyakarta.

Sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Kuncoro Hadi menilai, bahwa peristiwa takhluknya Sultan HB II yang dikenal sebagai Peristiwa Geger Sepehi ini bukanlah serta merta terjadi begitu saja. Menurutnya ada rentetan peristiwa sejarah yang Panjang di balik Geger Sepehi ini.

"Sosok Sultan HB II ini dikenal sebagai sosok yang anti terhadap asing. Kalau sekarang ya istilahnya antipenjajah. Sikap ini sudah ditunjukkan oleh Sultan HB II sejak masa kedatangan Belanda dan Perancis. Termasuk kemudian ketika Inggris masuk pun sikapnya masih sama," kata Kuncoro saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (17/7).

Kuncoro menceritakan karena sikap keras pada pihak asing ini, Sultan HB II ini dilengserkan oleh Herman Willem Daendels yang saat itu merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pelengseran Sultan HB II ini terjadi pada Desember 1810. Posisi Sultan HB II kemudian digantikan oleh putra mahkota yaitu RM Surojo yang dikenal sebagai Adipati Anom. Adipati Anom inipun kemudian diangkat menjadi Sultan HB III.

Situasi politik di Jawa berubah usai kekalahan pasukan Belanda dan Perancis atas tentara Inggris di tahun 1811. Kemenangan Inggris ini membuat Sultan HB II Kembali naik tahta menjadi Raja Keraton Yogyakarta dan menggantikan anaknya Sultan HB III.

Sikap keras Sultan HB II kepada asing ini ternyata berlanjut ke masa pendudukan Inggris. Akibat sikap keras Sultan HB II inilah, Gubernur Jenderal Inggris kala itu Thomas Stanford Raffles dengan tentaranya yang dibantu tentara bayaran dari India dan Legiun Mangkunegaran pun menyerbu ke Keraton Yogyakarta dan dikenal dengan nama Geger Sepehi. Usai peristiwa Geger Sepehi ini, Sultan HB II dilengserkan oleh Raffles dan digantikan kembali oleh Sultan HB III. Setelahnya kemudian Sultan HB II diasingkan ke Penang oleh Raffles.

Mengutip buku karya Peter Carey 'Kuasa Ramalan', Kuncoro menuturkan bahwa usai Geger Sepehi ini, Keraton Yogyakarta mengalami kerugian yang luar biasa. Seisi Keratonn Yogyakarta kala itu dijarah oleh pasukan Inggris.

"Semuanya dijarah. Baik itu benda-benda pusaka, naskah-naskah, barang berharga hingga perempuan-perempuan diambil saat penjarahan ini. Ini kerugian yang besar bagi Keraton Yogyakarta. Dalam bukunya, Peter Carey kan menceritakan bahwa selama beberapa hari dengan menggunakan gerobak, harta rampasan perang ini dibawa tentara Inggris keluar dari Keraton Yogyakarta," kata dosen Prodi Ilmu Sejarah UNY ini.

Kuncoro memaparkan memang saat masa kepemimpinan Sultan HB II ini banyak konflik internal di Keraton Yogyakarta. Konflik ini merupakan buah dari sikap keras Sultan HB II kepada asing. Padahal kala itu di internal Keraton sendiri ada yang ingin berpihak ke asing. Kuncoro mencontohkan bahwa Patih Keraton Yogyakarta kala itu, Danureja Ilyang secara diam-diam menjalin komunikasi dengan Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kondisi ini menciptakan konflik tersendiri di internal Keraton Yogyakarta.

Belum lagi, sambung Kuncoro konflik antara Sultan HB II dengan anaknya yang kemudian dipilih Daendels menjadi Sultan HB III. Kondisi ini menimbulkan semacam adanya golongan tua dan muda di internal Keraton Yogyakarta. Ketika berganti rezim menjadi Raffles, suasana konflik di internal ini semakin menguat. Di mana akhirnya Sultan HB II kembali bertahta.

Di masa itu, kata Kuncoro, sebenarnya ada sejumlah negosiasi-negosiasi antara Keraton Yogyakarta dengan Inggris. Sultan HB II menunjuk adiknya yaitu Pangeran Notokusumo sebagai juru runding atau negosiator dengan Raffles. Namun negosiasi ini gagal karena lagi-lagi sikap keras Sultan HB II pada asing dinilai Raffles menjadi ganjalan.

"Sikap keras Sultan HB II kepada asing ini justru banyak mendapatkan pertentangan dari internal Keraton. Sebut saja tadi ada Patih Danureja II yang bermain dengan Daendels. Kemudian ada Adipati Anom. Selain itu ada juga adik HB II yaitu Notokusumo yang setelah Geger Sepehi diangkat Raffles menjadi Paku Alam I," ungkap Kuncoro.

"Kekalahan Keraton Yogyakarta saat itu ya salah satunya karena konflik internal ini. Ada pihak-pihak yang punya kepentingan ekonomi dan politik serta keinginan berkuasa. Sehingga wajar saat diserang Inggris ini, ada pangeran-pangeran yang mestinya ikut memertahankan Keraton Yogyakarta namun justru melarikan diri. Sehingga tidak ada koordinasi dan kepemimpinan yang kuat saat mempertahankan Keraton Yogyakarta. Hanya ada beberapa pangeran yang ikut mempertahankan Keraton Yogyakarta, salah satunya adalah orang kepercayaan Sultan HB II yang juga panglima perang Keraton Yogyakarta yaitu Tumenggung Sumodiningrat," papar Kuncoro.

"Kita tahu cerita tentang kegigihan Tumenggung Sumodiningrat dalam mempertahankan Keraton Yogyakarta. Di mana akhirnya Sumodiningrat gugur dan tubuhnya dimutilasi oleh pasukan Inggris dan Legiun Mangkunegaran," sambung Kuncoro.

Kuncoro menjabarkan selain kerugian karena penjarahan, adapula kerugian lain yang dialami oleh Keraton Yogyakarta. Di mana sejumlah wilayahnya kemudian diambil Inggris. Selain itu Keraton Yogyakarta diminta memberikan 4.000 cacah tanah kepada Paku Alam I sebagai bentuk perjanjian dengan Raffles.

Tidak hanya itu, lanjut Kuncoro, Keraton Yogyakarta pun tak boleh lagi memiliki pasukan. Hal ini membuat pertahanan Keraton Yogyakarta menjadi lemah. Dampak lainnya dari kekalahan perang ini, Inggris membuat pungutan pajak tanah, cukai dan pasar. Saat itu ada 34 gerbang cukai yang dibuat Inggris dan ini merugikan Keraton Yogyakarta.

Cukai-cukai ini, imbuh Kuncoro saat itu dipasrahkan Inggris kepada orang-orang China yang ada di Yogyakarta. Mereka disebut Kuncoro disebut mendapatkan privilege dari Inggris tentang cukai dan pajak.

"Intrik-inrik ini terus terjadi. Bahkan intrik-intrik ini diteruskan lagi oleh Belanda usai Inggris angkat kaki dari Jawa. Intrik-intrik ini kemudian menjadi salah satu pemicu terjadinya peristiwa Perang Jawa 1825-1830 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Jadi peristiwa 1825 itu sebenarnya rangkaian panjang sejak 1810," pungkas Kuncoro. (mdk/cob)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami