Penyebab Anak Tantrum yang Penting Diketahui, Berikut Cara Mengatasinya

Penyebab Anak Tantrum yang Penting Diketahui, Berikut Cara Mengatasinya
Ilustrasi Anak Tantrum. ©Parents.com
JABAR | 1 Juli 2022 13:16 Reporter : Novi Fuji Astuti

Merdeka.com - Menjadi orang tua merupakan tugas yang tak mudah, selain menjamin nutrisi anak terpenuhi dengan baik, sebagai orang tua kita juga kerap dituntut bersikap bijak terlebih saat anak mengalami tantrum. Definisi tantrum menurut Kamus Perkembangan Anak adalah luapan kemarahan atau kekesalan yang sebenarnya dapat terjadi pada semua orang.

Namun, pada saat membicarakan tantrum, mereka biasanya membicarakan tentang sesuatu yang spesifik yaitu sebagai luapan kemarahan pada anak kecil. Perilaku temper tantrum ini biasanya mencapai puncaknya pada usia 18 bulan sampai dengan 3 tahun, bahkan kadang masih dijumpai anak usia lima tahun sampai dengan enam tahun yang mengalami tantrum.

Untuk mencegah anak tantrum, penting bagi orang tua untuk tahu mengenai penyebab tantrum itu sendiri, berikut cara mengatasinya telah dirangkum merdeka.com melalui healthline dan berbagai sumber lainnya.

2 dari 4 halaman

Penyebab Anak Tantrum

Secara umum perilaku tantrum dapat diklasifikasikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan oleh seorang anak untuk keluar dari kondisi ketidaknyamanannya. Temper tantrum juga bisa diartikan sebagai salah satu ciri anak bermasalah dalam perkembangan emosi seperti marah berlebihan, ingin merusak diri, dan barang-barangnya, tidak dapat mengungkapkan apa yang diinginkan, takut yang sangat kuat sehingga mengganggu interaksi dengan lingkungannya. Juga sering kali memperlihatkan malu hingga menarik diri dari lingkungan, dan hipersensitif maksudanya sangat peka sulit mengatasi perasaan tersinggungnya, dan pandangannya cenderung negatif bersikap murung.

Salah satu aspek yang bisa menjadi penyebab anak tantrum adalah ketidakonsistenan orang tua dalam menerapkan aturan. Orang tua membuat sebuah aturan, tetapi tidak kuat mempertahankan aturan tersebut karena adanya perilaku anak yang menuntut secara sangat emosional.

Sebagai contoh penyebab anak tantrum adalah ketika orang tua mulai melarang anak untuk membeli permen akan tetapi larangan tersebut dapat berubah akibat akasi "demonstrasi" anak melalui tindak-tindakan ekstrim seperti menangis keras, meraung-raung, memukul dan mencakar dirinya sendiri dan masih banyak lainnya.

Di sini lah perlunya orang tua mengendalikan emosi dan menguasai dirinya ketika anak berperilaku tantrum. Orang tua perlu menyadari bahwa tantrum pada anak adalah perilaku universal dan normal yang dapat dialami oleh setiap anak, sehingga perlu direspon secara wajar.

3 dari 4 halaman

Ciri-Ciri Perilaku Tantrum

Setelah mengetahui penyebab anak tantrum, kamu juga perlu tahu mengenai ciri-ciri perilaku tantrum itu sendiri.

Berikut ini merupakan ciri-ciri perilaku tantrum yang sering terjadi pada anak usia dni yaitu:

  1. Suka cemberut dan mudah marah. Anak dengan perilaku temper tantrum biasanya menunjukkan sikap suka cemberut dan mudah marah saat sedang bermain dengan teman-temannya.
  2. Suka mengamuk. Anak dengan perilaku temper tantrum akan mengamuk jika keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya atau pendidik PAUDnya.
  3. Suka menyakiti dirinya sendiri.  Anak dengan perilaku temper tantrum memiliki kelemahan dalam mengendalikan emosinya, sehingga meluapkannya dalam bentuk kemarahan yang berlebihan.
4 dari 4 halaman

Cara Mengatasi Anak Tantrum

Bukan hanya penyebab anak tantrum dan ciri-cirinya, kamu juga perlu memahami bagaimana cara mengatasi anak tantrum dengan baik dan benar agar tidak menimbulkan trauma dalam diri anak-anak.

Berikut ini cara mengatasi anak tantrum yaitu sebagai berikut:

  1. Ibu harus tetap tenang. Jika ibu merasa emosi sebaiknya menjauh terlebih dahulu. Pastikan saat bicara dengan anak sudah dalam keadaan tenang agar kata-kata yang keluar tidak membuat anak mengalami trauma dikemudian hari.
  2. Berkaitan dengan kata-kata yang diucapkan oleh ibu kepada anak pastikan tidak menghakimi perilaku anak seperti " cuma bayi yang masih menangis" atau "berhenti menangis".
  3. Bantu anak untuk belajar mengendalikan emosinya dengan baik.
  4. Menerapkan jadwal teratur pada anak baik waktu istirahat, waktu makan maupun bermain agar emosi anak terjaga dengan baik.
  5. Penerimaan diri yang kuat jika posisi kita menjadi orang tua tetap harus memberi contoh sebaik mungkin kepada anak dan menjelaskan situasi apa pun secara pelan-pelan.

(mdk/nof)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini