Kisah Tentara Gurkha yang Ditawan Pejuang Indonesia

Kisah Tentara Gurkha yang Ditawan Pejuang Indonesia
Seorang prajurit Gurkha Rifles yang terluka dalam pertempuran di Jawa Barat. ©2021 IWM
HISTORI | 27 November 2021 07:06 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Beberapa anggota pasukan Gurkha Rifles sempat ditahan para pejuang Indonesia di Jawa Barat. Salah satu dari mereka bahkan menolak dikembalikan ke pasukannya.

Penulis: Hendi Jo

Pada tahun 1970-an, di Ciranjang (masuk wilayah Cianjur, Jawa Barat) tak ada yang tak mengenal Mang Basin. Lelaki bermata sipit dengan badan kekar dan wajah keras itu dikenal sebagai pedagang bilik (anyaman bambu untuk dinding rumah tradisional) keliling.

"Menjelang meninggal pada 1990-an, dia sempat menjadi penjaga sekolah di sebuah SD," ujar Dayat, salah seorang penduduk Ciranjang yang sempat mengenal Basin.

Basin bukanlah sembarang pedagang bilik. Sejatinya dia orang Nepal yang pernah menjadi anggota Royal Gurkha Rifles (RGR) dari Batalyon 3/3 Divisi ke-23 The Fighting Cock (Divisi Ayam Jago). Desember 1945, Basin bersama rekan-rekannya ditugaskan untuk mengamankan jalur sepanjang Cianjur-Bandung dari para gerilyawan Indonesia.

Akhir Maret 1946, Yon 3/3 Gurkha Rifles terlibat dalam pertempuran brutal dengan para gerilyawan Indonesia di tebing Ciranjang dekat Sungai Cisokan. Korban pun berjatuhan di kedua belah pihak. Lima tentara Gurkha menjadi tawanan perang termasuk Prajurit Basin.

"Mereka kemudian kami amankan di suatu tempat, tetapi kami perlakukan secara manusiawi," ujar Raden Makmur, eks gerilyawan Indonesia asal Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI).

Lima bulan lamanya kelima tentara Gurkha itu menjadi tawanan pihak Republik. Mereka kemudian dibebaskan dengan tukaran puluhan gerilyawan Indonesia yang ditahan oleh militer Inggris. Namun Basin menolak balik ke pasukannya. Dia memilih bergabung dengan pihak Republik.

"Basin kemudian menjadi ajudan Wedana Ciranjang hingga perang selesai pada 1950," ungkap Makmur.

Cerita soal tentara Gurkha yang tertawan juga terjadi di palagan Cikampek. Ceritanya pada 21 November 1945, pasukan TKR dari Resimen V Cikampek pimpinan Letnan Kolonel Moefreni Moe’min berhasil menghancurkan satu peleton pasukan Gurkha Rifles, pengawal kereta api logistik dan amunisi tujuan Bandung.

"Seorang letnan Inggris mati dalam kejadian itu. Tinggal enam Gurkha yang masih hidup," ungkap A.E. Kawilarang dalam Untuk Sang Merah Putih (disusun Ramadhan KH).

Pihak Inggris berupaya mendapatkan kembali prajurit-prajuritnya yang tertawan itu. Mereka kemudian mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk meminta tentaranya membebaskan keenam prajurit Gurkha Rifles tersebut. Akhirnya ditemukan jalan tengah: empat tawanan Gurkha itu bisa dibebaskan asalkan ditukar dengan delapan tawanan-tawanan penting Indonesia. Salah satunya adalah penyair Chairil Anwar. Usul jalan tengah itu kemudian disetujui pimpinan tentara Inggris di Jakarta.

Pihak Markas Besar TKR menugasi Letnan Kolonel A.E. Kawilarang sebagai wakil Republik yang mengurusi pertukaran tawanan tersebut. Dalam otobiografi, Kawilarang melukiskan bagaimana pertemuan langsungnya dengan para prajurit yang termasyhur selama Perang Dunia II itu.

"Waktu saya masuk ke ruang kepala Stasiun Jatinegara, saya disambut enam tentara Gurkha itu yang langsung berdiri sambil serempak meneriakkan kata “merdeka”," kenang Kawilarang.

Rupanya selama dalam tahanan para pejuang Indonesia dari Resimen V Cikampek, mereka belajar kebiasaan kaum Republik. Tentunya itu dilakukan supaya mereka selamat.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami