Filosofi Unik Bambu bagi Warga Citengah Sumedang, Jadi Pelindung dari Bencana

Filosofi Unik Bambu bagi Warga Citengah Sumedang, Jadi Pelindung dari Bencana
Ki Madhari sedang memainkan bambu sebagai kesenian di Desa Citengah Sumedang. ©2021 Tangkapan layar kanal Youtube Lopian Kacapaesan/ editorial Merdeka.com
JABAR | 15 Juni 2021 08:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Masyarakat Kabupaten Sumedang, Jawa Barat masih menjaga berbagai seni dan tradisi para leluhurnya. Salah satunya dilakukan oleh warga Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Masyarakat di daerah tersebut memiliki hubungan harmonis dengan bambu yang memiliki makna filosofi mendalam bagi mereka.

Dilansir dari goodnewsfromindonesia, bambu di Citengah memiliki sumbangsih besar bagi warganya. Selain digunakan sebagai bahan pangan, bambu jugamenjadi medium pelindung dari bencana alam. Seperti apa kisah uniknya?

Berikut informasi selengkapnya.

2 dari 5 halaman

Dijadikan Sebagai Bahan Rumah Tinggal

Salah satu alasan bambu begitu dihormati oleh masyarakat di Desa Citengah lantaran memiliki fungsi yang cukup vital, salah satunya mampu melindungi warga dari panas dan hujan.

Desa tersebut memang terbilang unik. Sebanyak 27 kepala keluarga di sana memanfaatkan bambu sebagai bahan untuk tempat tinggal di rumah panggungnya.

Mereka memanfaatkan bambu untuk dinding bilik serta struktur untuk memperkokoh bangunan kayunya.

"Dalam kehidupan sehari-hari, kami tidak bisa dipisahkan dari alam. Dekatnya hubungan kami dengan alam pun tercermin dari nilai-nilai yang terus diturunkan dari generasi ke generasi di Citengah, salah satunya yakni berkaitan dengan bambu," ungkap Ki Madhari, salah satu tokoh adat di Desa Citengah.

3 dari 5 halaman

Memiliki 9 Jenis Tanaman Bambu

ki madhari sedang memainkan bambu sebagai kesenian di desa citengah sumedang©2021 Tangkapan layar kanal Youtube Lopian Kacapaesan/ editorial Merdeka.com

Sebagai tempat yang memaknai kesakralan bambu, Desa Citengah memiliki 9 jenis bambu yang ditanam di sana.

Dikutip dari data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumedang tahun 2003, kesembilan bambu tersebut adalah bambu tali, bambu haur, bambu gombong, bambu surat, bambu betung, bambu tamiyang, bambu ampel hideung, bambu tali, dan bambu wulung.

Beberapa dari jenis bambu tersebut mampu tumbuh hingga 60 sentimeter dalam satu hari.

4 dari 5 halaman

Mampu Cegah Bencana Desa

Masyarakat di sini begitu memanfaatkan bambu untuk segala kebutuhan, baik untuk pangan (tunas/rebung), kemudian batangnya yang kokoh untuk bangunan, hingga akarnya yang disebut mampu menyimpan cadangan air dan mencegah pergeseran tanah.

Bahkan Ki Madhari menyebut, jika ingin merusak sebuah desa, maka cukup hanya dengan memangkas rumpun bambu yang tersedia.

Amun arek ngaruksak daerah mah cukup ku ngaruntagkeun dapur awi na (kalau ingin merusak alam dan kehidupannya, cukup hanya dengan merusak rumpun bambunya. Karena dulu karuhun kami mewariskan ilmu penggunaan bambu dalam kehidupannya yakni pemanfaatan tanaman tersebut sebagai medium konservasi terkait sistem pengakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat," ungkap Ki Madhari.

5 dari 5 halaman

Tak Bisa Sembarangan Menebang Bambu

warga desa citengah sumedang tengah memainkan kesenian dari bambu©2021 Tangkapan layar kanal Youtube Lopian Kacapaesan/ editorial Merdeka.com

Menurut Ki Madhari, ada pantangan khusus yang wajib ditaati oleh warga setempat saat hendak menebang bambu. Menurutnya, menebang bambu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perlu pemilihan waktu tebang secara khusus, serta lokasi pohon yang terkena matahari langsung.

Menurut Madhari, bambu yang dipilih adalah yang sudah tua dengan warna daun yang kecokelatan.

Untuk waktu tebang biasanya hanya dilakukan saat musim panas, kemudian jam terbaik untuk menebang adalah pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang karena kondisi kadar air di dalam bambu sedang turun. Dengan demikian, bambu yang ditebang akan berkualitas bagus dan tahan lama.

Biasanya bambu di sana banyak dimanfaatkan untuk keperluan alat rumah tangga, alat kerajinan, alat musik, sampai bahan bangunan yang tahan gempa.

Dari situ masyarakat Citengah amat menggantungkan hidup dengan bambu, karena dapat mampu meningkatkan perekonomian warga setempat dengan nilai keleluhurannya.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami