3 Alumni IPB Buktikan Baktinya Pada Negeri, Ada yang Buka Kafe di Tengah Kebun

3 Alumni IPB Buktikan Baktinya Pada Negeri, Ada yang Buka Kafe di Tengah Kebun
IPB. ©2018 fisika.ipb.ac.id
JABAR | 17 Oktober 2021 07:30 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Tinggal di wilayah pedalaman tidak menghalangi tiga sosok alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) bernama Sadikin, Kustini, dan Arum Rahayu untuk tetap berkarya demi memajukan bangsa.

Mereka memanfaatkan ilmu pengetahuan dari almamaternya untuk membangun potensi di masing-masing daerah asal demi mempermudah akses masyarakat.

Seperti dilansir dari laman dream.co.id, Sabtu (16/10), usaha keras mereka terkadang menemui sejumlah hambatan seperti restu orang tua.

Namun berkat ketulusan hati dalam menjalankan usahanya, membuat bidang usaha yang mereka dalami seperti agropreneur di pedalaman Aceh, pelayanan kesehatan hewan hingga pemerataan pendidikan di pelosok Kalimantan berhasil mereka jalankan secara optimal.

Berikut kisah inspiratifnya.

2 dari 4 halaman

Mengenalkan Potensi Kopi Lokal Lewat Kafe di Tengah Kebun

ilustrasi kopi gayo
Ilustrasi Kopi Gayo Aceh

©Creative Commons/Adilarmaya

Dalam forum diskusi yang dilangsungkan secara virtual, Sadikin berupaya mengangkat varietas kopi lokal Gayo di Kabupaten Bener Meriah, Gayo, Aceh melalui konsep 'ngopi di tengah kebun' di Seladang kafe miliknya.

Di kesempatan itu, lulusan Agronomi Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian dan Peternakan IPB tersebut berupaya melakukan konservasi kopi lokal dengan membangun konsep ramah lingkungan dan mengenalkannya kepada milenial dari hulu ke hilir.

Ia tak ingin masyarakat hanya mengetahui kopi daerahnya dari segi rasa semata. Hal ini dikarenakan terdapat proses menarik, dari mulai kopi itu ditanam hingga siap diminum, termasuk membangun brand dengan mengungkap kisah di balik kopi kepada para penikmat.

"Saya bukan owner tetapi farmer, petani kopi, yang kebetulan ada kafe di dalamnya. Rahasia di kafe saya itu ada tiga yaitu tidak ada rahasia itu rahasianya," ujar Sadikin.

Bahkan Sadikin sempat mendapat tanggapan dari sang ibu, manakala ia menceritakan gagasannya beberapa tahun silam sebelum mendirikan seladang kafe tersebut di tahun 2013.

"Tidak ada orang gila yang mau ngopi di kebun kopi," kata Sadikin menirukan ucapan ibunya.

3 dari 4 halaman

Melayani Kesehatan Hewan dengan Tulus

ilustrasi dokter
©Shutterstock.com/Dan Kosmayer

Di kesempatan yang sama, Kustini turut menceritakan pengalamannya melayani kesehatan hewan.

Kustini yang merupakan dokter hewan alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB tersebut sempat mengawali karier bukan sebagai dokter hewan namun di laboratorium. Meski begitu, ia tetap gigih bekerja dengan penuh kesungguhan.

Selama ini ada 'mantra' yang membuatnya tetap semangat memberikan pelayanan terbaik yang diajarkan almarhum sang ayah yakni 'selalu jujur di manapun'.

"Saya tidak punya target dalam karier, mengalir saja dengan tetap memberikan yang terbaik. Bekerja dengan hati, dengan tulus. Biarkan Allah yang memberikan ganjarannya dan orang di sekitar saya yang menilai, baik itu atasan, maupun rekan-rekan seprofesi," kata dia.

Berkat 'mantra' tersebut, Kustini bersama timnya berhasil meraih penghargaan Abdi Baktitani 2021. Penghargaan tersebut diberikan pada unit pelayanan publik berprestasi, dalam hal ini UPTD RSH DKPP Provinsi Jawa Barat.

Sebagai pelayan masyarakat yang setiap hari bertemu dengan berbagai karakter orang, Kustini harus tetap berpegang untuk selalu melayani dengan sepenuh hati, dan bekerja dengan ikhlas.

Orang-orang yang datang ke RS Hewan tidak hanya mereka yang mampu namun banyak orang-orang tulus yang menyelamatkan hewan tak bertuan di jalanan dan tidak memiliki cukup uang untuk pengobatan.

4 dari 4 halaman

Membuka Akses Pendidikan di Pelosok Kalimantan

ilustrasi guru mengajar
©2020 Pixabay/Editorial Merdeka.com

Tak kalah semangat dengan kedua rekannya, Arum Rahayu turut membagikan kisah pengabdiannya dalam membuka akses pendidikan di pedalaman Kalimantan.

Arum bercerita jika saat ini ia mengabdi sebagai guru di SMPN Satu Atap-1 Danau Sembuluh, Desa Paren, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Pertama kali dia berkenalan dengan kondisi Kalteng yaitu saat melakukan PKL (Praktik Kerja Lapang) ketika masih kuliah.

Usai lulus dari IPB di tahun 2002, Arum kembali ke Kalimantan dan mengawali karier di sebuah perusahaan. Dia mendapat tawaran untuk mengajar di sekolah milik perusahaan hingga tahun 2008.

Tak berapa lama, Arum juga mengambil AKTA IV di Sekolah Tinggi di Sampit dan lulus tes CPNS pada 2009. Dia lalu ditempatkan di sebuah sekolah yang baru dirintis dan saat itu baru berjalan 6 bulan.

Pilihan Arum untuk mengabdi di pelosok Kalimantan, juga sempat mendapat tentangan dari orang tuanya. Namun berkat dorongan dari para kakaknya, akhirnya kedua orang tua Arum merestui pilihan hidupnya.

Arum membeberkan, kebahagiaan utamanya ketika menjadi seorang tenaga pengajar adalah ketika berhasil menyaksikan anak didiknya berhasil meraih cita-citanya. Bahkan di antara siswanya, ada yang menjadi rekan sejawat Arum.

Tawaran untuk berkarir pada jabatan struktural ditolak secara halus. Saat ini Arum sudah merasakan hidup yang nyaman bersama keluarga dan memperoleh ketenangan batin dalam menjalani profesi sebagai guru.

(mdk/nrd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami