Raden Soedirmo Boender, Dari US Army Menjadi RPKAD

Raden Soedirmo Boender, Dari US Army Menjadi RPKAD
Raden Soedirmo Boender. dokumen Hanna Rambe©2022 Merdeka.com
HISTORI | 2 Juli 2022 01:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pulang kampung sebagai anggota US Army, Soedirmo diciduk gara-gara dicurigai sebagai agen Sekutu.

Penulis: Hendi Jo

Tahun 1946, usai melalui hari-hari penuh dengan darah dan bau mesiu di sepanjang palagan Pasifik: mulai dari Rabaul, Biak, Hollandia, Morotai, Saipan, Iwo Jima, Okinawa dan Tokyo, Raden Soedirmo Boender mengajukan cuti kepada kesatuannya di US Army. Dia berniat pulang kampung ke Yogyakarta, setelah tigabelas tahun meninggalkan kota kelahirannya tersebut.

Singkat cerita, pada suatu hari dia meninggalkan Amerika Serikat menuju Indonesia yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Dengan mengenakan seragam US Army dan ransel berisi oleh-oleh untuk orangtua dan adiknya, Soedirmo mendarat di Surabaya.

Tanpa sepengetahuannya, situasi di Surabaya saat itu tengah gawat. Berbagai penculikan terhadap serdadu-serdadu Inggris dan Belanda kerap dilakukan oleh para pejuang Indonesia. Sialnya, Soedirmo termasuk orang yang dicurigai dan diincar karena pakaian seragam US Army-nya mirip dengan seragam yang dikenakan prajurit-prajurit Sekutu yang banyak berkeliaran di Surabaya.

2 dari 4 halaman

DIculik Hingga Lumpuh Sementara

Soedirmo diculik. Dia lantas dibawa ke Gresik, diinterogasi dan diperlakukan sangat kejam oleh para prajurit dari Tentara Keamanan Rakjat (TKR). Segala daya upaya yang dilakukannya untuk bebas dari penangkapan itu seolah sia-sia. Taka da satu pun pejuang Indonesia yang percaya jika dia adalah orang Jawa perantau tang sedang pulang menuju tanah airnya.

"Pakaian seragamku, tinggi tubuhku dan patah lidahku yang sangat asing bagi penduduk Jawa Timur telah membawa celaka. Aku dituduh sebagai agen Sekutu," kenang Soedirmo dalam biografinya, Terhempas Prahara ke Pasifik.

Setelah dilucuti seluruh pakaiannya dan dirampas semua bawannya, Soedirmo lantas dijebloskan ke sebuah Gudang tua yang busuk. Diikat dalam kondisi berjongkok ke sebuah tiang kokoh. Itu berlangsung selama tiga bulan hingga kondisi kesehatannya menurun drastis.

Untunglah suatu hari datang seorang perwira bernama Letnan Kolonel Oesman yang ditugaskan untuk memeriksanya. Dia lantas memerintahkan para prajurit itu untuk melepaskan ikatan yang membelenggu Soedirmo.

"Mungkin karena terlalu lama dalam posisi jongkok, jarang berdiri dan berjalan, Pak Diermo mengalami kelumpuhan sementara," ungkap Hanna Rambe, jurnalis yang pernah mewawancarai Soedirmo.

3 dari 4 halaman

Komandan Kompi Berpangkat Kapten

Sebagai perwira yang terpelajar, Oesman memeriksa Soedirmo dengan cara yang manusiawi. Usai Soedirmo selesai menjelaskan siapa dirinya, tanpa dinyana ternyata Oesman mengenal baik Raden Soetarso Poerwotenojo. Bahkan sang perwira mengaku masih memiliki ikatan darah dengan ayahnya Soedirmo itu.

"Tapi mana mungkin? Putra Pak Soetarso hanya dua. Yang satu malah hilang tak tentu rimba karena kabur tak mau sekolah," ujar Oesman.

"Itu betul. Sayalah anak yang kabur itu. Bukan tak mau sekolah tapi karena dilarang menjadi dokter," jawab Soedirmo.

Awalnya Oesman masih ragu akan keterangan yang keluar dari mulut Soedirmo. Namun ketika lelaki itu bisa menjelaskan secara lancar silsilah keluarga Soetraso, kecurigaannya lenyap seketika.

Alih-alih memberikan hukuman, Oesman (yang kelak menjadi bupati Banyuwangi) malah mengangkat Soedirmo sebagai komandan kompi berpangkat kapten.

"Pak Oesman paham betul pengalaman Pak Diermo sebagai eks tentara Amerika Serikat bisa berguna untuk pasukannya," ujar Hanna Rambe.

Namun karier Soedirmo sebagai perwira TKR tidak lama. Dia lantas meminta mengundurkan diri dengan alasan akan pulang ke Yogyakarta. Alasan tersebut akhirnya diterima setelah beberapa kali mengalami penolakan.

Sesampai di Yogyakarta, Soedirmo tak menemukan keluarganya yang sudah pindah entah ke mana. Karena perlu makan, dia kemudian menjadi pegawai Departemen Sosial hingga perang selesai.

4 dari 4 halaman

Gabung RPKAD

Tahun 1950, dia mendaftarkan diri ke KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang sedang memerlukan perwira untuk memimpin para prajurit yang dikirim ke Perang Korea. Di palagan dunia yang terkenal tersebut, Soedirmo terlibat kembali sebagai petarung. Kali itu musuhnya adalah tentara Korea Utara dan Tiongkok.

Awal 1950, Angkatan Darat Republik Indonesia membentuk sebuah pasukan komando yang awalnya bernama Korps Komando Angkatan Darat (KKAD), kemudan berubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Demi kualitas, RPKAD lantas banyak merekrut mantan prajurit KNIL dan KL untuk memperkuat kesatuan itu.

"Dalam sebuah upacara sederhana di Subang, aku resmi menjadi prajurit Indonesia. Untuk masa seperempat abad selanjutnya resmilah aku berbakti terhadap nusa dan bangsa yang telah lama sekali kutinggalkan," kenang Soedirmo.

Lama sekali Soedirmo berkiprah di pasukan komando TNI-AD. Dia banyak terlibat dalam berbagai operasi penumpasan berbagai pemberontakan. Mulai menumpas Darul Islam hingga terjun ke Operasi Trikora. Pangkat terakhirnya sebagai anggota TNI-AD adalah kolonel. Setelah itu dia berkiprah menjadi pimpinan sekuriti di sebuah pabrik semen terkemuka.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini