Acuk Dulag, Tradisi Tahunan Saat Lebaran yang Ancam Keberhasilan PSBB di Sukabumi

Acuk Dulag, Tradisi Tahunan Saat Lebaran yang Ancam Keberhasilan PSBB di Sukabumi
JABAR | 22 Mei 2020 17:14 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Pasca diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap dua di Kota Sukabumi yang berlaku mulai 20-29 Mei 2020, masyarakat di Kota Santri ini diimbau untuk terus menerapkan physical distancing dan membatasi aktivitas di luar rumah.

Namun penerapan PSBB tahap kedua tersebut berbarengan dengan tradisi warga Sukabumi jelang Hari Raya Idul Fitri yaitu Acuk Dulag. Tradisi berburu pakaian yang dipakai untuk Lebaran ini sudah menjadi kebiasaan warga Sukabumi yang dikhawatirkan akan mengancam keberhasilan PSBB.

1 dari 4 halaman

Banyak Warga Berkerumun

psbb sukabumi

Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Salah satu alasan kuat mengapa tradisi tersebut mengancam keberhasilan PSBB adalah karena banyak dari masyarakat Sukabumi yang berburu baju Lebaran tidak mematuhi physical distancing, tetap berkerumun, serta tidak menggunakan masker.

2 dari 4 halaman

Menjaga Tradisi

Ratinah (60), seorang warga Kota Sukabumi mengungkapkan jika setiap jelang Lebaran banyak warga Sukabumi yang diberikan uang oleh anak-anak mereka yang merantau di luar kota dan luar negeri. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga selama Lebaran, termasuk membeli baju baru.

“Ini uang belanja dari anak saya ada di Arab Saudi untuk Lebaran kami di Sukabumi. Sehingga wajib dibelanjakan untuk Lebaran,” ujar Ratinah seperti dilansir dari sukabumiupdate.

3 dari 4 halaman

Kontrol Tradisi jadi Kunci Keberhasilan PSBB

Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi menjelaskan jika pemerintah mengerti bahwa semakin mendekati hari Lebaran, maka tantangan pemutusan mata rantai Covid-19 juga semakin besar. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya masyarakat Sukabumi yang tetap menjalankan tradisi Acuk Dulag di masa pandemi seperti sekarang.

Pemerintah Kota Sukabumi hanya memberi batas waktu operasional pertokoan non pangan termasuk pedagang busana Lebaran dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB selama penerapan PSBB. Toko pangan pasar rakyat dan pasar tradisional bahkan tetap beroperasi seperti biasa.

“Ketika ada satu toko atau pasar swalayan melanggar dengan terpaksa pemkot menutup semua pertokoan. Rencananya setiap hari akan dilakukan evaluasi karena sejatinya PSBB mengurangi pergerakan manusia dan kedua melihat atau menjaga jarak,” ujar Achmad Fahmi dilansir dari laman resmi Pemkot Sukabumi.

4 dari 4 halaman

Imbauan Pemda kepada Masyarakat

ilustrasi berbelanja baju lebaran

©2020 Merdeka.com

Berkaca dari masalah tersebut, Achmad Fahmi pun mengimbau kepada para penjual barang kebutuhan non logistik agar tetap mematuhi arahan untuk melakukan physical distancing serta menutup toko tepat waktu.

“Di mana toko membatasi jumlah pengunjung agar tidak terjadi kerumunan. Mudah-mudahan dengan kedisiplinan Kota Sukabumi pulih dari pandemi Covid-19,” imbuhnya. (mdk/nrd)

Baca juga:
800 Masjid di Kota Bekasi akan Gelar Salat Idul Fitri
Anies: Tidak Ada Zona Merah Kuning Hijau di Wilayah Jabodetabek, Semua Sama
Warga Berdesakan Saat Pembagian Bansos di Kantor Pos Bandung
Pesan Ganjar ke Wali Kota Tegal: Tidak Ada Pesta Kembang Api dan Jangan Lengah
Tindak Pelanggar PSBB, Satpol PP DKI Kumpulkan Pembayaran Denda Rp 350 Juta
Abaikan PSBB, Warga Serbu Pasar Kebayoran Lama Jelang Lebaran

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami