Orang Bukittingi dan Tas Sukarno

Orang Bukittingi dan Tas Sukarno
Soekarno. ©Deppen/Cindy Adams
HISTORI | 28 November 2021 07:05 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Tak ada yang paling membuat malu orang Minang di Bukittinggi selain saat tas Sukarno raib di kota mereka.

Penulis: Hendi Jo

Awal Maret 1942, ancaman Jepang semakin dekat ke Hindia Belanda. Demi mencegah balatentara Dai Nippon itu mempergunakan Sukarno sebagai alat propaganda, orang-orang Belanda berniat membawa Sukarno dan Inggit Garnasih ke Australia. Namun rencana tinggalah rencana. Dalam kenyataannya kekuatan militer KNIL di Sumatra tak berdaya ketika berhadapan dengan Tentara Ke-25 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

"Mereka seperti pengecut: lari terpontang-panting…Dan membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan besar dari mereka," ungkap Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Pejambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams).

Pihak Hindia Belanda hanya mampu membawa Sukarno dan seluruh keluarganya dari Bengkulu ke Padang. Saat di ibukota Sumatera Barat itulah, Sukarno sekeluarga untuk sementara tinggal di rumah Woworuntu, seorang kenalan baik asal Manado.

Militer Jepang lambat laun dapat mengendus keberadaan Sukarno. Mereka lantas mendatanginya sekaligus mengundang Sukarno untuk datang ke Bukittinggi, salah satu markas besar mereka di Sumatra.

Singkat cerita, bertemulah Sukarno dengan pimpinan tentara Jepang bernama Kolonel Fujiyama. Dalam pertemuan itu, Fujiyama mengajak Sukarno untuk bergabung dalam rencana besar pihak Dai Nippon untuk memerangi Sekutu. Ajakan itu disambut baik oleh Sukarno. Dia merasa untuk langkah awal menuju kemerdekaan, uluran tangan Jepang itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Selanjutnya hubungan baik pun terjalin antar kedua pihak.

Pada suatu hari, Sukarno mendengar berita bahwa Anwar Sutan Saidi (salah seorang kawan baiknya selama di Sumatra Barat) diciduk Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) di Bukittinggi. Diberitakan jika Anwar telah bersekongkol dengan sejumlah pihak yang pro Sekutu untuk melawan kekuasaan tentara Jepang. Merasa sahabatnya itu ada dalam bahaya, Sukarno lantas memutuskan untuk pergi menghadap Kolonel Fujiyama di Bukittinggi.

Sampai di kota berhawa sejuk itu, Sukarno langsung menuju rumah Munadji di Jalan Syekh Bantam. Di rumah salah seorang kawan Minang-nya itu, dia lantas menitipkan tas yang berisi kalung emas dan liontin berlian kepunyaan Inggit Garnasih. Sukarno sendiri lalu bergegas menemui para pembesar militer Jepang di markasnya dan berhasil membebaskan Anwar hari itu juga.

Usai urusan Anwar selesai, Sukarno balik lagi ke rumah Munadji. Namun alangkah kesalnya Bung Karno ketika tahu tas miliknya telah raib digondol maling. Munadji, Anwar dan para tokoh Bukittinggi merasa malu atas kejadian itu. Mereka lantas meminta pertolongan kepada seorang ulama bernama Inyik Djambek (panggilan hormat kepada Syekh Mohammad Djamil Djambek).

Tak memerlukan waktu lama, berkat bantuan sang ulama yang masih kerabat dekat dari Mohammad Hatta itu, tas milik Sukarno bisa muncul kembali. Tersebarlah berita jika maling 'tak tahu diri itu' adalah seorang lelaki Tionghoa. Dia mengembalikan sendiri tas itu dengan menaruhnya di sudut suatu sawah. Tas itu kemudian diambil oleh Inyik Djambek dan diserahkannya langsung kepada Sukarno.

Benarkah sang pencuri itu adalah seorang Tionghoa? Hasjim Ning, salah satu keponakan Hatta meragukan cerita itu. Dalam otobiografinya yang disusun oleh A.A. Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Hasjim pernah mengonfirmasi cerita tersebut kepada orang-orang Bukittinggi yang tahu akan kejadian itu. Jawaban mereka sangat mengejutkan.

"Ah yang mencurinya memang orang awak. Karena malu pada Bung Karno, dikatakanlah yang mencurinya orang Cina. Padahal mana berani Cina di sana menjadi pencuri. Apalagi mencuri milik Bung Karno, seorang pemimpin yang sangat dihormati rakyat…" ungkap salah seorang dari mereka.

Menurut Hasjim, kejadian sebenarnya adalah begitu mendapat laporan tas milik Bung Karno digondol maling, Inyik Djambek berinsiatif memanggil pimpinan penjahat paling ditakuti di Bukittinggi. Dimarahinya habis-habisan sang pemimpin dunia hitam itu.

"Malu awak, tolonglah carikan!" katanya.

Malu dan segan kepada sang ulama dan Bung Karno, 'godfather' itu kemudian mencari 'maling kelas teri' tersebut. Tidak perlu waktu berjam-jam, orang itu berhasil ditemukan. Persoalan baru datang karena seluruh isi tas tersebut sudah terlanjur berpindah tangan kepada para tukang catut di pasar gelap. Namun Inyik Djambek tak mau tahu.

"(Baru) dua hari kemudian, kopor itu diserahkan kepada Inyik Djambek lengkap beserta isinya," ungkap Hasjim.

Bisa dibayangkan kerja keras 'sang godfather' dan anak buahnya mengumpulkan kembali barang-barang hasil curian itu di seluruh pasar gelap Sumatra Barat. Dikisahkan Bung Karno sendiri merasa senang dan berterimakasih barang-barang pribadi-nya yang akan menjadi modal perjuangan bisa balik lagi, tanpa kekurangan satu pun.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami