Satya Graha: Jurnalis yang pernah Jadi Gerilyawan Cilik Bernyali Besar

Satya Graha: Jurnalis yang pernah Jadi Gerilyawan Cilik Bernyali Besar
Satya Graha, Pemred Suluh Indonesia yang terakhir (1965). ©Hendi Jo
HISTORI | 3 Juli 2022 05:33 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sejak menginjak usia remaja, Satya Graha sudah bergabung dengan gerakan pembebasan tanah air. Beberapa kali lolos dari maut.

Penulis: Hendi Jo

Beberapa minggu yang lalu (8/6/2022), jurnalis senior Satya Graha meninggal dalam usia 90 tahun. Tak banyak orang tahu, jika sebelum berkiprah menjadi seorang jurnalis hingga menjabat posisi sebagai pemimpin redaksi Suluh Indonesia (media yang berada di bawah Partai Nasional Indonesia), Satya merupakan seorang pejuang pada era 1947-1949.

"Usia saya baru 15 tahun ketika bergabung dengan para gerilyawan republik di Jawa Timur," ungkap Satya, lima bulan sebelum dia meninggal.

Lelaki kelahiran Blitar itu kali pertama menjadi gerilyawan saat dia menggabungkan diri dalam Divisi Ayam Jago pimpinan Mayor Jenderal Moestopo. Itu nama seorang opsir nyentrik yang merupakan mantan pemimpin Pertempuran Surabaya ke-1 (25-29 Oktober 1945). Selama menjadi anggota Divisi Ayam Jago, berbagai pertempuran pun pernah diikutinya. Beberapa kali dia harus menyabung nyawa dan merasakan ciutnya hawa pertempuran.

"Saya ingat kalau setiap bertempur, Pak Moes selalu berada di paling depan. Sambil menembakan senjatanya, dia tak henti berteriak-teriak dalam bahasa Belanda, mengejek para serdadu yang tengah kami hadapi," kenang Satya.

2 dari 5 halaman

Awal Mula Jadi Gerilyawan

Suatu hari saat tengah beristirahat, dia dipanggil oleh Moestopo ke ruang komandan. Saat sampai di sana, alangkah terkejutnya Satya ketika melihat ibunya yang bernama Toeti, tengah adu omong dengan Moestopo. Begitu melihat kehadiran Satya, ibunya langsung mengajak dia pulang namun Satya bersikeras untuk bertahan.

"Lha itu buktinya saya ndak memaksa, anak-nya kok yang mau ikut berjuang," kata Moestopo kepada Toeti. Satya baru tahu saat itu, jika ibunya dengan sang komandan dulu merupakan kawan sekolahan waktu SMP.

Kendati dimarahi dan ditakuti, Satya tetap tak mau pulang ke rumah. Akhirnya tak ada yang bisa dilakukan sang ibu kecuali menyerahkan keputusan kepada anaknya sendiri. Namun sebelum pulang, sang ibu tak henti-nya mengingatkan Moestopo untuk menjaga anaknya.

"Saya sempat malu juga kepada komandan, tapi ya gimana saat itu memang saya masih termasuk anak kecil," kenang Satya.

satya graha 27 agustus 2021
Hendi Jo©2022 Merdeka.com

3 dari 5 halaman

Preman Paling Ganas di Pasukan Terate

Tamat SMP, Satya diungsikan ke rumah pamannya di kawasan Ngupasan, Yogyakarta. Maksud orangtuanya agar Satya tak lagi aktif berperang dan lebih fokus bersekolah saja. Eh sampai di Yogyakarta, dia malah bergabung dengan pasukan Mosetopo lagi yang ternyata dipindahkan juga ke Yogyakarta.

"Mungkin sudah takdir saya untuk terus bersama Pak Moes," ujar Satya sambil tertawa.

Selama menjadi serdadu muda di Yogyakarta, Satya Graha yang saat itu sudah bersusia 16 tahun, ditempatkan di unit Polisi Tentara (PT). Selanjutnya dia ditugaskan untuk mengawasi Pasukan Terate (kesatuan laskar pimpinan Mayor Jenderal Moestopo yang direkrut dari golongan preman dan eks perampok).

Suatu waktu, saat berkeliling lepas jam malam diberlakukan, dia masih menemukan sekumpulan anggota Pasukan Terate masih bermain kartu gaple di satu sudut markas. Dengan agak takut, Satya lantas memberanikan diri untuk menegur mereka.

"Maaf Bung-Bung sekalian, ini sudah lewat jam malam, silakan Bung semua masuk ke kamar masing-masing!" ujarnya.

Alih-alih menuruti kata-kata Satya Graha, para anggota Pasukan Terate malah pada melotot dan balik membentaknya.

"Eh, eh, cah ingusan wanie perintah-perintah kami ya??? Ta’ gampar kowe!" ujar salah seorang dari mereka dalam nada lebih galak.

Disemprot demikian, nyali Satya langsung menciut. Terlebih yang menghardiknya itu adalah preman paling ganas sepasukan Terate. Dan akhirnya, jam malam pun tak berlaku buat para pemain gaple tersebut.

4 dari 5 halaman

Mengecoh Belanda

Satya juga hampir menemui ajal saat serombongan tentara Belanda melakukan patroli ke wilayah Ngupasan. Pagi masih diselimuti embun, ketika Satya tengah menimba air sumur tiba-tiba tiga jip berisi serdadu-serdadu berbaju loreng berhenti di muka rumah pamannya. Beberapa langsung memasuki rumah-rumah penduduk, sebagian lagi bersiaga dalam formasi tempur.

Seorang serdadu mendatangi Satya. Sambil membentak, dia bertanya dalam bahasa Melayu yang terpatah-patah mengenai keberadaan kaum Republik. Remaja kelahiran Blitar itu lantas menjawab bahwa dirinya tidak tahu apa-apa dan hanya seorang anak sekolahan.

"Mungkin karena saya menjawabnya dengan bahasa Belanda, serdadu itu lantas pergi dan membiarkan saya terus menimba," kenang lelaki kelahiran tahun 1931 tersebut.

Akibat operasi pembersihan pada 2 Maret 1949 itu, 15 warga Ngupasan tewas ditembak. Begitu mencekamnya suasana hingga mayat-mayat mereka dibiarkan begitu saja. Pun ketika pada hari ketiga saat burung-burung gagak berdatangan untuk mematuki mayat-mayat tersebut.

"Tidak ada yang berani merawat sampai hampir seminggu karena takut dilaporkan oleh mata-mata Belanda," ujar Satya.

pemred suluh indonesia satya graha tengah usai mewawancarai presiden broz tito di yugoslavia
©dokumentasi Satya Graha
5 dari 5 halaman

Lagi-Lagi, Nyawanya Selamat

Pada April 1949, Satya dipindahkan ke bagian intelijen. Selain melaporkan situasi Yogyakarta, tugas Satya yang rutin adalah menyebarkan Suara Republik. Itu nama buletin yang diproduksi oleh para aktivis republik yang bergerak di bawah tanah.

Suatu siang, dengan sepeda ontel, Satya membawa beberapa buletin yang dia masukan ke jaketnya yang dia simpan di bagian depan sepeda. Begitu sampai kawasan Patuk, tak dinyana olehnya, sekelompok tentara Belanda tengah melakukan pemeriksaan ke setiap kendaraan dan pejalan kaki. Sambil mengantri, diam-diam dia merasa sangat takut. Jantungnya berdegup kencang.

"Saya lalu nekat keluar antrean dan mendekati kelompok serdadu itu. Saya bilang dalam bahasa Belanda, saya minta diperiksa duluan karena harus cepat sampai ke sekolah dan mengikuti ujian," kenang Satya.

Alih-alih diperiksa, pimpinan para serdadu tersebut malah menyilakan dia untuk pergi. Dari tutur bahasa Belanda-nya yang sangat baik, rupanya komandan itu percaya jika Satya adalah seorang pelajar. Maka lagi-lagi, selamatlah nyawa Satya Graha.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini