Kisah J.A. Soetjipto, Eks Pejuang Cilik Tak Gentar Berhadapan Pasukan Marinir Belanda

Kisah J.A. Soetjipto, Eks Pejuang Cilik Tak Gentar Berhadapan Pasukan Marinir Belanda
Soetjipto saat berkisah tentang pengalamannya di depan murid SD. Prambonwetan pada 2017. Hendi Jo©2022 Merdeka.com
HISTORI | 3 Juli 2022 06:33 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pernah berjuang sebagai kombatan cilik, tidak menjadikannya merasa berjasa untuk bangsa dan negara.

Penulis: Hendi Jo

Tanggul irigasi zaman kolonial itu masih berdiri hingga kini. Kendati sudah berlumut, namun struktur-nya masih terlihat kokoh.

Mungkin sekarang tak banyak orang tahu, jika kawasan yang terdapat di antara antara dua desa di Tuban itu (Punggulrejo dan Banjararum) pernah terjadi suatu pengadangan besar yang melibatkan pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan masyarakat Prambonwetan di satu pihak melawan para serdadu dari unit Korps Marinir Kerajaan Belanda. Itu terjadi tujuh puluh tiga tahun yang lalu.

Salah satu pelaku peristiwa itu adalah J.A. Soetjipto, lelaki yang kini berusia 85 tahun. Saat kejadian tersebut berlangsung, Cip (panggilan akrab Soetjipto) masih berusia 12 tahun, Dia masih ingat pada pertengahan 194, perang melawan tentara Belanda lagi hebat-hebatnya di seluruh timur Jawa. Bahkan di Prambonwetan, pertempuran-pertempuran antara pasukan TNI dengan militer Belanda kerap terjadi hampir setiap minggu.

2 dari 4 halaman

Perang Seperti Main

Gencarnya serangan dan patroli yang dilakukan militer Belanda sepertinya disebabkan keyakinan mereka bahwa wilayah Prambonwetan merupakan salah satu basis terkuat TNI di timur Jawa.

Penilaian itu memang benar adanya. Selama 1949, Brigade Ronggolawe menempatkan satuan-satuan kecil dari Batalyon XVI pimpinan Mayor Basuki Rakhmat.

"Di sana ada beberapa seksi pimpinan Sersan Sudjiman, Sersan Kemis dan Sersan Safii yang salah satu tugasnya melatih anak-anak muda setempat untuk menjadi tenaga tempur," demikian disebutkan oleh buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe karya Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe.

Kendati belum lulus Sekolah Rakjat (SR), Soetjipto sudah direkrut sebagai tenaga tempur. Dia bergabung dengan kelompok yang dipimpin oleh Sersan Sujiman. Sebenarnya kata 'direkrut' tidak begitu tepat karena bergabungnya Soetjipto ke kelompok tentara itu dilakukan secara sukarela.

"Waktu itu saya merasa ikut berperang seperti main-main saja," ujarnya.

Soetjipto ingat waktu itu, dia kemana-mana menyandang sepucuk karaben layaknya pejuang dewasa.Namun demikian, aura kebocahannya tetap tidak lepas dari wajahnya. Dia ingat pada suatu hari dibawa Sersan Sudjiman ke markas komando di sebuah dukuh bernama Manor.

Di sana bertemulah dirinya dengan Mayor Basuki Rakhmat (kelak menjadi perwira tinggi di Jakarta) yang jadi terheran-heran melihat kehadirannya.

"Iki cah cilik melu-melu, ngapain?" tanya sang komandan.

"Dia itu kecil-kecil juga ikut berjuang, Pak…" jawab Sersan Sudjiman sambil terkekeh.

Mendengar penjelasan bawahannya, Mayor Rakhmat seolah masih tak percaya. Setelah menatap kembali Soetjipto, sambil tersenyum dia kemudian bilang: "Yo wis, kamu sana main-main dulu, kami mau ngomong-ngomong dulu…" katanya.

3 dari 4 halaman

Sergap Marinir Belanda

Sebagai komabatan aktif, Soetjipto tentu saja terlibat dalam sejumlah pertempuran. Namun dari sekian pengalaman tempurnya, hanya kejadian di perbatasan antara Prambonwetan dan Banjararum-lah yang hingga detik ini tak pernah bisa dilupakannya.

"Di sanalah saya mengalami pertempuran yang demikian hebat dan mengerikan," ungkapnya.

Ceritanya pada Selasa, 23 Juli 1949 dia terlibat dalam suatu rencana penyergapan terhadap satu seksi Marinir Belanda pimpinan seorang letnan satu bernama Leen Teeken. Operasi penyergapan itu sendiri dipimpin oleh seorang letnan muda bernama Noortjahjo.

"Kami tunggu mereka di balik tanggul sebuah sungai kecil yang mengapit jalanan kampung lalu tanpa ampun menghancurkan pasukan musuh tersebut," kenang Soetjipto.

Akibat penyergapan itu, tiga serdadu musuh tewas seketika sedangkan tujuh lainnya berhasil ditawan. Tak ada korban jatuh sama sekali di pihak TNI dan rakyat.

"Pertempuran itu berlangsung sangat brutal, dengan mata kepala saya sendiri saya menyaksikan kepala komandan Marinir Belanda itu ditembus serpihan-serpihan granat hingga menyebabkan otaknya berhamburan dan tercecer di pematang sawah…" ungkap Soetjipto.

4 dari 4 halaman

Tak Mengharap Tanda Jasa Pahlawan Perang

Sehari usai pengadangan itu, desa tempat tinggal Soetjipto ditembaki peluru-peluru mortir dan artileri. Usai hujan peluru berhenti, masuklah ratusan tentara Belanda yang datang untuk melakukan pembersihan. Akibat aksi balas dendam tersebut, enam puluh empat warga meninggal dan lima puluh empat rumah musnah menjadi abu.

"Untunglah keluarga saya saat itu sudah mengungsi ke seberang Sungai Bengawan Solo, hingga lolos dari bombardemen militer Belanda," kenang Soetjipto.

Lima bulan setelah peristiwa mengerikan itu, perang pun berakhir. Sebagai seorang anak petani, Soetjipto merasa bahwa hidupnya harus berubah. Dia memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah dan meneruskan jenjang pendidikannya ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Lepas dari SPMA, dia meniti karir di Badan Pertanahan Nasional (BPN) hingga mencapai pensiun.

"Saya memang ditawari untuk menjadi tentara, tapi ya tidak mau. Hidup saya bukan di situ," ungkap lelaki sepuh yang kini tinggal di Bogor itu.

Kendati pernah menjadi pejuang, Soetjipto tak pernah mendaftarkan dirinya sebagai seorang veteran dan menuntut tunjangan untuk hari tuanya. Dia merasa apa yang pernah dilakukannya adalah suatu hal yang lumrah di zaman perjuangan. Hampir semua orang berjuang saat itu, katanya.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini