Perintah Leluhur, Ini Alasan Warga Betawi Pantang Bangun WC dan Sumur di Dalam Rumah

Perintah Leluhur, Ini Alasan Warga Betawi Pantang Bangun WC dan Sumur di Dalam Rumah
Ilustrasi toilet. ©2012 Shutterstock/jannoon028
JABAR | 24 November 2021 13:01 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Sebagai salah satu fasilitas, wc atau sumur acapkali dibutuhkan oleh seluruh penghuni rumah untuk keperluan mandi dan cuci kakus (MCK). Para pemilik rumah tak jarang membangun mcknya di dalam bangunan rumah agar mudah diakses.

Namun bagi masyarakat Betawi di wilayah Ibu Kota Jakarta, membangun fasilitas kamar mandi yang letaknya erada di dalam rumah merupakan pantangan yang masih dipercaya hingga kini.

Hal ini terkait perintabh dari para leluhur yang ternyata memiliki alasan baik bagi para penghuni di sana. Melansir YouTube Candriyan Atahiyyat Rabu (24/11), berikut ulasannya.

2 dari 3 halaman

Menghindari Terkena Najis

hantu
Ilustrasi Sumur © BelleWood Garden

Salah satu arsitek yang juga warga Betawi, Dorri Herlambang, mengatakan jika para orang tua di masa lampau amat menjaga kebersihan dari sebuah rumah yang ditinggalinya. Hal itu akan mempengaruhi penempatan posisi kamar mandi dari rumah tersebut.

Menurut Dorri, warga Betawi cukup meyakini bahwa najis atau kenajisan akan dimungkinkan terbawa saat posisi wc atau sumur berada di dalam rumah.

"Kalau soal toilet, wc atau kamar mandi itu, emang dulu-dulu orang Betawi bikin sumur di belakang. Dia misah sama bangunan utama, sampai ada istilah kasur, dapur dan sumur. Dan kalau ditarik, kenapa dia di belakang karena itu ada persoalan najis, sehingga dipisah pendiriannya" terang Dorri.

Terkait Kesehatan Penghuni Rumah

Kemudian alasan utama lain yang menjadi penyebab posisi wc atau kamar mandi yang berbeda dengan era sekarang (berada di dalam rumah) adalah karena terkait kesehatan.

Dorri mengungkapkan, masalah kotor dan bau yang kerap ditimbulkan dari penempatan posisi wc atau kamar mandi di dalam bangunan utama menjadi salah satu perhitungan penempatan lokasi pendirian.

"Kemudian ada juga persoalan kebersihan bahkan juga bau mungkin ya, maka kemudian pembuatan wc atau kamar mandinya dipisahkan" terangnya lagi.

3 dari 3 halaman

Membutuhkan Ruang yang Besar

ilustrasi toilet
©2012 Merdeka.com/Shutterstock/Jaochainoi

Selain itu karena zaman dahulu masyarkat Betawi banyak menggunakan sumur timba dan sumur sengget (menggunakan kayu panjang untuk menarik ember dari dasar), sehingga dibutuhkan penempatan ruang yang besar dan luas seperti di belakang rumah.

Hal serupa juga menjadi alasan mengapa wc atau kamar mandi tidak boleh di dalam, karena buangan limbah bisa langsung jatuh ke empang (kolam buatan) atau sumur buatan yang bermuara ke cubluk (septiktank tradisional) di luar rumah.

"Untuk yang luas tanah rumahnya masih kisaran 200 meter gitu ya, masih bisa itu sumur/wc dipisahin di belakang. Apalagi sumur zaman dulu kan ya masih ditimba atau disengget, yang mana dia butuh ruang yang besar. Di sisi lain, sistem pembuangan langsung dari wc itu kalau tidak ke cubluk ya ke empang (yang juga butuh lahan besar)" kata dia.

Tradisi Bergeser karena Keterbatasan Ruang

Adapun untuk saat ini, masyarakat Betawi sudah mulai jarang yang membuat kamar mandi dan sumur terpisah dari bangunan utama rumah akibat terbatasnya lahan. Mereka pun mulai membangun sarana MCK di dalam rumah, dengan posisi septiktank yang berada di halaman depan.

Selain itu, sumur milik warga setempat juga sudah bisa dibangun di ruang-ruang sempit dengan bantuan penyaluran air melalui mesin pompa listrik.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami