Guru Besar UI Sebut Media Sosial Timbulkan Masalah Jati Diri, Begini Penjelasannya

Guru Besar UI Sebut Media Sosial Timbulkan Masalah Jati Diri, Begini Penjelasannya
Ilustrasi depresi. ©Pexels
JABAR | 20 Oktober 2021 14:07 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Hadirnya media sosial dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan sejumlah dampak bagi para penggunanya. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari, M.Hum., Psikolog, dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul “Manusia Dalam Era Industri Ke-empat: Isu Kesehatan Mental, Eksistensi, & Psikologi Sebagai Ilmu” Senin (18/20) lalu.

Melansir laman Antara, salah satu permasalahan nyata yang dialami yakni munculnya permasalahan jati diri dan eksistensi dari para pengguna media sosial.

2 dari 4 halaman

Saling Membandingkan Diri

ilustrasi media sosial aplikasi edit foto
Ilustrasi media sosial ©2020 Merdeka.compxhere.com/Mohamed Hassan

Elizabeth mengatakan, jika di dalam bermedia sosial ada dampak tindakan membandingkan diri sendiri dengan pengguna lain. Hal ini tentu akan berdampak terhadap keresahan pribadi yang berkaitan dengan masalah jati diri dan eksistensi. Dari situ, manusia akan menetapkan ukuran nilai diri menjadi lebih superfisial, permukaan, dan shallow.

Penampilan, status sosial, dan kemakmuran dianggap menjadi lebih penting daripada spiritualitas, kedamaian diri, ataupun pengetahuan.

"Ini karena pengguna media sosial cenderung membandingkan diri dengan teman sebaya yang tampil lebih cantik, kaya, lebih banyak teman, lebih keren, pandai, atau lebih internasional di media sosial," kata Elizabeth.

Kesepian Menjadi Penyebab Utama

Ia juga menyebutkan dampak dari bermedia sosial di kalangan anak muda adalah kesepian. Ini terjadi karena di iklim tersebut, komunikasi tidak perlu selalu dengan tatap muka. Sedangkan beberapa unsur komunikasi tidak dapat digantikan selain kegiatan bertemu langsung, seperti ikatan emosional, kehangatan, dan kemampuan membaca situasi-kondisi.

Kemampuan-kemampuan ini tidak dilatih dalam interaksi maya, sehingga kemampuan bersosialisasi manusia menjadi berkurang dan menimbulkan dampak kesepian.

"Rasa sepi juga menjadi salah satu dampak sosial tertinggi yang terjadi di kalangan anak muda," katanya.

3 dari 4 halaman

Menganggap Sesuatu di Media Sosial Selalu Lebih Baik

Elizabeth meneruskan, adanya sifat anonimitas (tidak bernama) dalam interaksi dunia maya juga mengakibatkan para pengguna media sosial dapat melepaskan sisi-sisi agresifnya tanpa harus bertanggung jawab .

Fenomena itu yang kemudian memicu sisi negatif lainnya, salah satunya cyber bullying. Belum lagi kecemasan kolektif yang kini kerap terjadi karena arus informasi yang semakin cepat dan tidak tersaring.

"Teknologi menyebabkan saat ini terjadi suatu kondisi di mana kita tidak bisa lagi membedakan antara mana yang real (nyata) dan mana yang merupakan pencitraan semata. Ini menjadi sebuah isu tersendiri di era digital ini. Virtualitas menjadi realitas. Inilah yang kita sebut kondisi hiperrealitas," katanya menjelaskan.

Menyebabkan Pemikiran Menjadi Sempit

Kondisi ini menyebabkan orang akan terjebak pada pandangan fiksi yang dibangun dirinya sendiri melalui pencitraan diri yang ditampilkan dalam gambar, berita-berita yang tampil di beranda media sosial, maupun komentar yang muncul dari unggahan.

Itu yang kemudian membuat manusia cenderung berpikir sempit, serta terjebak dalam pemikiran, dan “realita” dirinya sendiri.

Kehidupan yang terisolasi dan egosentris ini juga terbukti menjadi satu dari sekian penyebab munculnya fenomena bunuh diri, dan keinginan menyakiti diri sendiri, yang meningkat dalam 10 tahun terakhir.

4 dari 4 halaman

Solusi yang Ditawarkan

Dari semua fenomena tersebut, Elizabeth menyimpulkan jika psikologis dan mental manusia sebenarnya belum siap menerima dampak jangka panjang dari ciptaan yang telah dibuatnya sendiri.

Sehingga menurutnya, masyarakat masa depan harus diperkenalkan pendidikan baru bernama “pedagogi posthumanisme”, yaitu kurikulum pembelajaran yang diarahkan untuk membantu manusia menangkap unsur filosofis dan isu kompleks dari interaksi di ruang daring.

Ia menambahkan, di kurikulum ini, penekanan akan diintenskan pada diskusi mengenai topik-topik khas manusia seperti autonomi, kehendak bebas, relasi antar individu, antar kelompok, dan kaitannya dengan kondisi global.

"Pendidikan tinggi perlu menghasilkan lulusan yang berpikir dengan bijak untuk dapat membangun dunia bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang lain dan generasi mendatang. Ada sifat altruisme yang harus diajarkan kepada individu, agar mereka tidak terjebak pada dunia dan realitasnya sendiri. Ini berlaku di semua bidang ilmu, termasuk ilmu psikologi," ujarnya.

(mdk/nrd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami