Kisah Plaza Glodok di Masa Lalu, Saksi Bisu Represi Tionghoa dan Penjara Koes Plus

Kisah Plaza Glodok di Masa Lalu, Saksi Bisu Represi Tionghoa dan Penjara Koes Plus
Plaza Glodok. ©2021 Youtube Sieni Cahyani Budiman/editorial Merdeka.com
HISTORI | 5 Oktober 2021 17:05 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Sebagai bekas rumah tahanan, bangunan Plaza Glodok di Taman Sari, Jakarta Barat pernah menjadi saksi kelam kekejaman represi VOC terhadap etnis Tionghoa di dekade 1700 an.

Saat itu tindakan bangsa Eropa yang sewenang-wenang membuat para warga di sana melawan. Saking kacaunya, pemberontakan tersebut memakan korban sebanyak 5.000 sampai 10.000 nyawa yang tidak mau kehormatannya diinjak-injak penjajah.

“Pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Cina ini memang dapat ditumpas VOC, tetapi harus dibayar mahal. Konon, kala itu mayat-mayat bergelimpangan di Glodok” Kata mantan Sejarawan dan Arsip Nasional Indonesia, almarhum Dr. Mona Lohanda, mengutip jakgo-dev.smartcity.jakarta.go.id, Selasa (5/10)

Dalam perjalanannya, penjara Glodok juga pernah menjadi tempat hukuman bagi sejumlah pejabat hingga kelas menengah seperti Bung Hatta dan kelompok musik Koes Plus (saat itu masih bernama Koes Bersaudara). Berikut informasi selengkapnya

2 dari 5 halaman

Pernah Jadi Ruang Tahanan Titipan dari Luar Jawa

plaza glodok
©2021 Youtube Sieni Cahyani Budiman/editorial Merdeka.com

Dikutip dari laman goodnewsfromindonesia,  penjara yang dibangun tahun 1743 itu mulanya hanya digunakan untuk menahan warga Tionghoa yang memberontak saja.

Lambat laun, banyaknya pemberontakan di berbagai daerah, termasuk luar Jawa, membuat para tahanan dari pulau lain turut ditampung di penjara yang dulunya bernama Strafinrichting Glodok ini.

Para tahanan diketahui menjalani sejumlah hukuman, mulai dari penahanan ringan, hingga penyiksaan oleh tentara Belanda karena dianggap tak patuh.

3 dari 5 halaman

Jadi Sumber Kematian

Dikarenakan fungsinya sebagai penampungan pelaku kejahatan hingga maling kelas bawah, penjara Strafinrichting Glodok dianggap sebagai ‘sumber’ kematian karena kondisinya yang tidak layak.

Desakan para tahanan dengan kondisi ruangan yang kumuh tak terawat menjadikan ruang tahanan sebagai pusat penularan berbagai penyakit, seperti disentri. Bahkan untuk makanan para tahanan saja, petugas penjara tidak menyediakannya dengan baik hingga menyebabkan banyak kematian akibat kelaparan.

Selain itu kakus yang berada di dalam ruangan dengan posisi sumur air yang berada di luar bangunan sel, makin memperparah sanitasi di sana. Belum lagi rentetan senjata yang kerap terdengar dari halaman belakang, menjadi tanda kematian dari tahanan yang dieksekusi tentara penjajah.

“Di belakang dekat sel itu, ada tempat menembak (mengeksekusi) orang. Kalau ada orang dihukum mati, dari sel itu terdengar rentetan suasa senjatanya, mengerikan. Pokoknya amat menyeramkan,” cerita Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Urip Santoso yang ditahan di sana tahun 1947, dalam sebuah tulisan.

4 dari 5 halaman

Ruang Tahanan Bung Hatta hingga Koes Plus

koes plus©2021 kapanlagi.com/editorial Merdeka.com

Masih di tahun 1940an, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama yakni Mohammad Hatta disebut pernah ditahan di Penjara Glodok.

Saat itu tokoh pergerakan tersebut dipenjara selama 10 bulan oleh Belanda. Inilah yang menjadi awal kehidupannya di penjara, sebelum diasingkan ke Boven Digul, hingga dipindahkan ke Pulau Banda Neira.

Di dekade 1960an, penjara Glodok masih dipakai sebagai tempat menahan orang-orang yang dianggap tidak nasionalis, dan berorientasi Barat. Namun kala itu, fungsinya menjadi Lembaga Pemasyarakatan Khusus (LPK)

Melansir laman Kapanlagi.com, personel kelompok musik Koes Plus yang saat itu masih bernama Koes Bersaudara turut mengalami hal ini. Saat itu disebutkan Yon Koeswoyo, sang vokalis dipanggil oleh rezim Soekarno tahun 1965. Ia dipenjarakan di LPK Glodok karena dianggap memainkan musik Barat (The Beatles). Pentolan Koes Bersaudara itu dipenjara selama tiga bulan bersama personil lainnya yakni Tony, Nomo, dan Yok.

5 dari 5 halaman

Plaza Godok Jadi Pusat Elektronik Terlengkap

Namun sejak tahun 1977, LPK Glodok sudah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan yang populer di Jakarta. Lokasi tersebut bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan yang dikunjungi banyak orang, melainkan menjelma menjadi pusat elektronik, pakaian, makanan, hingga obat-obatan dengan harga yang miring.

Awal mula Plaza Glodok menjadi pusat elektronik ialah lokasi LPK Glodok dibeli investor sebesar Rp 560 juta. Sekitar 500 tahanan dipindah binakan ke LP Cipinang. 

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami