Pegang Granat Tangan, Detik-Detik Kahar Muzakar Didor Kopral Siliwangi

Pegang Granat Tangan, Detik-Detik Kahar Muzakar Didor Kopral Siliwangi
Kahar Muzakar. Disjarah TNI AD©2022 Merdeka.com
HISTORI | 7 Juli 2022 06:06 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Diburu bertahun-tahun, salah satu gembong DI/TII Sulawesi itu akhirnya menemui ajal ditangan seorang kopral.

Penulis: Hendi Jo

Selasa, 2 Februari 1965. Unit pasukan para dari Peleton I Kompi D Yon 330/Kujang I pimpinan Peltu Umar Sumarsana bergerak senyap di sekitar Sungai Lasolo. Diam-diam mereka berhasil mengidentifikasi posisi persembunyian pasukan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar yang masuk dalam wilayah Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Keberadaan Kahar dipastikan dengan terdengarnya alunan lagu pop Malaysia 'Terkenang Masa Nan Lalu' dari sebuah radio transistor di salah satu dari delapan gubuk milik pemberontak yang berada tepat dekat sungai.

"Sebelum peleton berangkat, memang telah diberi penjelasan bahwa satu-satunya radio yang ada di hutan itu adalah milik Kahar Muzakar," ungkap buku Siliwangi dari Masa ke Masa Edisi ke-3 karya Dinas Sejarah Kodam Siliwangi.

2 dari 4 halaman

Granat di Tangan Kahar Muzakar

Begitu aba-aba penyergapan dikeluarkan Peltu Umar, pertempuran seru pun terjadi. Saat tengah gencar-gencarnya serangan dari anak-anak Kodam Siliwangi itu, tetiba Kahar muncul dari gubuk nomor lima. Maksud hati akan melarikan diri, namun keburu diketahui oleh Kopral Dua Ili Sadeli.

Tadinya Kopral Ili akan meringkus hidup-hidup sang gembong pemberontak. Namun menyaksikan sang target yang sudah diburu bertahun-tahun itu tengah menggenggam sebuah granat tangan, maka dia langsung mendor tubuh Kahar.

"Tanpa mau ambil risiko, Kopda Ili langsung melepaskan tembakan-tembakan ke arah dada Kahar Muzakar hingga menyebabkannya tewas seketika," demikian menurut Siliwangi dari Masa ke Masa.

3 dari 4 halaman

Pesan Terakhir Kahar Muzakar

Jasad Kahar kemudian dibawa ke Makassar. Beraneka macam respon dari masyarakat Sulawesi Selatan termasuk yang tidak mempercayai bahwa jasad yang berpetimati itu adalah Kahar Muzakar.

Menurut sejarawan Universitas Hassanuddin, A.Suriadi Mappangara, ketidakyakinan itu sejatinya wajar-wajar saja. Beberapa waktu sebelum Insiden Sungai Lasolo, Kahar pernah menyampaikan pesan kepada orang-orang terdekatnya bahwa dia akan pergi jauh.

"Jadi dia pernah bilang: jangan cari saya…" ujar Mappangara.

Hingga kini, kata Mappangara, masih banyak orang Sulawesi Selatan yang tak meyakini bahwa orang yang ditembak Kopda Ili di tepi Sungai Lasolo itu adalah Kahar Muzakar. Salah satu sebabnya: ketidakjelasan makam Kahar hingga kini.

"Orang-orang bertanya-tanya jika memang dia sudah meninggal di mana makamnya. Terlebih beberapa waktu lalu pernah beredar isu bahwa Kahar masih hidup dan kini tinggal di Filipina Selatan," kata Mappangara.

Pihak Siliwangi sendiri sangat menyangkal anggapan itu. Menurut Kopda Ili Sadeli dia sangat yakin jika orang yang ditembaknya adalah Kahar setelah mengaku telah puluhan kali meneliti foto Kahar yang dibekalkan oleh atasannya kepada setiap anggota Peleton I. Sebuah klaim yang dipercaya oleh sejarawan Anhar Gonggong.

"Saya sependapat dengan Pak Ili, kepada saya, Ibu Corrie Von Stenus (salah satu istri Kahar Muzakar) juga mengakui bahwa yang tertembak di Sungai Lasolo itu ya suaminya," ujar Anhar.

4 dari 4 halaman

Bung Karno Yakin Kahar Tewas

Kematian Kahar sempat menjadi berita yang menggegerkan di jagad media Indonesia. TVRI yang saat itu mengirimkan Hendro Subroto, salah satu wartawan perang andalannya, menyiarkan secara eksklusif proses evakuasi jasad Kahar dari tepi Sungai Lasolo ke Makassar. Termasuk penayangan secara dekat jasad Kahar Muzakar.

Presiden Sukarno yang sangat mengenal Kahar, menguatkan pendapat Ili dan Siliwangi. Dia meyakini jika jenazah yang dia lihat lewat tayangan TVRI itu adalah Kahar Muzakar, orang yang dulu semasa era revolusi termasuk pernah dekat dengannya.

"Ya tak salah lagi. Saya tahu pasti, itu Kahar," ujar Sukarno, seperti dikutip jurnalis Hendro Subroto dalam bukunya Perjalanan Seorang Wartawan Perang.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini