Desa Sitiwinangun dengan Gerabah Kelas Dunia, Ada Sejak Abad 15

Desa Sitiwinangun dengan Gerabah Kelas Dunia, Ada Sejak Abad 15
Gerabah Cirebon Desa Sitiwinangun. ©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki
JABAR | 18 Oktober 2021 19:00 Reporter : Ibrahim Hasan

Merdeka.com - Keberadaan gerabah di Indonesia telah ada sejak zaman Neolitikum atau zaman batu baru pada tahun 3000 hingga 1100 Sebelum Masehi. Ribuan tahun gerabah menghasilkan sentra kerajinan gerabah yang tersebar di Indonesia, salah satunya ialah Gerabah Cirebon. Sentra kerajinan gerabah Cirebon sendiri bermula dari penyebaran agama Islam yang membawa seni keterampilan membuat gerabah, tepatnya pada abad 15.

Sentra pengrajin gerabah ini terletak di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Tepat 15 kilometer dari pusat Kota Cirebon. Sejak saat itu, lambat laun produk gerabah khas Cirebon terkenal akan desain dan kualitasnya yang mendunia. Para warga sekitar mulai beralih, berlatih membuat gerabah secara tradisional di Desa Sitiwinangun yang mulanya memiliki nama Padukuhan Kebagusan.

Hingga akhirnya kini gerabah khas Cirebon mulai melepaskan ketenarannya memenuhi kebutuhan perabot rumah tangga. Mereka yang bertahan punya alasan kuat akan kerajinan warisan leluhur mereka.

gerabah cirebon desa sitiwinangun

©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki


Sang pembawa pengaruh kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun ialah Syekh Dinureja. Seorang ulama penyebar agama Islam yang memiliki nama asli Ki Mas Ratna Gumilang. Pendekatan ajaran Islam yang dilakukan Syekh Dinureja berupa mengajarkan keterampilan membuat gerabah. Sehingga, selain menjadi penyebar dakwah Islam, ia juga meningkatkan taraf hidup warga desa.

Saat itulah Padukuhan Kebagusan diberikan nama oleh Syekh Dinureja sebagai Desa Sitiwinangun. Nama Sitiwinangun memiliki arti yang erat dengan komoditas gerabah khas Cirebon. Siti yang bermakna tanah, dan Winangun memiliki makna dibangun. Mengingat cara membuat gerabah CIrebon dengan membangun dan membentuk gerabah dari tanah liat. Makna yang lebih dalam ialah Sitiwinangun dijadikan sesuatu yang lebih berguna bagi kehidupan.

gerabah cirebon desa sitiwinangun

©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki


Salah satu sudut gudang gerabah Cirebon ini terlihat kuno. Nampak gerabah indah dengan warna cokelat alaminya menambah kesan antik yang sangat mendalam. Beberapa gerabah berjenis gentong, kendi, dan teko dihias dengan motif ulur bunga yang menawan. Uniknya, gerabah Cirebon ini sepenuhnya didesain oleh tangan terampil para pengrajin.
Cara membuat gerabah ini tak cukup mengandalkan keterampilan yang memadai. Namun dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi, sehingga melahirkan seni yang melegenda.

gerabah cirebon desa sitiwinangun

©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki


Teknik utama membuat gerabah khas Cirebon menggunakan metode hand wheel atau teknik memutar gerabah. Membentuknya perlahan hingga membuat rongga di dalamnya. Teknik ini membutuhkan keseimbangan yang luar biasa, salah-salah, tanah akan mudah roboh jika ketebalan dan kekuatan tanah liat tak merata.

Banyak para pengrajin yang mulai beralih profesi yang semula membuat gerabah. Tidak lain ialah faktor perkembangan industri plastik yang menggantikan gerabah sebagai perabot rumah tangga. Masa jaya gerabah Cirebon di antara tahun 1980 hingga 1990. Kala itu tak heran Desa Sitiwinangun mampu menjual gerabah sampai 2 truk tiap bulannya.

Para pengrajin gerabah Desa SItiwinangun saat ini didominasi oleh pekerja lanjut usia. Meskipun tak mampu menjadi pekerjaan utama, namun mereka tetap memproduksi gerabah Cirebon sebagai upaya menjaganya dari kepunahan.

gerabah cirebon desa sitiwinangun

©2021 Merdeka.com/Elyana Dasuki


Saat ini upaya membangkitkan aroma kejayaan gerabah mulai digalakkan. Dibentuknya edukasi gerabah kepada masyarakat untuk mengenalkan gerabah sebagai kerajinan rumah tangga.

Kerajinan gerabah saat ini berupa karya seni patung, bingkai foto, hingga aksesoris sebagai dekorasi rumah lainnya.

Harganya cukup beragam mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 750 ribu. Tergantung bentuk dan ukuran dari kerajinan gerabah tersebut.



(mdk/Ibr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami