Terapkan Budaya Kaolotan, Ini Cara Desa Guradog di Lebak Bebas dari COVID-19

Terapkan Budaya Kaolotan, Ini Cara Desa Guradog di Lebak Bebas dari COVID-19
Desa Guradog Lebak bebas Covid-19 karena menerapkan tradisi Kaolotan. Facebook Loyalizer Andika Hazrumy ©2020 Merdeka.com
JABAR | 30 Agustus 2020 16:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar

Merdeka.com - Desa Guradog yang terletak di Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten memiliki cara tersendiri untuk menjaga wilayahnya agar bebas dari penyebaran COVID-19, yaitu dengan menerapkan budaya Kaolotan.

Seperti dikutip dari Antara, kaolotan merupakan warisan turun temurun dari para sesepuh desa ini untuk menciptakan kedisiplinan warga. Tujuan dari kaolotan adalah agar masyarakat setempat selalu waspada dengan segala keadaan.

Dalam praktiknya, tradisi kaolotan bisa diartikan sebagai bentuk ketaatan warga Desa Guradog dalam mematuhi segala anjuran dari sesepuh atau tokoh desa setempat.

2 dari 5 halaman

Memerhatikan Aturan dari Para Tokoh Desa

Sukarman, tokoh adat sekaligus Kepala Desa Guradog mengungkapkan jika masyarakat di wilayahnya masih memegang teguh tradisi kaolotan. Maka dari itu, mereka selalu menaati segala aturan dari para tokoh desa, salah satunya untuk melaksanakan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang.

"Semua warga di sini, termasuk tamu, dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan guna mencegah COVID-19," papar Sukarman seperti dilansir dari Antara.

3 dari 5 halaman

Pengawasan yang Ketat

Selain itu, pihaknya juga melakukan pengawasan ketat untuk mencegah penyebaran COVID-19 di wilayahnya, di antaranya dengan melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan.

Apabila terdapat warga setempat yang memiliki gejala mirip COVID-19 seperti suhu tubuh di atas 39 derajat celcius, maka akan dilakukan isolasi mandiri hingga dirujuk ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

"Kami sangat ketat untuk pengawasan baik masyarakat setempat maupun tamu untuk dilakukan disiplin pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan," katanya menjelaskan.

4 dari 5 halaman

Ditetapkan Menjadi Kampung Tangguh

desa guradog lebak bebas covid 19 karena menerapkan tradisi kaolotan
Facebook Ishak Saceng ©2020 Merdeka.com

Sampai saat ini, belum ada satu pun kasus COVID-19 yang ditemukan di desa yang dihuni oleh 4.330 jiwa ini. Hal ini merupakan salah satu dampak positif dari budaya kaolotan yang membuat warga selalu disiplin untuk menerapkan segala protokol kesehatan.

Bahkan yang terbaru, Desa Guradog telah ditetapkan sebagai Kampung Tangguh Nusantara ''Kalimaya'' yang diresmikan oleh Kapolda Banten Irjen Fiandar dengan kemandirian pangan dari hasil hotikultura serta palawija.

Selain itu, masyarakat di desa ini juga memiliki tingkat kesehatan yang mumpuni sepanjang tahun 2019-2020 ini dengan tidak ditemukannya angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI).

Sementara itu tingkat pendidikan warga desa tersebut juga terhitung baik, di mana ada banyak siswa yang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

"Meski masyarakat di sini berada di pedalaman, namun sikap disiplin dan partisipasi membangun cukup besar, sehingga angka kemiskinan relatif kecil, yakni 10 persen dari 4.330 jiwa," kata Sukarman.

5 dari 5 halaman

Diapresiasi Gugus Tugas

Sementara itu Firman Rahmatullah selaku Juru Bicara Satgas Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Kabupaten Lebak memberikan apresiasinya kepada warga Desa Guragog yang selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Menurut Firman, penambahan kasus baru COVID-19 di Kabupaten Lebak diakibatkan oleh sikap para warga yang tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan.

"Bertambahnya kasus COVID-19 itu karena mereka tidak memakai masker, berkerumun dan tidak menjaga jarak serta tidak rajin mencuci tangan," kata Firman.

(mdk/nrd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami