Tangis Sedih Haji Agus Salim

Tangis Sedih Haji Agus Salim
Haji Agus Salim. ©buku seratus tahun haji agus salim/sinar harapan
HISTORI | 1 Desember 2021 05:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Seseorang pernah membuat lelaki berjuluk The Grand Old Man itu menangis tersedu-sedu. Siapakah dia?

Penulis: Hendi Jo

Di kalangan kaum pergerakan Indonesia, tak ada yang menafikan kepiawaian Haji Agus Salim (HAS) dalam berdebat dan mengolah kata. Sepanjang kiprahnya, entah sudah berapa ratus lawan diskusinya bertekuk lutut dan tersudutkan. Biasanya itu dilakukan oleh lelaki Minang tersebut dengan cara yang lucu.

Suatu hari di tahun 1920-an. Haji Agus Salim pernah mendapat penghinaan dari orang-orang komunis. Secara sengaja beberapa aktivis muda Syarekat Islam (SI) Merah, datang ke sebuah rapat yang menghadirkan HAS sebagai pembicara utamanya. Tak ada niat untuk menyimak pidato HAS. Mereka hanya ingin berniat membuat suasana rapat tersebut kisruh.

"Ya maklum-lah, anak-anak muda itu lagi genit-genitnya secara intelektual," ujar Agustanzil Sjahroezah, salah satu cucu HAS.

Menurut Agus, cara mereka mengganggu sangat provokatif dan kasar. Setiap HAS (yang memiliki jenggot panjang laiknya kambing tua) berbicara, maka anak-anak muda kiri tersebut serempak menyahutinya dengan suara: 'embeeekkkkkk'. Satu kali didiamkan. Begitu juga yang kedua kali. Namun begitu kali ketiga embikan berjamaah itu terdengar, dengan tenang tetiba HAS mengangkat tangan. Bahasan pidatonya berbelok.

"Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan, agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidato yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka."

Demi mendengar kata-kata HAS itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun anak-anak muda itu, alih-alih bisa mempermalukan HAS, yang ada mereka seolah menjadi 'sekelompok badut' karena menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Tetapi ada satu waktu HAS yang cerdas, sangar dan jenaka pernah terlihat bersedih. Itu terjadi pada akhir Januari 1946. Saat HAS mendengar kabar anak ke-5-nya, Achmad Sjewket Salim gugur dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang.

"Paatje memang berduka sekali dengan meninggalnya Sjewket karena sebelumnya Sjewket yang selalu sakit-sakitan itu sudah dilarang untuk masuk Akademi Militer Tangerang," ungkap almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri HAS.

Begitu bersedihnya HAS atas kematian Sjewket hingga sejak peristiwa kematian itu. HAS sering terlihat memakai jaket militer yang sudah usang. Termasuk ketika dia memimpin tim diplomat Republik Indonesia ke Mesir pada 1947.

Tentu saja semua anggota tim penasaran dengan kebiasaan itu. Namun menurut M. Zein Hassan, tak ada satu pun yang berani menanyakan soal kebiasaan itu langsung kepada HAS.

Tibalah suatu malam, selagi semua anggota delegasi RI duduk di beranda atas Hotel Continental Cairo untuk menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan, sekonyong-konyong HAS menyanyikan secara lantang sebuah lagu perjuangan.

"Kami yang hadir semuanya terdiam seperti terpukau," ungkap M. Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri.

Hening membekap suasana begitu lagu selesai dinyanyikan. HAS sendiri terdiam dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Lagi-lagi tak ada yang berani bertanya atau memulai pembicaraan. Keheningan itu mulai dipecahkan lagi oleh suara HAS sendiri.

"Lagu itulah yang dinyanyikan anak saya, ketika pelor Jepang menembus dadanya…" kata HAS dalam nada parau.

Sejurus kemudian, HAS kembali diam. Lalu saat beberapa detik berlalu, dia menghalau lagi keheningan sambil menunjuk jaket militer usang yang selalu dipakainya sehari-hari selama di Mesir.

"Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid…" ujarnya.

Kematian Ahmad Sjewket Salim (1921-1946), memang tak bisa lepas begitu saja dari hidup HAS. Bisa jadi dia sempat merasa menyesal karena 'gagal' melarang putranya untuk tidak menjadi seorang prajurit. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein yang pernah mendengar langsung dari adik Sjewket, Islam Salim, HAS pernah menasehati Sjewket untuk berjuang lewat jalan lain. Toh perjuangan mempertahankan proklamasi tidak harus lewat menjadi seorang prajurit, kata HAS.

"Tapi ya dasar pemuda yang sedang semangat-semangatnya ingin berjuang, Sjewket diam-diam mendaftarkan diri ke Akademi Militer Tangerang dan lulus hingga dia gugur bersama komandannya, Mayor Daan Mogot," ungkap Rushdy.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami