Imbas Munculnya Klaster Covid-19 di SDN Sukadamai 2 Bogor, DPRD Sarankan 5 Hal Ini

Imbas Munculnya Klaster Covid-19 di SDN Sukadamai 2 Bogor, DPRD Sarankan 5 Hal Ini
Ilustrasi Covid-19. Liputan6 ©2020 Merdeka.com
JABAR | 23 November 2021 08:45 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Klaster Covid-19 belum lama ini muncul di SDN Sukadamai 2, Kota Bogor, Jawa Barat, usai 24 warga sekolah yang terdiri dari guru dan murid terkonfirmasi positif.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD setempat, Atang Trisnanto meminta Pemkot Bogor melakukan lima langkah penanganan di sekolah tersebut guna mencegah kembali meluasnya sebaran virus yang diduga berasal dari Tiongkok itu.

"Ditemukannya kasus positif di SDN Sukadamai ini menunjukkan bahwa penyebaran Covid-19 masih ada, sehingga antisipasi maupun mitigasi harus tetap dilakukan," kata Atang di Kota Bogor, Senin (22/11/2021), melansir dari ANTARA.

2 dari 4 halaman

Lima Langkah Penanganan

ilustrasi corona
©2020 Merdeka.com/shutterstock

Atang menguraikan, kelima langkah tersebut yang pertama adalah perlunya penegakkan disiplin protokol kesehatan (prokes) di berbagai tempat publik, termasuk di sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM).

Selanjutnya, prosedur tetap (protap) penanganan terhadap pasien harus konsisten. Jika ada yang positif, kata Atang perlu dilakukan isolasi dan dihentikan sementara PTM di sekolah tersebut guna dilaksanakan penelusuran (tracing) hingga perawatan (treatment).

Kemudian, persiapkan langkah mitigasi dari berbagai pihak di sekolah, satgas Covid-19, rumah sakit, dan tempat isolasi. Keempat, pelaksanaan vaksinasi harus terus dijalankan sebagai langkah membangun kekebalan kelompok (herd immunity).

3 dari 4 halaman

Kelengkapan Fasilitas Penunjang Harus Diperhatikan

Terakhir Atang mengimbau perlunya peningkatan fasilitas kesehatan di RS dan Puskesmas. Pengalaman puncak gelombang kedua pada pertengahan tahun 2021 bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki dan melengkapi fasilitas kesehatan di Kota Bogor.

Menurutnya, puluhan kasus positif yang baru terjadi ini bukan berarti herd immunity. Hal itu dikarenakan, Covid-19 memang tidak bisa hilang sebagaimana influenza yang pernah jadi pandemi di tahun 1918.

"Usaha kita adalah bagaimana masyarakat punya kekebalan ketika terserang Covid-19, sehingga pandemi berubah menjadi endemi seperti penyakit-penyakit lain," katanya.

4 dari 4 halaman

Langkah Penanganan yang Dilakukan

Dalam pelaksanaan PTM terbatas sendiri, pihak dinkes telah melakukan penyaringan sampel sebagai upaya mendeteksi sebaran virus setiap satu bulan sekali.

Di masa awal penerapannya telah ditemukan 5 kasus positif Covid-19. Pada Rabu (17/11) turut dilakukan skrining 50 sampel tes usap PCR yang terdiri atas 29 siswa dan 21 guru di SDN Sukadamai 2 oleh Puskesmas Mekarwangi.

Dari hasil laboratorium ternyata pihak dinkes menemukan ada 24 orang terkonfirmasi positif, hingga pemkot langsung mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara PTM terbatas di sekolah tersebut.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto sebelumnya telah menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk melakukan observasi selama 10 hari kepada 24 orang pasien positif Covid-19 yang mayoritas tanpa gejala di SDN Sukadamai 2. Ia juga meminta untuk dilakukan penelusuran terhadap 200 orang yang mungkin pernah kontak erat dengan pasien positif tersebut.

Bima Arya juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memantau jika ada yang bergejala.

(mdk/nrd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami