Dikenal Baik saat Hidup, Jasad Guru Ngaji di Subang Tetap Utuh Usai 17 Tahun Dikubur

Dikenal Baik saat Hidup, Jasad Guru Ngaji di Subang Tetap Utuh Usai 17 Tahun Dikubur
Jasad guru ngaji di Subang masih utuh usai 17 tahun dimakamkan. ©2022 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
JABAR | 18 Januari 2022 10:08 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Viral di media sosial sebuah fenomena tak biasa saat pemindahan makam di wilayah Dusun Cikadu, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dalam tayangan, terlihat jasad yang diangkat masih utuh meski telah lama dimakamkan. Disebutkan warga, jenazah tersebut merupakan seorang guru ngaji yang telah meninggal 17 tahun silam.

Seperti terlihat, kondisi kain kafan masih seperti dulu. Kondisinya hanya kotor terkena tanah, bagian tubuh pun masih seperti saat awal dimakamkan. Alasan makam dipindahkan karena lokasinya tidak layak, dan dekat dengan kandang kambing.

"Ini dipindahkan ke makam di Pasirnaan, dan pas udah ketemu mayatnya di dalam itu masih utuh dan langsung diangkat," kata penggali kubur setempat, Ace Kosasih saat ditemui wartawan, seperti dilansir dari Youtube Liputan6 SCTV.

2 dari 4 halaman

Jasad Tidak Hancur

jasad guru ngaji di subang masih utuh usai 17 tahun dimakamkan
©2022 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com

Ace mengungkapkan bahwa biasanya mayat yang sudah dimakamkan beberapa bulan kemudian kondisinya sudah hancur, tak tersisa, bahkan dengan kain kafannya. Namun kondisi jenazah yang diketahui bernama Almarhum (Ust) Muhya bin Rudia itu berbeda.

Saat diangkat dari makam lama, posisinya masih belum berubah dengan tangan yang masih sedekap (menumpangkan kedua tangan di atas dada) dan saat diangkat tubuhnya masih keras.

"Kondisinya masih utuh, tangannya masih sedekap, dan tubuhnya masih keras, cuma kulitnya kering kaya pakai air keras," kata pria yang saat ditemui memakai baju biru itu.

3 dari 4 halaman

Dikenal Ahli Ibadah saat Hidup

jasad guru ngaji di subang masih utuh usai 17 tahun dimakamkan©2022 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com

Salah seorang murid almarhum, Ujang Ading menyebut jika saat hidup Muhya bin Rudia memang dikenal sebagai pribadi yang baik. Bahkan ia juga dikenal sebagai ahli ibadah yang sehari-harinya banyak dihabiskan di dalam masjid.

"Beliau memang dikenal baik oleh masyarakat di sini. Kesehariannya juga banyak dihabiskan di dalam masjid," terang Ujang. 

Pemindahan makam juga merupakan inisiatif masyarakat, mengingat lokasi juga kerap dilewati oleh masyarakat sebagai jalan sehingga pihak keluarga memutuskan untuk memindahkannya. 

4 dari 4 halaman

Mengajar Ngaji Turun Temurun

Selain sebagai ahli dalam beribadah, semasa hidup almarhum juga dikatakan Ujang kerap menjadi pengajar ngaji bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Muridnya terdiri dari berbagai generasi sehingga sangat dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat di Dusun Cikadu.

"Dulu beliau banyak mengajar ngaji kepada anak-anak dari generasi ke generasi, bahkan saya dan bapak saya dahulu juga muridnya beliau," terangnya lagi.

Saat ini kondisi makamnya telah rapi dengan dipasang keramik marmer dan batu nisan. Masyarakat di sana juga sepakat menjaga dan menziarahi makam.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami