Sibuk Mancing Ikan Saat Gempa Besar, Bupati Cianjur Dipecat Pemerintah Hindia Belanda

Sibuk Mancing Ikan Saat Gempa Besar, Bupati Cianjur Dipecat Pemerintah Hindia Belanda
Sebuah rumah hancur akibat gempa bumi yang terjadi di Cianjur pada 1879. KITLV©2022 Merdeka.com
HISTORI | 26 Mei 2022 23:03 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Dianggap lalai dalam menjalankan tugas dan lebih mengutamakan hobinya sendiri, Tumenggung Raden Wiranegara II hanya berkuasa selama setahun.

Penulis: Hendi Jo

Makam tua berbatu itu tampak tak terawat. Sebagian temboknya tampak akan runtuh. Di kanan-kiri dan depan-belakang, ilalang tumbuh subur seolah menjadi pelindung bagi keberadaan pusara itu. Ada nama tertera di nisannya: Tumenggung Raden Wiranegara II. Siapakah dia?

Dalam suatu mansukrip tua berjudul Inlandsche Verhalen van den Regent van Tjiandjoer (1857), R.A.A. Kusumahningrat alias Dalem Pancaniti menyebut Tumenggung Wiranegara II masih termasuk saudara dekatnya.

"Dia adalah kakak saya (lain ibu)," ungkap Bupati Cianjur ke-9 itu.

2 dari 3 halaman

Ujian dari Belanda

Wiranegara II naik tahta sebagai bupati Cianjur pada tahun 1833, menggantikan ayahnya yang bernama R.A.A. Prawiradiredja I. Sejatinya pengangkatan tersebut tidak begitu direstui oleh Residen Priangan Holmberg de Beckfeld. Selain memiliki citra kurang baik karena dianggap 'anak manja' yang suka berjudi, Wiranegara II pun adalah penggila kegiatan berburu ikan di sungai-sungai besar.

"Salah satu ikan favoritnya adalah kancra, hingga dia dijuluki sebagai Dalem Kancra," ungkap sejarawan Cianjur Luki Muharam.

Holmberg tadinya akan mengangkat Bupati Limbangan (Garut) yang bernama R.A.A. Kusumadinata sebagai pengganti Prawiradiredja I. Namun karena merasa malu, Bupati Cianjur ke-7 itu bersikeras mengangkat Wiranegara II sebagai penggantinya.

"Residen Holmberg pun mempertimbangkan masalah itu dan akhirnya menerima usulan dari Adipati Prawiradiredja I," ungkap R.A.A. Kusumahningrat.

Pemerintah Hindia Belanda di Batavia juga akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Tapi mereka memberikan catatan: Wiranegara II akan diuji dulu selama dua tahun. Jika selama dua tahun dia 'lulus ujian' maka dia akan diangkat sebagai bupati Cianjur secara penuh. Syarat itu lantas disepakati oleh Prawiradiredja I dan Wirangera II.

Dalam kenyataannya, Wiranegara II berfungsi sebagai bupati hanya sekejap. Beberapa minggu setelah pengangkatannya, dia pun kembali ke gaya hidup semula: berjudi dan memburu ikan kancra hingga ke pelosok-pelosok Cianjur.

Kegilaannya akan ikan menjadikan Wiranegara II bisa disebut sebagai pionir munculnya masakan-masakan ikan khas Cianjur yang dikenal hingga kini. Sebut saja misalnya masakan pepes ikan tulang rangu (lunak), ikan bakar, pesmol dan cobek.

"Begitu doyannya dia kepada masakan ikan, hingga kepala ikan saja sampai dibongkar dan dinikmatinya," ungkap Luki Muharam.

Berburu ikan itu terus dilakukan Wiranegara II tanpa mengenal rasa bosan, seolah kegiatan tersebut adalah pekerjaannya yang utama. Saat Cianjur sering dilanda gempa bumi pada awal Oktober 1834, Wiranegara II seolah tak peduli dan tetap berangkat ke Sungai Cibuni (terletak di selatan Cianjur) untuk berburu ikan kancra.

3 dari 3 halaman

Berburu Ikan saat Gempa Bumi

Hari kesepuluh Oktober 1834, gempa bumi hebat menghantam Cianjur. Dalam Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak (1821-2018), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bencana itu termasuk yang terdasyat. Bukan hanya meluluhlantakan sebagian kota Cianjur saja, namun juga membuat jalur Bogor-Puncak-Cianjur mengalami keretakan yang parah.

Dalam situasi seperti itu, Wiranegara II justru tak hadir di tengah rakyatnya. Ketika sebagian penduduk Cianjur kehilangan tempat tinggal, dia justru tengah asyik berburu ikan kancra di Sungai Cibuni.

Pemerintah Hindia Belanda pun murka. Empat hari kemudian turun surat pemecatan dari Gubernur Jenderal Jean Chretien Baud untuk Tumenggung Raden Wiranegara II. Berakhirlah kekuasaan Dalem Kancra.

Pemerintah Hindia Belanda lantas mengangkat R.A.A. Kusumahningrat sebagai pengganti Wiranegara II. Dia berkuasa hingga 28 tahun kemudian.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami