Melihat Prosesi Pernikahan Batu di Girimukti Majalengka, Cara Unik Meredam Konflik

Melihat Prosesi Pernikahan Batu di Girimukti Majalengka, Cara Unik Meredam Konflik
Kawin Batu Majalengka. ©2021 Youtube Bolokotono TV/Merdeka.com
JABAR | 14 Desember 2021 09:39 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Lazimnya prosesi atau acara pernikahan dilakukan oleh sepasang kekasih. Namun di Desa Girimukti, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, prosesinya terbilang unik karena dilakukan oleh dua buah batu dari pegunungan.

Sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bolokotono TV, Selasa (14/12), kisah pernikahan keduanya pun mirip dengan manusia yakni dirayakan dan disaksikan oleh seluruh masyarakat desa.

Bukan tanpa alasan acara tersebut dilakukan. Konon menurut kepercayaan masyarakat setempat, prosesi tersebut merupakan simbol persatuan dan bisa meredam konflik warga. Berikut informasinya.

2 dari 4 halaman

Diadakan Setiap Bulan Desember

kawin batu majalengka

©2021 Youtube Bolokotono TV/Merdeka.com

Berdasarkan kebiasaan, pelaksanaan pernikahan batu (atau warga biasa menyebut Kawin Batu) diadakan rutin setiap tahun di bulan Desember. Tajuk acara pun diberi nama Festival Kawin Batu. Dalam perayaannya, sejumlah kesenian khas kota angin tersebut kerap ditampilkan. Salah satunya Gamelan Sorawatu (Suara Batu) yang dibuat dari batu andesit.

Dalam rangkaiannya, batu-batu andesit akan disusun rapi di atas beberapa buah bambu berkain putih, dengan diiringi suara gamelan. Pelaksanaannya sendiri dilakukan selama dua hari, di kawasan puncak Gunung Tilu dan memiliki ketinggian 1.076 mdpl di atas permukaan laut.

Selain itu, acara pernikahan batu juga dihadiri para tokoh masyarakat setempat dengan berbusana adat dari Majalengka.

3 dari 4 halaman

Meredam Konflik Warga

kawin batu majalengka©2021 Youtube Bolokotono TV/Merdeka.com

Panitia pelaksana, sekaligus pegiat dari Padepokan Seni Kirik Nguyuh, Baron mengatakan, bahwa upacara kawin batu merupakan wujud persatuan dari warga di wilayah Kasokandel, Majalengka.

Ia menjelaskan, dari sakralnya pelaksanaan kawin batu, ada pesan persatuan yang ingin disampaikan walaupun antar sesama manusia memiliki rencana maupun pemikiran yang berbeda satu sama lain.

Hal itu bisa terlihat dari lamanya proses peciptaan batu, dari yang sebelumnya bukan berbentuk padat. Selain itu, batu juga merupakan bentuk ekspresi dari masyarakat di Girimukti.

4 dari 4 halaman

Bentuk Advokasi Alam

kawin batu majalengka©2021 Youtube Bolokotono TV/Merdeka.com

Kemudian terdapat makna lain dari dilangsungkannya prosesi kawin batu, yakni sebagai wujud advokasi terhadap alam.

Alat musik Sorawatu yang diciptakan Baron bersama anggota padepokan Kirik Nguyuh, mencoba membawa alunan nada batu pentatonis yang indah dan diharapkan menjadi pengingat agar manusia bisa menjaga alam.

Untuk tahun 2021 ini, Festival Kawin Batu hanya dilangsungkan secara sederhana di Padepokan Kirik Nguyuh dengan pembatasan protokol kesehatan.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami