Melihat Eksistensi Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu Cimahi, Patuh Tak Makan Nasi

Melihat Eksistensi Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu Cimahi, Patuh Tak Makan Nasi
Kampung Cireundeu Cimahi. ©2021 YouTube Buana Sagara TV/ Merdeka.com
JABAR | 16 Desember 2021 10:12 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Sepintas Kampung Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, tak jauh berbeda dari pemukiman lainnya. Deretan rumah penduduk dibangun modern.

Namun, jika dilihat lebih jauh, pengunjung akan mendapati kentalnya nuansa kepercayaan leluhur yang diwariskan bernama Sunda Wiwitan.

Ada fakta unik yang saat ini masih terus dijaga oleh masyarakat Cireundeu. Mereka dilarang memakan nasi, karena perintah leluhur. Berikut kisah Sunda Wiwitan di kampung tersebut:

2 dari 4 halaman

Bersinergi dengan Teknologi

kampung cireundeu cimahi

©2021 YouTube Buana Sagara TV/ Merdeka.com

Walau masyarakat di Cireundeu masih memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan, namun masyarakat di sana tetap terbuka dengan perkembangan zaman.

Sebagaimana dimuat di laman cimahikota.go.id, sinergisitas tersebut terlihat dari prinsip yang dianut hingga saat ini yaitu “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman”. Arti “Ngindung Ka Waktu” ialah warga kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing.

Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” memiliki arti masyarakat Kampung Adat Cireundeu tidak menentang akan munculnya perubahan zaman. Mereka senantiasa mengikuti perubahan tersebut seperti memiliki televisi, alat komunikasi handphone, serta teknologi penerangan.

Tak Memakan Nasi

Dalam kesehariannya, warga Cireundeu tidak mengonsumsi nasi dari beras, sebagai makanan pokok. Masyarakat di kampung ini mengikuti anjuran leluhur untuk mengonsumsi singkong.

Tradisi ini merupakan upaya penghormatan terhadap nenek moyang di masa penjajahan, di mana saat itu beras disita oleh penjajah. Karena itu, banyak warga Cireundeu menanam singkong.

Prinsip ini tertuang dalam falsafah Cirendeu yang berbunyi “Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.”

“Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Dapat Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat.”

3 dari 4 halaman

Menjaga Alam

kampung cireundeu cimahi©2021 YouTube Buana Sagara TV/ Merdeka.com

Tak jauh berbeda dengan Sunda Wiwitan di Baduy, warga Cirendeu hingga saat ini tetap menjaga keutuhan alamnya. Setidaknya ada tiga tempat yang harus dijaga oleh warga di sana yakni Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan dan Leuweung Babadan.

Leuweung Larangan (hutan terlarang), merupakan kawasan alam yang tidak boleh ditebang pepohonannya. Tujuannya untuk menjaga suplai air untuk kehidupan warga adat Cireundeu.

Leuweung Tutupan (hutan reboisasi) adalah area hutan yang digunakan untuk reboisasi. Di sini warga setempat bisa memakai hutan tersebut untuk keperluan sehari-hari, dengan catatan area yang dipergunakan harus ditanam kembali dengan pohon baru.

Leuweung Baladahan (hutan pertanian) yaitu hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkong atau ketela, dan umbi-umbian.

Perbedaan dengan Sunda Wiwitan di Baduy

Dilansir dari ANTARA, walaupun sama-sama menganut ajaran Sunda Wiwitan, ada perbedaan mendasar dari Sunda Wiwitan di Cireundeu dengan di Baduy. Masyarakat Baduy merasa kepercayaan mereka sakral, sehingga harus dijaga dengan tidak keluar masuk desa sembarang.

Berbeda dengan di Cireundeu, warga setempat bebas keluar masuk dan menerima tamu dari luar tanpa khawatir akan hukum adat.

Selain itu, perbedaan lainnya terlihat dari sosok yang dihormati oleh warga. Di mana Suku Baduy sangat menjunjung tinggi Dewi Sri sebagai pemberi berkah melalui padi, beras maupun nasi. Sedangkan di Cireundeu, padi hingga nasi sangat dihindari dan diganti singkong.

4 dari 4 halaman

Agama Sunda Wiwitan

Masyarakat adat di kampung ini adalah bagian dari Sunda Wiwitan yang tersebar di daerah Cigugur, Kuningan, Cirebon, dengan nama Agama Djawa Sunda (ADS), yang juga bagian dari Sunda Wiwitan di Suku Baduy Kanekes (Lebak,Banten), Kasepuhan di Cipta gelar (Banten Kidul, Sukabumi), Cisolok-Sukabumi, Kampung Naga Tasikmalaya.

Sunda Wiwitan berasal dari kata sunda dan wiwitan (asal) yang berarti Sunda asal atau Sunda asli atau disebut juga agama Jati Sunda. Kepercayaan tersebut diyakini sebagai agama yang besar.

Sunda Wiwitan berkaitan dengan kebiasaan leluhur bangsa yang sangat peduli terhadap alam dan sopan santun. Adapun pandangan masyarakat adat Cireundeu terhadap agama adalah ageman (pegangan) untuk tuntunan hidup (keselamatan) yang tidak bisa lepas dari pemaknaan budaya.

Agama ini dulunya dikenalkan oleh salah seorang tokoh asal Cirebon bernama Sadewa Alibasa Koesoema Widajayaningrat atau lebih dikenal sebagai Pangeran Madrais. Mulanya, Sunda Wiwitan merupakan penggabungan dari tata cara beribadah, kebatinan, filosofis, serta budaya masyarakat Jawa dengan tradisi leluhur Sunda di masa lampau.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami