150 Ruang terpadu ramah anak akan dibangun Pemprov DKI tahun depan

150 Ruang terpadu ramah anak akan dibangun Pemprov DKI tahun depan
JAKARTA | 3 Desember 2015 15:30 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama berencana akan membuat 54 Ruang Publik Terpadu Ramah anak (RPTRA) hingga akhir tahun ini. Sedangkan, pria yang akrab disapa Ahok ini akan menambahkan 150 RPTRA di tahun 2016.

Menanggapi rencana itu, Ketua Komunitas Perokok Bijak Eric Hermawan mengatakan pembangunan RPTRA yang diambil dari dana CSR (Corporate Social Responsibilty) beberapa perusahaan dan tidak berasal dari APBD DKI Jakarta.

"Pembangunan RPTRA tidak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemprov DKI Jakarta, melainkan dari Corporate Social Responsibilty (CSR) dari beberapa perusahaan," ujar Erick dalam keterangannya, Kamis (3/12).

Pembangunan RPTRA, lanjut Eric, perlu didukung tempat bagi orang tua anak yang kebetulan perokok.

"Akan lebih baik bila ada tempat khusus merokok untuk orang dewasa merokok yang dapat memantau tempat bermain anaknya. Hal ini sesuai dengan aturan yang ada di UU dan PP yang menyebutkan kewajiban menyediakan ruang atau tempat merokok di area publik bahkan kawasan tanpa rokok sekalipun," ungkapnya.

Eric menambahkan, CSR perusahaan rokok, selayaknya dimanfaatkan untuk membantu kesehatan masyarakat atau pendidikan tanpa mensyaratkan hanya melayani perokok.

"Di Indonesia masih butuh fasilitasi kesehatan dan pendidikan yang terjangkau dan negara masih belum mampu memberikan," tuturnya.

Eric menilai selama ini pandangan terkait keterlibatan CSR perusahaan rokok dan anak perusahaanya yang disampaikan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat adalah salah.

"CSR adalah bentuk tanggung jawab sebuah perusahaan terhadap seluruh pemangku kepentingannya, antara lain konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penolakan CSR sebuah perusahaan untuk kepentingan perlindungan anak adalah bentuk pembunuhan karakter sosial kemanusiaan dari pelaku ekonomi," tandasnya. (mdk/rhm)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5