Rapat Pemilihan Panglima Besar TKR Seperti Rapat Koboy: Bawa Pistol Hingga Klewang

Rapat Pemilihan Panglima Besar TKR Seperti Rapat Koboy: Bawa Pistol Hingga Klewang
Rapat pemilihan panglima tertinggi TKR di Yogaykarta. IPPHOS©2022 Merdeka.com
HISTORI | 5 Oktober 2022 12:26 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Dalam suasana revolusi, pemilihan pucuk pimpinan TKR dijalankan jauh dari tradisi militer dan agak kacau.

Penulis: Hendi Jo

Bangunan tua bercorak kombinasi hijau tua dan hijau muda itu berdiri kokoh di tengah kota Yogyakarta. Pada awal pendiriannya di tahun 1904, gedung bergaya art deco itu merupakan rumah dinas pejabat administrator perkebunan Hindia Belanda di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Itu terjadi sebelum dikuasai militer Jepang pada 1942-1945.

"Pasca proklamasi kemerdekaan gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi MBTKR (Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat)," ujar seorang pemandu yang kini menjadi Museum Pusat TNI Dharma Wiratama tersebut.

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Namun hingga nyaris sebulan sejak pembentukan itu, TKR sama sekali belum memiliki pemimpin tertinggi.

Jauh sebelumnya, Presiden Sukarno memang sudah menetapkan Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Namun sampai batas yang sudah ditentukan, pemimpin pemberontakan pasukan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar itu tak muncul jua.

2 dari 4 halaman

TKR Kacau dan Rapuh

Kekosongan itu membuat TKR terkesan rapuh karena para anggotanya bertindak nyaris tanpa kendali. Pengangkatan dan pemberhentian para komandan di daerah sebagian besar dipilih langsung oleh bawahannya berdasarkan suka-tidak suka atau paling banter dilakukan oleh lewat pemungutan suara yang dilakukan oleh Komite Nasional Daerah setempat.

"Bahkan tidak jarang perorangan pun menyusun sendiri suatu pasukan dan ia menjadi komandannya…" tulis Letnan Jenderal (Purn) Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Menurut Tjokropranolo, cara-cara semacam itu tentu saja tidak bisa dibiarkan terjadi terus menerus. Harus ada tentara yang kuat untuk menjadi tulang punggung dari semua kesatuan-kesatuan perjuangan bersenjata yang ada guna menghadapi Belanda yang diperkirakan akan menguasai kembali setelah pihak Sekutu kelak meninggalkan Indonesia.

Berdasarkan situasi tersebut, formatur Kepala Markas Besar Oemoem (MBO) TKR, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo berinisiatif mengadakan rapat besar antar perwira. Pertemuan itu diadakan di gedung MBTKR yang terletak di Jalan Gondokusuman (sekarang Jalan Jenderal Soedirman) Yogyakarta pada 12 November 1945, dengan melibatkan para perwira TKR (paling rendah berpangkat Letnan Kolonel atau menjabat sebagai komandan resimen).

"Semua perwakilan yang diundang hadir kecuali dari Jawa Timur,mereka masih sibuk berperang melawan Inggris di Surabaya," ujar sejarawan Rushdy Hoesein.

3 dari 4 halaman

Bawa Pistol Hingga Klewang

Namun sebelum acara berlangsung, sama sekali tak disebut-sebut soal rencana pemilihan panglima tertinggi TKR. Dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid I, Jenderal (Purn) A.H. Nasution sendiri bersaksi bahwa acara tersebut pada awalnya ditujukan untuk membahas strategi mengatasi pergerakan pasukan Sekutu dan mengantisipasi kehadiran Belanda yang dikatakan ingin menguasai kembali wilayah Indonesia.

"Pokok konferensi seperti yang telah diketahui oleh para hadirin sebelumnya ialah pembahasan soal: Membangun tentara yang kuat guna menghadapi serangan musuh," ungkap Tjokropranolo.

Menurut kesaksian Didi Kartasasmita yang saat itu menjabat sebagai panglima Komandemen Jawa Barat, suasana rapat memang panas, kacau dan jauh dari sikap disiplin layaknya tentara.

Didi bersaksi, sejak awal pun sudah ada kesan bahwa rapat perwira itu tidak akan berjalan tertib. Laiknya para koboy, para peserta datang ke ruangan rapat dengan masing-masing menyandang pistol di pinggang kanan dan guntho (pedang militer Jepang) atau klewang khas KNIL.

"Saya menyebutnya sebagai rapat koboy-koboyan," ujar Didi dalam otobiografinya: Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun Tatang Sumarsono).

Didi tak menyangkal jika kekacauan itu terjadi justru karena kurang tegasnya Oerip sebagai pimpinan rapat. Namun dia paham jika Oerip tidak bisa mengendalikan para peserta rapat yang sama sekali sebagian besar masih asing bagi dirinya.

"Saya kira itu berhubung dengan situasi yang apabila tidak dihadapi secara bijaksana, malah akan tambah memanas," ujar Didi.

4 dari 4 halaman

Menhan Suljodikusumo Dipaksa Turun Mimbar, Oerip pun Dikudeta

Kesemrawutan semakin menggila saat setiap orang yang tampil bicara di forum selalu diteriaki kata 'jelek' lalu dipaksa untuk turun dari mimbar. Tak terkecuali, Menteri Pertahanan add interim Suljodikusumo dipaksa turun dari mimbar, walaupun dia belum selesai berpidato.

"Pokoknya rapat itu jauh dari sikap kedisiplinan dari sebuah organisasi tentara," kenang Didi.

Tiba pada sesi pemilihan Panglima Besar, suasana semakin riuh dan kacau. Setiap orang memaksakan diri untuk bicara di forum itu. Karena situasi demikian, atas usul Komandan Divisi V TKR Banyumas Kolonel Soedirman, maka rapat diskor selama beberapa saat. Namun begitu dimulai kembali, tanpa dinyana Kolonel Hollan Iskandar “mengkudeta” Letnan Jenderal Oerip .

"Saya pikir sebagai seorang bekas anggota PETA, sejak semula Hollan memiliki visi untuk menjadikan Panglima Besar TKR datang dari kalangan PETA," ujar Rushdy Hoesein.

Kecurigaan Rushdy berkelindan dengan analisa Salim Haji Said. Menurut pakar militer Indonesia tersebut, bukan rahasia lagi, jika kala itu para perwira TKR alumni PETA “mencurigai” Oerip sebagai perwira pro Belanda. Mengutip hasil wawancara dirinya dengan Nasution, Said menyebut sesungguhnya telah terjadi persekongkolan di antara orang-orang PETA kala itu.

"Pak Nas bilang ke saya: ia sangat mencurigai PETA-PETA itu sudah melakukan rapat gelap di luar sebelumnya," ujar Said.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini