4 Fakta Video Viral Azan Jihad di Majalengka, Terbaru Pelaku Minta Maaf

4 Fakta Video Viral Azan Jihad di Majalengka, Terbaru Pelaku Minta Maaf
Video Azan jihad di Majalengka. ©2020 Istimewa
JABAR | 3 Desember 2020 10:16 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Ramainya video azan berisi ajakan jihad belakangan muncul di media sosial. Hal tersebut sontak membuat seluruh masyarakat heboh lantaran pelafalan “Hayya 'alashshalaah” diganti menjadi “Hayya ‘alal jihad” yang memiliki arti “mari berjihad”.

Seperti yang terlihat di kanal youtube Ytrafiq Sofyan terlihat tujuh orang pria tengah mengacungkan golok, sembari salah satu dari mereka mengumandangkan azan di barisan depan.

Saat masuk pelafalan Hayya alal jihad, ke tujuh pemuda tersebut secara serempak langsung mengikuti lafal azan yang dikumandangkan tersebut. Lantas bagaimana kronologi terungkapnya kejadian tersebut, berikut informasi selengkapnya.

2 dari 5 halaman

Ditelusuri oleh Camat Argapura

video azan jihad di majalengka

©2020 Istimewa

Seperti dikutip dari Liputan6, pasca viralnya video tersebut pihak Pemkab dan Polres Majalengka langsung bergerak cepat. Diketahui terbongkarnya video tersebut berdasarkan sebuah banner besar bergambar Habib Rizieq yang terlihat di video dan tertulis Desa Sedasari, Kecamatan Argapura.

Bupati Majalengka Karna Sobahi menyebut dirinya langsung memerintahkan Camat Argapuran untuk menelusuri kasus tersebut. Ia meminta pihak Camat mengambil langkah strategis untuk menanganinya.

"Ya betul, dari laporan Pak Camat Argapura salah satu video viral azan jihad itu salah satunya warga kami. Tapi Alhamdulillah mereka sudah diberikan pengarahan dan sudah mereka menyadari kesalahannya.” terang Karna, Rabu (2/12/2020).

3 dari 5 halaman

Meminta Maaf Secara Terbuka

Setelah tertangkap, tujuh warga yang terlibat langsung diberikan pembinaan serta pengarahan. Mereka pun langsung meminta maaf dengan membuat keterangan tertulis maupun melalui video dan disaksikan oleh Plt Desa Sadasari, Abdul Miskad dan saksi lainnya.

Dari kasus tersebut banyak masyarakat Majalengka yang menyayangkan aksi viral azan dengan seruan jihad, sembari membawa senjata tajam tersebut.

“Alhamdulillah mereka sudah diberikan pengarahaan dan sudah mereka menyadari kesalahannya. Dan malam tadi secara sadar dan sukarela telah membuat pernyataan permohonan maaf secara tertulis dan lisan melalui visual video," tambahnya.

4 dari 5 halaman

Mengaku Khilaf

viral azan jihadPara pelaku meminta maaf ©2020 Kanal Youtube Aabe Channel/editorial Merdeka.com

Menurut pengakuan Anggi Wahyudin didampingi enam rekannya sebagai pelaku azan jihad bahwa dalam pembuatan video tersebut tidak ada maksud untuk menuduh, menyinggung maupun memfitnah siapapun.

Dirinya bersama para pelaku video azan tersebut langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat yang merasa terganggu dengan videonya. Dirinya juga turut meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memaafkan perbuatannya.

"Melalui surat pernyataan ini kami tujuh orang memohon maaf kepada semua pihak, atas video yang sempat viral sebelumnya. Permohonan maaf ini kami sampaikan kepada warga Desa Sadasari, pemerintah desa dan seluruh umat Islam di seluruh tanah air” kata Anggi dan teman-temannya

“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kami mengaku salah dan khilaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal serupa bahkan di lain kesempatan," lanjutnya.

5 dari 5 halaman

Ditanggapi oleh Jusuf Kalla

Seperti dilansir dari Merdeka.com, viralnya azan berisi ajakan untuk jihad di media sosial sebelumnya ditanggapi juga oleh mantan Wakil Presiden Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla.

Menurutnya Azan yang ditambahkan seruan berjihad adalah kekeliruan yang harus diluruskan. Ia pun secara tegas menolak azan tersebut apapun motifnya.

"Azan hayya alal jihad itu keliru, harus diluruskan. DMI menyatakan secara resmi menolak hal-hal seperti itu. Masjid jangan dijadikan tempat untuk kegiatan yang menganjurkan pertentangan," ujar Jusuf Kalla melalui keterangan tertulis yang diterima merdeka.com beberapa waktu lalu.

Selama ini pengertian jihad selalu diartikan untuk membunuh, membom, atau saling mematikan. Seperti kejadian di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang merupakan pelanggaran yang harus dihukum oleh negara. Sehingga dalam kasus tersebut perlu adanya pelurusan makna tentang istilah jihad karena memiliki istilah baik.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami