Langkah Menyadarkan Terhadap Phobia PKI

Langkah Menyadarkan Terhadap Phobia PKI
Kilas balik tragedi PKI di Magetan. ©2021 Merdeka.com/Imam Mubarok
HISTORI | 30 September 2021 09:04 Reporter : Imam Mubarok

Merdeka.com - Sejarah kelam bangsa Indonesia tidak lepas dari peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1948. Tidak hanya di Madiun, tragedi tersebut juga menjalar ke Kabupaten Magetan. Kemudian berlanjut dengan peristiwa G30S di tahun 1965. meski sudah lama berlalu, nyatanya kejadian tersebut masih membekas dan membuat traumatik hingga saat ini.

Choirul Anam atau akrab disapa Gus Aan, menilai adanya fenomena masyarakat saat ini mewaspadai bangkitnya komunis lantaran sikap phobia karena peristiwa kelam yang pernah terjadi.

Gus Aan adalah salah satu pengasuh Ponpes Cokro Kertopati Takeran Magetan yang juga menantu KH Zuhdi Tafsir. Gus Aan keturunan dari kiai Ponpes Tegalrejo Magetan, yang merupakan cikal bakal Ponpes Takeran Magetan.

"Kita memiliki rumah besar namannya NKRI pasca peristiwa 1948 peristiwa 1965. Semua orang mewaspadai bangkitnya komunis. Karena kita phobia atau latah dengan komunis. Karena phobia, maka orang menjadikan Pancasila sebagai ideologi. Mulai kapan pancasila menjadi ideologi? itu pandangan saya sebagai anak bangsa. Dan sejak peristiwa itu kita hingga saat ini hanya menjadi garda terdepan untuk melawan bangkitnya komunis," kata Gus Aan kepada merdeka.com.

Ditambahkan, selain PKI bangsa Indonesia juga pernah kecolongan peristiwa DI/TII. "Jadi kita ndak pernah tahu siapa sebenarnya yang akan merongrong NKRI ini. Kita persilakan masuk, mereka yang kita anggap teman, ternyata lawan. Yang kita kita bombardir tidak bisa masuk, ternyata malah membela NKRI," bebernya.

Kondisi seperti ini menurutnya membuat beberapa orang menjadi apatis. Gus Aan bercerita, setiap tahun didatangi orang untuk membuat buku.

"Bikin makalah ya ujung-ujungnya cari uang. Karena momentum 1948 dan 1965 kan traumatik yang berkepanjangan. Dan beliaunya Gus Dur ingin menyudahi itu, cuman kiai-kiai sepuh kita punya trauma yang luar biasa. Kembali lagi karena kita latah, phobia terlalu berlebih, fokus ke PKI, mereka tidak lagi fokus kepada HTI, atau paham-paham yang lain yang sebenarnya pengen mengganti pancasila," terang Gus Aan.

Bahkan menurutnya, ada di antara masyarakat yang tidak bisa membedakan komunis saat ini. Bahkan orang-orang yang dicurigai sebagai komunis justru malah berteriak-teriak tentang Pancasila.

"Orang-orang yang kita khawatirkan merongrong NKRI justru saat ini berteriak tentang Pancasila hari ini. Sedangkan orang-orang yang sok islami, sok nasionalis malah ingin menjungkalkan NKRI ini. Dan saat ini kita semakin ambigu membedakan itu. Jalan satu-satunya saya selalu bicara tinggalannya Diponegoro masih ada yakni Sawo, ya sudah Sawu sufufakum (rapatkan barisan). Rapatnya barisan di mana? ya di pesantren," tandasnya.

Gus Aan mencontohkan anak-anaknya tokoh PKI dan Pahlawan Revolusi saat ini bersatu membentuk yayasan.

"Mereka yang di atas saja bisa rekonsiliasi, sementara kita yang di bawah phobia atau traumatiknya masih tinggi. Enggak akan mungkin selama TAP MPRS ini enggak dicabut, tidak akan mungkin PKI secara partai dan palu arit secara logo akan bangkit di Indonesia. Kecuali ideologinya, siapa yang bisa melarang orang berideologi, wong orang bermimpi saja ideologi kok. Persoalannya sekarang ketika PKI tidak direkonsiliasi atas nama negara maka akan seperti ini terus," ungkapnya.

Gus Aan mencontohkan, ketika ada orang nyalon bupati atau presiden, kemudian muncul kampanye hitam yang menyebutkan calon A atau B anaknya PKI. "Jika seperti itu terus maka kita tidak akan pernah dewasa. Afrika saja Apartheid sudah hilang, kita masih belum bisa hilang dengan politik ini. Jokowi berapa tahun dia di-bully bahwa dia keturunan PKI. Pakde Karwo juga baru selesai, semua lawan-lawan politik akan membenturkan itu," tambahnya.

Langkah penyadaran phobia terhadap PKI saat ini sedang dilakukan Gus Aan sebagai penerus Ponpes Takeran. Salah satunya harus berpandangan secara universal dan tidak parsial.

"Saya tegaskan kepada para santri, kalau saat ini fokus hanya kepada PKI, jangan salah jika Freeport akan habis ditambang, demikian juga di Bojonegoro, Tuban habis loh minyaknya. Sekarang yang lagi viral yang diungkapkan Krisdayanti, gaji DPR kayak gitu. Sekarang pertanyaannya yang mau membunuh negara ini PKI atau orang-orang dalam sendiri," terang Gus Aan. (mdk/cob)

Baca juga:
Siasat Licik PKI Culik Kiai usai Gagal Serang Ponpes Tegalrejo Magetan
Tragedi Madiun-Magetan dan Sumur-Sumur Pembantaian Korban PKI
Jejak Semaoen, Pendiri PKI Asal Jombang
Fadli Zon Tanggapi Letjen Dudung soal Patung 3 Jenderal, Sebut Kesalahan Fatal
Penjelasan Gatot Nurmantyo Pendukung PKI Menyusup ke TNI, Ini Tangkisan Panglima Hadi
Jarang Terpublikasi,Ini Potret Letkol Untung Pemimpin G30S PKI Jelang Dieksekusi Mati
Potret Langka Letkol Untung saat Masih Mayor, Pemimpin G30SPKI Penculik Para Jenderal

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami