Kisah Kucing Santapan Gerilyawan Republik

Kisah Kucing Santapan Gerilyawan Republik
ilustrasi pasukan gerilya. ©2020 AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN
HISTORI | 1 Desember 2021 07:05 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Tak ada unggas, kucing pun bisa menjadi korban kelaparan gerilyawan Republik di era revolusi.

Penulis: Hendi Jo

Usai kesepakatan damai diberlakukan di atas kapal perang US Renville pada 17 Januari 1948, Divisi Siliwangi secara resmi harus meninggalkan Jawa Barat. Kendati merasa berat hati, ketentuan itu mau tidak mau harus dilaksanakan oleh para prajurit. Maka jadilah mereka berhijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

MBT (Markas Besar Tentara) di Yogyakarta sendiri melaksanakan perintah itu dengan setengah hati. Secara rahasia, MBT lantas memerintahkan Divisi Siliwangi untuk meninggalkan sebagian kecil pasukannya di Jawa Barat. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya para peneliti Pusat Sejarah Kodam VI Siliwangi, beberapa batalyon ( 1 batalyon setara dengan 700-1000 prajurit) memang diperintahkan untuk tidak ikut hijrah dan bertahan melawan militer Belanda di Jawa Barat.

Batalyon 22 pimpinan Mayor Soegih Arto yang menguasai sektor Cililin, Gunung Halu, Batujajar dan sebagian wilayah Ciranjang (Cianjur) adalah salah satu pasukan yang harus tetap tinggal. Itu bahkan langsung diperintahkan oleh atasannya Letnan Kolonel Daan Jahja (Komandan Brigade Guntur Divisi Siliwangi).

"To, jij (kamu) kita rencanakan untuk tetap tinggal di Jawa Barat…Supaya terus mengganggu militer Belanda yang ada di sini," demikian menurut Daan Jahja seperti dikutip dalam biografi Soegih Arto berjudul Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto.

Jadilah mereka tinggal terus di wilayah pertahanan semula. Hanya bedanya, mereka dilarang memakai nama kesatuan lama yakni Batalyon 22 Brigade Guntur Divisi Siliwangi. Maka terciptalah nama baru yakni Pasukan Djaja Pangrengot. Pasukan ini kemudian berubah menjadi unit-unit mandiri yang sepenuhnya liar tanpa garis komando yang jelas (kecuali kepada pimpinannya yakni Soegih Arto).

"Saya berlaku layaknya raja kecil," ujar Soegih Arto.

Sebagai kekuatan yang tidak memiliki atasan, Djaja Pangerot tentu saja bertindak otonom. Bukan saja soal operasi militer, segala kebutuhan termasuk logistik harus mencari sendiri. Tak jarang, kata Soegih, mereka harus kelaparan dan hanya mengandalkan kekayaan hutan setempat.

"Kadang kita makan lapapan saja, daun-daun, buah hutan, ular dan bagong (babi hutan)," ujar Moehidin (103 tahun), eks anggota Djaja Pangerot.

Alkisah pada suatu siang, Pasukan Djaja Pangerot berhasil menghancurkan satu unit patroli militer Belanda di Cililin. Mereka lantas dikejar oleh beberapa unit buru sergap militer Belanda selama tiga hari berturut-turut. Karena tak memiliki bekal cukup, mereka pada akhirnya harus kehabisan logistik. Tak ada jalan lain mereka akhirnya harus memakan buah-buahan hutan saja.

Singkat cerita sampailah mereka di sebuah kampung. Sayangnya, rakyat di sana ada dalam kondisi melarat. Untuk meminta makanan, para gerilyawan merasa tak tega. Saat perut keroncongan itulah, di halaman rumah seorang warga tetiba melintaslah seekor kelinci yang melompat-lompat lalu masuk ke kolong sebuah rumah penduduk.

"Kami saling berkedip mata dan diam-diam merencanakan akan membekuk si kelinci itu nanti begitu gelap datang," kenang Soegih Arto dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid I yang diterbitkan oleh Markas Besar LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia).

Tak terasa gelap pun datang. Bak pasukan komando, tim eksekusi yang langsung dipimpin oleh Mayor Soegih Arto mengendap-endap di bawah kolong rumah. Begitu melihat bayangan kecil putih, Soegih secara kilat langsung menancapkan sangkurnya dan tanpa banyak cakap lantas mengulitinya hewan malang itu dalam kegelapan.

"Malam itu kami menikmati santapan malam dengan daging bakar yang sangat lezat," kenang Soegih Arto.

Pagi-pagi mereka terbangun dalam kondisi segar. Rupanya pasokan protein telah memunculkan energi baru. Namun saat bersantai itulah, mereka dikejutkan oleh munculnya 'kelinci yang mereka makan malam tadi' masih melompat-lompat dengan riangnya.

Setelah sadar, seorang anak buah Soegih Arto lantas berlari menemukan bekas tempat 'penjagalan malam tadi'. Alangkah terkejutnya dia begitu melihat kepala hewan yang dibuangnya ternyata bukan kepala kelinci, melainkan kepala kucing!

Informasi menggelikan itu lantas diumumkan kepada seluruh anggota yang sudah kadung menikmati santapan malam daging kucing tersebut. Mendengar itu, Soegih Arto sendiri hanya melongo lantas tertawa tak habis-habisnya. Ya, apa boleh buat, katanya, tak ada kelinci, kucing pun jadi.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami