Sambas Mangundikarta, Penyiar Radio Ulung Bandung yang Mampu 'Hipnotis' Pendengar

Sambas Mangundikarta, Penyiar Radio Ulung Bandung yang Mampu 'Hipnotis' Pendengar
Sambas Mangundikarta. ©2022 brilio.net & Instagram @ngarumus_official/Merdeka.com
JABAR | 14 September 2022 12:22 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Nama Sambas Mangundikarta, mungkin sudah tidak asing bagi pendengar Radio Republik Indonesia (RRI) di tahun 1950 sampai awal 1960. Ia biasa membawakan acara olahraga, dan meliput langsung di lapangan. Suaranya yang bernada bariton, dan penuh karakter kerap membuat pendengar di seantero Indonesia terhipnotis.

Sambas memang dikenal sebagai penyiar radio ulung. Ia mampu menghadirkan suasana di lapangan, hanya melalui suara. Biasanya, Sambas mewartakan pertandingan sepak bola hingga bulu tangkis dengan santai dan detail.

Perjalanan pria kelahiran Bandung, 21 September 1926 ini tak bisa dibilang singkat. Sebelum menjajaki dunia penyiaran, Sambas yang kerasan disapa Daddy ini pernah menjadi anak buah dari Jenderal Dr. Mustopo, termasuk menjadi pencipta lagu-lagu daerah berbahasa Sunda.

2 dari 5 halaman

Mendirikan Radio Perjuangan Jawa Barat

makna lagu jawa barat manuk dadali

Sambas Mangundikarta dan notasi lagu Manuk Dadali ©2021 brilio.net/editorial Merdeka.com

Dilansir dari Instagram @ngarumus_official, Rabu (14/9), sebelum mengukir karier di RRI, Sambas sempat menuangkan kecintaannya di dunia penyiaran saat menjadi penyiar Radio Perjuangan Jawa Barat. Di saat yang sama, dirinya masih mengabdi sebagai anak buah dari Jenderal Dr. Mustopo, yang merupakan pejuang kemerdekaan antara tahun 1946 sampai 1949.

Tak berapa lama, ia kemudian pindah ke Madiun dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur karena situasi negara saat itu yang darurat pasca perang revolusi. Di sana, ia pernah ditahan oleh pasukan komunis di Ngawi.

Saat perlahan situasi mulai kondusif tahun 1950, ia kemudian hijrah ke Jakarta untuk membantu RRI Studio dalam bidang musik bersama Hamid Arif di Orkes Dupa Nirmala, pimpinan Ping Astono.

Dari sana karier gemilangnya di dunia penyiaran radio dimulai. Ia diangkat sebagai penyiar radio RRI di Bandung sebagai reporter dan pembawa berita, dua tahun kemudian.

3 dari 5 halaman

Berkesempatan Meliput Perhelatan Bergengsi

Di tahun 1954 hingga 1955, Sambas dipindah tugaskan ke RRI Samarinda. Kemudian, di tahun 1956 hingga 1958, ia membantu RRI Cirebon dan di tahun 1959, dia baru memulai kariernya di RRI Jakarta.

Sebagai penggemar olahraga, dirinya memang menaruh minat pada bidang tersebut dengan menekuni reportase olahraga. Ia juga sering diterjunkan untuk meliput di lapangan Ikada hingga yang paling berkesan ketika meliput Piala Thomas yang pertama diselenggarakan di Indonesia tahun 1961.

Satu tahun setelahnya, di 1962, televisi pertama di Indonesia bernama TVRI berhasil mengudara. Ia kemudian ditarik ke TVRI untuk meliput perhelatan Asian Games ke-IV yang dilangsungkan di Jakarta.

Beberapa perhelatan internasional juga telah ia liput, seperti Thomas Cup di Kuala Lumpur (1970), All England (1976, 1977 dan 1981), Pre World Cup di Singapura (1977) dan Piala Uber di Tokyo (1981). 

Sebelumnya Sambas disebut sempat melanjutkan studinya di Jepang, dengan mengambil fokus programming dan produksi di Jepang.

4 dari 5 halaman

Suarakan Pesan Keberagaman di Lagu "Manuk Dadali"

Di tengah kariernya yang melejit, Sambas menuangkan kecintaannya di dunia tarik suara termasuk menciptakan lagu-lagu daerah berbahasa Sunda, seperti ‘Manuk Dadali’ yang terkenal.

Di lagu tersebut, Sambas mencoba menyuarakan pesan keberagaman. Cerita lagu ini, menggambarkan melalui seekor burung garuda yang kuat, tangguh dan merangkul semua kalangan (keberagaman). Hal ini sesuai dengan penggambaran burung tersebut sebagai simbol negara.

Dalam salah satu potongan liriknya disebutkan 'Resep ngahiji rukun sakabéhna Hirup sauyunan tara pahiri-hiri', yang memiliki arti bersatu, rukun, berhimpun dengan tanpa ada rasa iri dan dengki. Lagu Manuk Dadali kemudian tenar hingga sekarang, dan banyak dibawakan oleh penyanyi di masa sekarang.

5 dari 5 halaman

Akhir Kariernya

Di dekade 1970-an, Sambas mulai terlibat di belakang layar. Namun saat tahun 1983, ia kembali ditarik sebagai wartawan di lapangan TVRI dengan membawakan program ‘Dari Desa ke Desa’

Di sini ia masih menjiwai sebagai seorang pewarta, terlihat Sambas begitu komunikatif dengan narasumbernya saat meliput soal peternak di Brebes, Jawa Tengah. Saat itu dirinya mengabarkan tentang keberhasilan program Kawin Suntik dan Kawin Alam oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah.

Sambas lahir di Bandung, Jawa Barat 21 September 1926 dan meninggal di Jakarta, 30 Maret 1999 karena penyakit pernapasan. Sebelum meninggal, ia sempat membawakan program Piala Eropa di tahun 1996. Suaranya yang khas, dan mampu membawa pendengar dan penonton menjadikannya sosok yang langka yang selalu ditunggu.

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini