Mengenal Suluhan, Taktik Perang Warga Cirebon Usir Belanda Pakai Obor & Kunang-Kunang

Mengenal Suluhan, Taktik Perang Warga Cirebon Usir Belanda Pakai Obor & Kunang-Kunang
Tokoh perang kedongdong Cirebon. ©2022 YouTube Jendol TV/ Merdeka.com
JABAR | 17 Januari 2022 08:15 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Siasat perang rakyat Indonesia banyak ditakuti militer Belanda kala itu. Mereka bisa melakukan perlawanan tanpa diketahui, salah satunya melalui strategi Suluhan oleh pejuang di wilayah Cirebon, Jawa Barat, tahun 1802-1818 Masehi.

Melansir laman syekhnurjati.ac.id dalam Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Minggu (16/1), di masa itu terjadi pemberontakan besar antara warga sekitar dengan kelompok penjajah. Hal ini merupakan sikap tidak puas dari eksploitasi ekonomi-politik dua pemimpin tertinggi Hindia Belanda, Herman Willem Daendels dan Letnan Jenderal Thomas Stamford Raffles.

Atas kuasa keduanya, peran Kiai serta tokoh agama yang amat dihormati oleh masyarakat di sana kian terpinggirkan. Penduduk yang mayoritas para santri merasa geram hingga melakukan perlawanan lewat perang Kedongdong.

Konon dalam peristiwa itu Belanda dibuat ketar-ketir, karena adanya taktik Suluhan yang tak tertebak. Berikut rangkuman informasi tentang Suluhan.

2 dari 4 halaman

Menggunakan Obor dan Kunang-Kunang

tokoh perang kedongdong cirebon
Ki Bagus Rangin, pejuang perang kedongdong di Cirebon

©2022 YouTube Jendol TV/ Merdeka.com

Dalam Zamzami Amin, dkk, Baban Kana (2015:200), "Sejarah Pesantren Babakan Ciwaringin dan Perang Nasional Kedongdong 1802-1919", perang kedongdong merupakan salah satu perang terdahsyat di masa itu, di mana turut melibatkan sejumlah golongan masyarakat seperti petani, pejabat kerajaan hingga tokoh dari pesantren.

Dalam perang tersebut dipimpin oleh dua orang tokoh bernama Ki Bagus Rangin, dan Ki Bagus Serit. Mereka kerap menyuarakan perlawanan terhadap muslihat penjajah yang menipu rakyat. Dalam melakukan perlawanan turut digunakan strategi Suluhan untuk mengelabui Belanda.

Suluhan berasal dari kata Suluh yang artinya api (dalam obor), yang kemudian dinyalakan secara berjajar di sepanjang jalan wilayah Cirebon. Hal itu untuk menipu, seolah-olah warga Cirebon telah siap menyerang saat malam buta.

Guna semakin meyakinkan, turut disebar ratusan kunang-kunang dari hutan di kegelapan yang bagi Belanda seolah-olah terlihat sebagai rakyat yang maju menyerang.

3 dari 4 halaman

Mampu Habiskan Peluru Senjata Belanda

Dalam laman historyofcirebon, diketahui strategi suluhan cukup efektif dalam memukul mundur musuh. Sebabnya dari obor serta kunang-kunang yang dilepaskan pejuang, Belanda langsung melepaskan tembakan hingga meriam ke arah obor yang menyala.

Di sana pejuang masih terus bersembunyi di balik hutan, sampai peluru dari senjata Belanda habis. Saat suara tembakan, dan meriam sudah tidak terdengar, pasukan rakyat Cirebon lantas balik menyerang dengan menggunakan alat seadanya seperti panah, pisau hingga golok. Seketika pasukan Belanda yang kehabisan senjata lari tunggang langgang.

Perang yang berlangsung selama 16 tahun itu memang tidak terjadi setiap hari, beberapa strategi pun turut digunakan salah satunya gerilya yang tak tak kalah ampuh dalam membunuh tentara Belanda saat berperang di tengah hutan.

4 dari 4 halaman

Belanda Ancam Ledakkan Makam Sunan Gunung Jati

Sementara itu, pasukan Belanda yang mulai kewalahan turut menyusun strategi agar pemberontakan kedongdong bisa segera diakhiri.

Selama beberapa waktu mereka mengamati kelemahan pasukan Cirebon, hingga pasukan Belanda menemukannya lewat makam Sunan Gunung Jati sebagai tokoh yang paling dihormati di sana.

Taktik licik pun disusun, yakni dengan mengancam akan mengebom makam Sunan Gunung Jati ketika para pejuang tidak menghentikan pemberontakannya. Dalam pertempuran tersebut Ki Bagus Rangin pun tertangkap, dan dipenggal kepalanya di tepian sungai Cimanuk.

 

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami