Dampak Depresi bagi Tubuh yang Wajib Diwaspadai, Bisa Sebabkan Masalah Pencernaan

Dampak Depresi bagi Tubuh yang Wajib Diwaspadai, Bisa Sebabkan Masalah Pencernaan
Ilustrasi depresi. ©2015 Merdeka.com/shutterstock
JABAR | 24 November 2021 16:06 Reporter : Andre Kurniawan

Merdeka.com - Depresi adalah kondisi kesehatan mental kompleks yang menyebabkan seseorang memiliki suasana hati yang buruk. Kondisi ini dapat membuat seseorang terus-menerus merasa sedih atau putus asa. Bila gejala depresi ini berlangsung lebih dari 2 minggu, itu bisa menjadi tanda gangguan depresi yang serius.

Gejala depresi yang paling terkenal ada pada emosional, seperti kesedihan, rasa bersalah, mudah marah, dan perasaan putus asa. Gejala lain yang sering muncul bisa berupa kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi pada tugas dan pekerjaan, yang juga dianggap terkait dengan kondisi pikiran seseorang.

Meskipun depresi adalah penyakit mental, kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan fisik Anda. Sakit, kelelahan, dan kegelisahan adalah beberapa dampak fisik yang potensial dari depresi. Meski orang dapat merasakan dampak fisik ini, tetapi mereka mungkin tidak menyadari bahwa depresilah yang menjadi salah satu penyebabnya.

Mengatasi depresi tidak hanya akan membuat mental Anda jadi lebih baik, tapi juga membuat kesehatan tubuh Anda lebih terjaga. Dilansir dari laman Medical News Today, berikut beberapa dampak depresi bagi tubuh yang perlu diwaspadai.

2 dari 4 halaman

Kenaikan atau penurunan berat badan

Dampak depresi bagi tubuh yang pertama adalah naik atau turunnya berat badan. Orang dengan depresi bisa mengalami perubahan nafsu makan, sehingga dapat menyebabkan penurunan atau penambahan berat badan yang bahkan tidak disadari.

Pakar medis telah mengaitkan kenaikan berat badan yang berlebihan dengan banyak masalah kesehatan, termasuk diabetes dan penyakit jantung. Kekurangan berat badan juga dapat membahayakan jantung, mempengaruhi kesuburan, dan menyebabkan kelelahan.

Imunitas

Dampak depresi bagi tubuh yang kedua mempengaruhi sistem imun Anda. Stres juga bisa membuat sistem imun seseorang bekerja kurang maksimal, sehingga mereka jadi lebih mudah sakit. Ketika seseorang dengan sistem kekebalan yang lemah jatuh sakit, mungkin perlu waktu yang lebih lama untuk sembuh.

Beberapa infeksi, seperti flu biasa, umumnya bukanlah masalah serius. Namun, sistem kekebalan yang lemah membuat seseorang berisiko mengalami komplikasi akibat infeksi atau tertular infeksi yang lebih sulit diobati.

Hubungan antara fungsi kekebalan dan depresi masih diteliti. Beberapa penelitian telah berhipotesis bahwa stres kronis dapat menyebabkan respons peradangan yang dapat mengubah cara kerja bahan kimia pengatur suasana hati di otak.

Penyakit jantung

jantung
©2015 Merdeka.com/shutterstock/Available in

Dampak depresi bagi tubuh yang ketiga yaitu penyakit jantung. Depresi dapat menurunkan motivasi seseorang untuk membuat pilihan gaya hidup yang positif. Risiko penyakit jantung mereka meningkat ketika mereka mengonsumsi makanan yang buruk dan memiliki gaya hidup yang tidak banyak bergerak karena putus asa.

Depresi juga dapat menjadi faktor risiko independen untuk masalah kesehatan jantung. Menurut penelitian yang diterbitkan pada tahun 2015, satu dari lima orang dengan gagal jantung atau penyakit arteri koroner mengalami depresi.

3 dari 4 halaman

Peradangan

Dampak depresi bagi tubuh yang keempat adalah peradangan. Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dan depresi terkait dengan peradangan dan dapat mengubah sistem kekebalan tubuh. Penelitian lain menunjukkan bahwa depresi bisa disebabkan oleh peradangan kronis.

Orang dengan depresi lebih cenderung memiliki kondisi peradangan atau gangguan autoimun, seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), diabetes tipe 2, dan radang sendi.

Namun, tidak jelas apakah depresi menyebabkan peradangan atau peradangan kronis membuat seseorang lebih rentan terhadap depresi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara keduanya.

Memperburuk kondisi kesehatan kronis

Dampak depresi bagi tubuh yang kelima yaitu bisa memperburuk kondisi kesehatan kronis. Orang yang sudah memiliki kondisi kesehatan kronis mungkin akan mendapati bahwa gejalanya jadi lebih buruk ketika mereka mengalami depresi.

Penyakit kronis mungkin sudah membuat seseorang menjadi stres, dan depresi dapat memperburuk perasaan ini. Seseorang dengan depresi mungkin juga berjuang untuk mengikuti rencana perawatan untuk penyakit kronis, yang dapat membuat gejala menjadi lebih buruk.

Orang yang mengalami depresi dan penyakit kronis harus berbicara dengan dokter tentang strategi untuk mengatasi kedua kondisi tersebut. Menjaga kesehatan mental dapat meningkatkan kesehatan fisik dan membuat kondisi kronis lebih mudah ditangani.

Sulit tidur

015 siti rutmawati©www.huffingtonpost.ca

Orang dengan depresi juga berpotensi mengalami insomnia atau kesulitan tidur. Kondisi ini dapat membuat mereka merasa lelah, sehingga sulit untuk mengelola kesehatan fisik dan mental. Selain itu, kurangnya waktu tidur juga akan berdampak pada aktivitas mereka sehari-hari.

Dokter menghubungkan kurang tidur dengan sejumlah masalah kesehatan. Demikian pula, penelitian telah menghubungkan kondisi kekurangan tidur jangka panjang dengan tekanan darah tinggi, diabetes, masalah terkait berat badan, dan beberapa jenis kanker.

4 dari 4 halaman

Masalah pencernaan

001 destriyana©2015 Merdeka.com/shutterstock

Orang dengan depresi sering melaporkan masalah perut atau pencernaan, seperti diare, muntah, mual, atau sembelit. Beberapa orang yang mengalami depresi juga memiliki kondisi kronis, termasuk sindrom iritasi usus besar.

Menurut penelitian yang diterbitkan pada tahun 2016, ini mungkin terjadi karena depresi dapat mengubah respons otak terhadap stres dengan menekan aktivitas di hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar adrenal.

Tekanan darah tinggi

Orang yang mengalami depresi mungkin lebih sering mengalami stres. Meskipun bukan satu-satunya penyebab, stres kronis diketahui berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi (hipertensi).

Stres kronis, khususnya, telah dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Dan pada gilirannya, hipertensi meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular, yang meliputi serangan jantung dan stroke.

Berdasarkan banyak bukti yang mendukung hubungan ini, banyak peneliti menganggap depresi sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Masalah kesehatan seksual

Dampak depresi bagi tubuh yang terakhir yaitu bisa sebabkan masalah kesehatan seksual. Orang yang depresi mungkin mengalami penurunan libido, kesulitan untuk terangsang, tidak lagi mengalami orgasme, atau mengalami orgasme yang kurang menyenangkan.

Beberapa orang juga mengalami masalah dalam hubungannya dengan pasangan karena depresi. Hal ini yang dapat berdampak pada aktivitas seksual seseorang.

(mdk/ank)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami