Gunung Sindanggeulis di Purwakarta Terbelah Akibat Tambang, Kata Ahli Ini Dampaknya

Gunung Sindanggeulis di Purwakarta Terbelah Akibat Tambang, Kata Ahli Ini Dampaknya
Gunung Sindanggeulis yang terbelah di Purwakarta. ©2021 Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel/ Merdeka.com
JABAR | 22 September 2021 18:18 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Belakangan ramai diperbincangkan terkait kondisi Gunung Sindanggeulis di Kabupaten Purwakarta, Jawa Baratyang mengkhawatirkan. Gunung andesit tersebut terlihat terbelah dengan celah retakan yang menganga besar akibat kegiatan pertambangan.

Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi melalui akun youtubenya, Kang Dedi Mulyadi Channel langsung meninjau lokasi tambang yang berada di Desa Linggasari, Kecamatan Plered itu.

Dalam tayangan yang diunggah Senin, (20/9) lalu, Dedi berupaya mempertanyakan kondisi sebenarnya Gunung Sindanggeulis kepada tim ahli eksternal yang dipimpin Dr Irvan Sophian, dari Program Studi Geologi Universitas Padjajaran, Bandung.

2 dari 5 halaman

Sudah Ada Pola Retakan Akibat Cuaca

gunung sindanggeulis yang terbelah di purwakarta
Tim ahli geologi dari Unpad bersama Dedi Mulyadi ©2021 Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel/ Merdeka.com

Dalam tayangan itu, Irvan mengatakan jika gunung andesit tersebut memang sudah menciptakan pola retakan sejak awal. Salah satu faktor penyebabnya selain karena ledakan adalah karena cuaca hujan menyebabkan dua buah struktur batu yang berdampingan bergeser.

Menurut Irvan, Gunung Sindanggeulis terbentuk dari dua susunan yakni batuan sedimen lempung (tanah liat) yang bersifat licin saat hujan dan batuan andesit yang berbentuk lebih keras.

“Sebelumnya sudah ada pola belah (retakan) secara alamiah karena terkena hujan. Keduanya bergeser setelah hujan beberapa hari lalu, karena sifat batuan lempung di sana licin saat terkena hujan” terang Irvan bersama tim saat menjelaskan ke Dedi.

3 dari 5 halaman

Potensi Longsor Bisa Dikendalikan

Dalam kesempatan itu, Irvan juga menjelaskan jika keadaan tersebut masih bisa ditangani dengan metode penahan di bagian bawah gunung yang berpotensi longsor.

Menurut pria yang juga Kepala Program Studi Geologi Unpad itu, potensi runtuhan dari sumber retakan yang terbentuk akibat cuaca tadi masih bisa diantisipasi dengan menimbun bagian bawah kaki bukit yang memiliki celah retakan

“Karena ini kegiatan penambangan, biasanya ada upaya penanganan untuk mencegah hal ini. Pencegahan itu berkaitan dengan adanya pembuatan penahan di kaki lereng berupa timbunan, sehingga ketika tumpukan jatuh ke bawah longsoran akan tertahan dan tidak jadi luas” terang dia.

 

4 dari 5 halaman

Penanganan yang Dibutuhkan

gunung sindanggeulis yang terbelah di purwakartaGunung Sindanggeulis yang terbelah di Purwakarta ©2021 Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel/ Merdeka.com

Irvan sendiri menambahkan, keadaan tersebut juga bisa diantisipasi untuk tidak terjadi runtuhan atau longsoran setelah bagian bukit yang jatuh ke bawah tertahan timbunan.

Setelah sisi yang retan berada di bawah, struktur geometri gunung bisa diubah agar kemiringan melandai dan tidak terjadi resiko berikutnya.

“Baru setelah tidak ada pergerakan, baru bisa diubah geometrinya supaya tidak runtuh” tandasnya.

5 dari 5 halaman

Tidak Membahayakan Penduduk

Menanggapi hal ini, Dedi menyimpulkan jika memang terjadi longsor di kawasan tersebut diproyeksikan tidak terlalu berbahaya bagi penduduk di sana.

Hal itu berkaitan dengan lokasi antara celah retakan dengan pemukiman penduduk terbilang jauh dari pemukiman. Sehingga saat runtuh bebatuan serta tanah akan mengarah ke titik di sekitar area tambang.

“Iya ini dia cerita tentang gunung yang ramai itu, dan barusan sudah ada penjelasan ilmiahnya. Artinya ini tidak terlalu berbahaya bagi penduduk karena lokasinya yang jauh, tapi berbahaya bagi para penambang” kata Dedi yang juga mantan bupati Purwakarta ke-8 itu.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami