Siswa SMPN 10 Cimahi Ini Ciptakan Robot Pendeteksi Sampah, Terinspirasi karena Banjir

Siswa SMPN 10 Cimahi Ini Ciptakan Robot Pendeteksi Sampah, Terinspirasi karena Banjir
Robot pendeteksi sampah di gorong-gorong karya SMPN 10 Kota Cimahi. ©2021 cimahikota.go.id/ Merdeka.com
JABAR | 17 Desember 2021 11:53 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Tiga Siswa SMPN 10 Kota Cimahi, Jawa Barat, Bima Arya Putra (14), Genta Syawal Putra Gumilang (14) dan Fahri Ramadhan (14), belum lama ini berhasil menciptakan robot pembersih lingkungan yang didesain mirip tank, Senin (13/12).

Saat ditemui di sekolah yang beralamat di Jalan Cihanjuang itu, Fahri Ramadhan menceritakan, penemuan timnya itu bisa difungsikan sebagai alat untuk mendeteksi sampah yang berada di dalam gorong-gorong selokan.

"Jadi dengan robot ini ketika kondisi di dalam gorong-gorong terlihat apalagi banyak sampah, jadi bisa ditindaklanjuti sesegera mungkin sebelum terjadi banjir," terang Fahril.

2 dari 4 halaman

Terinspirasi Karena Banjir

robot pendeteksi sampah di gorong gorong karya smpn 10 kota cimahi

©2021 cimahikota.go.id/ Merdeka.com

Adapun menurut Fahri, ide awal pembuatan robot berasal dari keresahan mereka soal banjir yang kerap menerjang Cimahi. Bahkan, aliran air dari hulu diketahui tersendat oleh sampah hingga meluber ke jalanan dan merendam bagian depan sekolah mereka.

Berbekal ilmu pengetahuan yang diperoleh di kelas, serta belajar dari kanal YouTube, mesin kecil tersebut akhirnya berhasil diciptakan dengan dana Rp2,5 juta.

"Tentunya pengerjaan robot didampingi oleh pembina," ucap Fahril.

3 dari 4 halaman

Dikendalikan Melalui Ponsel

Perakitannya sendiri menggunakan chasis tank beroda jenis caterpillar, mengingat medan yang dilalui robot kebanyakan tidak rata. Sementara sistem pengendalinya, Fahril menggunakan Arduino Uno atau board mikrokontroler yang dioperasikan dari sebuah ponsel.

Untuk menunjang fungsi dari robot pendeteksi sampah tersebut, di badan robot turut disematkan kamera berjenis ESP 32 AI-Thinker. Kamera tersebut memiliki kemampuan merekam video layaknya kamera pada ponsel.

Saat uji coba, robot tersebut bisa mentolerir ketinggian air hingga maksimal 15 sentimeter. Mengingat bentuk dan ukuran robot yang tak terlalu besar, mereka pun harus menghabiskan Rp2,5 juta untuk membuat robot tersebut.

4 dari 4 halaman

Mampu Raih Medali Emas Walau Berdesain Sederhana

Guru pembina siswa perakit robot pendeteksi gorong-gorong, Lingga Medal mengatakan bahwa proses pembimbingan siswanya itu telah dilakukan sejak kelas 7. Usahanya pun tak bisa dibilang mulus, mengingat beberapa kali menemui kendala dalam perancangan, perakitan, sampai menemukan bentuk robot yang sesuai fungsi dan keinginan mereka.

Dari desain sederhana itu, robot tank pendeteksi sampah berhasil menyabet medali perak dalam lomba nasional robotik terbayar dan memberikan kebanggaan untuk mereka.

"Ini kita melatih anak-anak dari nol, sejak mereka kelas 7. Jadi tiap hari datang ke sekolah mempersiapkan olimpiade ini dan alhamdulillah hasilnya memuaskan dengan medali perak," kata Lingga.

Lingga menyebut robot yang dirakit siswanya merupakan model paling sederhana. Mengingat desain awal, robot tersebut memiliki lengan, dilengkapi sensor pendeteksi sampah, gas beracun, hingga api.

"Untuk pengembangan ke depannya, kita sempurnakan robot dengan sistem pendeteksi gas beracun, api, dan bisa underwater karena sekarang masih amfibi. Dengan lengan pada robot, jadi saat menyelam itu bisa menyingkirkan sampah dari dalam air," tegas Lingga, melansir dari cimahikota.go.id. 

(mdk/nrd)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami