Rumitnya Kisah Cinta Sjahrir dengan Perempuan Belanda, Istri Sahabatnya

Rumitnya Kisah Cinta Sjahrir dengan Perempuan Belanda, Istri Sahabatnya
Perdana Menteri Sutan Sjahrir sedang berpidato pada Sidang Pleno KNIP ke V di Malang, Jawa Timur Tah. Arsip Negara Republik Indonesia©2022 Merdeka.com
HISTORI | 25 September 2022 08:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sutan Sjahrir, si Bung Kecil dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. Sebagai Perdana Menteri RI yang pertama, Sjahrir berhasil membuat Indonesia mendapatkan pengakuan de facto Belanda melalui Persetujuan Linggarjati tahun 1947. Namun, siapa sangka di balik kesuksesan karir politiknya, lelaki yang akrab dengan sebutan 'si kancil' ini memiliki kisah cinta kurang mulus.

Pada Juni 1929, Sjahrir melanjutkan studinya ke Belanda. Di negeri kincir angin, dia aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia. Bahkan, boleh dikatakan sebagai orang kedua setelah Bung Hatta, dalam organisasi tersebut. Sjahrir dikenal sebagai sosok flamboyan karena memiliki hubungan khusus dengan beberapa wanita. Begitu pula dengan salah seorang sahabatnya yang bernama Maria Johanna Duchateau.

Amsterdam adalah kota yang hangat bagi Sjahrir. Di kota ini dia mampu mengenal berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Termasuk rekan-rekan yang sealiran dengannya. Seperti Salomon Tas, seorang wartawan berhaluan kiri yang saat itu menjabat sebagai Ketua Sociaal Democratische Studenten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat) Amsterdam.

Tas menjadi salah satu sahabat dekat Bung Kecil. Persahabatan keduanya semakin dekat ketika Sjahrir harus tinggal di apartemen milik Tas sejak tahun 1931. Di dalam apartemen tersebut, Salomon Tas tinggal bersama wanita yang sudah dinikahinya. Namanya Maria Johanna Duchateau. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang putri. Selain dengan keluarganya, apartemen tersebut juga ditinggali oleh sahabat Maria yang bernama Judith.

2 dari 5 halaman

Jatuh Cinta pada Istri Sahabatnya

Tas, Maria, Sjahrir, dan Judith menjadi sahabat karib. Keempatnya memiliki banyak kesamaan. Seperti sama-sama menggemari sastra, film, dan musik. Mereka terbiasa menonton film dan teater Stadsschouwburg dan menghadiri pertemuan politik di bar Americain. Di restoran tersebut Tas membentuk perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat.

Perkawanan ternyata menumbuhkan benih-benih asmara antara Sjahrir dan Maria yang merupakan istri Tas. Seperti yang dinyatakan dalam buku Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil, Maria memang wanita yang berpikiran maju dan membantu Tas dalam aktivitas politiknya.

Tidak mengherankan jika tumbuh benih-benih asmara di antara keduanya. Terlebih lagi, saat itu hubungan Tas dan Maria sedang gersang. Lantaran kesibukan Tas yang membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk Maria dan anaknya.

Tidak perlu waktu lama bagi Sjahrir untuk memikat hati Maria. Kendati demikian, apa yang dilakukan Sjahrir tidak sepenuhnya dapat dikatakan sebagai usaha merebut istri orang.

Faktanya, Tas mengetahui perselingkuhan keduanya. Bahkan, Tas telah lebih dahulu berhubungan dengan Judith. Boleh dikatakan, kehidupan mahasiswa di Belanda saat itu cukup bebas.

maria du chateau istri sutan sjahrir
europeana.eu©2022 Merdeka.com
3 dari 5 halaman

Sidi dan Mieske Menikah di Medan

Hubungan antara Sjahrir dan Maria berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Sjahrir diperintahkan pulang ke Hindia Belanda tahun 1932. Sjahrir meminta Maria untuk ikut bersamanya. Menurut Sjahrir, Mieske (panggilan sayang Sjahrir kepada Maria) dapat membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.

Sjahrir juga berencana menikahi Maria di Hindia Belanda. Tepat pada awal tahun 1932, Sjahir pulang ke Hindia Belanda. Sementara Maria menyusul 4 bulan kemudian bersama anak-anaknya. Pada bulan April keduanya bertemu di Medan. Maria menempuh perjalanan dari Kolombo. Sedangkan Sidi (panggilan sayang Sjahrir dari Maria) berangkat dari Batavia.

Pernikahan antara keduanya pun terjadi pada tanggal 10 April 1932 di sebuah masjid di Medan. Sjahrir tidak mempertimbangkan fakta bahwa menikahi seseorang berkulit putih dapat dianggap sebagai sebuah provokasi bagi Jepang. Meskipun Medan adalah kota yang ramai dengan orang-orang Belanda, tapi tetap saja hal ini mengundang perhatian.

Di Medan Maria gemar memakai kebaya dan kain. Hal ini sontak mengundang perhatian Orang Belanda. Mengapa seorang keturunan Belanda memakai pakaian pribumi?

Empat hari setelah pernikahan, Maria menjadi perbincangan di kota karena masuk ke dalam sebuah berita di surat kabar Sumatran Post. Dalam pemberitaan tersebut tertulis 'Perempuan bersarung kebaya dalam penyelidikan polisi'.

4 dari 5 halaman

Kisah Cinta yang Kandas

Sebulan setelahnya, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Polisi menemukan bahwa Salomon Tas belum menceraikan Maria secara resmi. Hal ini menimbulkan keributan di kalangan ulama yang menjadi saksi dalam pernikahan Sjahrir dan Maria, karena mereka menikah secara Islam.

Setelah lima minggu, tepatnya 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dan Maria dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Kemudian, Maria dipulangkan ke Belanda pada 10 Mei 1932. Pernikahan yang kandas membuat hati Sjahrir pedih. Terlebih Maria sedang mengandung anak mereka.

Selama masa-masa tersebut, Maria tinggal di Belanda. Namun, keduanya tetap berhubungan secara erat melalui surat-menyurat. Pada tahun 1934, Sjahrir berniat menyusul ke Belanda menggunakan kapal uap S.S. Aramis. Akan tetapi, niatnya tidak terlaksana lantaran Sjahrir dan Hatta ditangkap.

5 dari 5 halaman

Kedekatan Maria dengan Adik Sjahrir

Setelah masa penahanan berakhir, Maria dan Sjahrir kembali menikah pada 2 September 1936. Pernikahan dilangsungkan secara jarak jauh diwakili oleh pelukis Salim. Pernikahan tersebut menciptakan situasi yang serba tegang di kantor gubernur.

Untuk meredam masalah, Sjahrir meminta Maria untuk menyusulnya ke Banda Neira. Namun, ketika itu Maria tidak punya uang simpanan yang cukup untuk berangkat ke Banda Neira. Pada tahun 1939 ketika Maria sudah memiliki cukup simpanan, kapal yang berlayar dari Belanda ke Hindia Belanda sudah tidak beroperasi. Keduanya, kembali melanjutkan hubungan dengan surat-menyurat.

Setelah 15 tahun berpisah, keduanya kembali dipertemukan dalam Pertemuan New Delhi yang diatur oleh Jawaharlal Nehru. Namun, hubungan keduanya seperti sudah getir. Dalam sebuah wawancara tahun 1988, Maria mengungkapkan kekecewaan.

"Sjahrir sudah banyak berubah, mungkin karena sudah menjadi negarawan."

Pertemuan itu ternyata tidak memperbaiki hubungan keduanya yang sudah merenggang. Tepat pada tahun 1948 keduanya memutuskan untuk bercerai. Belakangan diketahui bahwa Maria ternyata dekat dengan adik Sjahrir yang tinggal di Belanda, yakni Sutan Sjahsyam.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini