Ahli Epidemiologi Nilai DKI Stabil Dalam Testing Tracing Kasus Covid-19

Ahli Epidemiologi Nilai DKI Stabil Dalam Testing Tracing Kasus Covid-19
Pemudik di Swab Tes Antigen. ©2021 Liputan6.com/Angga Yuniar
JAKARTA | 22 Juni 2021 19:48 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengapresiasi kinerja pemerintah provinsi DKI Jakarta menangani kasus Covid-19 dalam satu tahun lebih. Meski masih banyak sejumlah tugas yang belum tuntas, Dicky menilai penanganan pandemi Jakarta stabil dan kebijakan yang dikeluarkan berdasarkan scientist.

"Jakarta sebagai ibu kota negara saya apresiasi menunjukkan performa yang stabil dalam memenuhi standar global untuk kapasitas testing tracing dan juga isolasi karantinanya," kata Dicky melalui rekaman video yang diterima merdeka.com, Selasa (22/6).

Hal itu dikatakan Dicky dalam rangka perayaan hari jadi Jakarta ke-494 tahun di tengah pandemi Covid-19. Menurut Dicky, konsistensi penanganan pandemi di Jakarta merupakan hal penting sebagai barometer bagi daerah-daerah lain untuk menangani kasus positif Covid-19 berbasis sains.

Satu contoh yang disoroti Dicky terhadap penanganan pandemi Covid di Jakarta yakni, 50 persen kontribusi kasus baru berasal dari hasil pelacakan (tracing). Sementara daerah lain, imbuhnya, belum bisa dipastikan sumber kontribusi kasus baru yang dilaporkan.

"Dan itu berbahaya dalam satu pengendalian pandemi," pungkasnya.

Dia meluruskan pandangan terkait lonjakan kasus mencerminkan kegagalan intervensi pemerintah. Untuk melihat optimal tidaknya intervensi pemerintah dalam penanganan pandemi ada beberapa indikator yang harus terpenuhi.

Seperti kapasitas testing, tracing, dan treatment yang tepat terhadap pasien Covid-19 baik dengan gejala ataupun non gejala.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta kepada semua pihak agar tidak memandang lonjakan kasus Covid-19 sebagai angka-angka statistik belaka. Menurut Anies, setiap satu angka kasus Covid-19 yang meningkat, berarti ada satu nyawa yang terpapar.

"Saya perlu garis bawahi semua, ketika menyebutkan jumlah kasus, jangan pernah tempatkan persoalan Covid-19 ini seperti angka statistik begitu saja bertambah kasus dan berkurang kasus," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Selasa (22/6).

Anies menambahkan, setiap satu nyawa yang terpapar, berarti ada satu orang dalam keluarga yang harus mendapat perawatan dan akan ada banyak kekhawatiran yang terjadi di keluarga itu.

"Bayangkan keluarga yang tegang, bayangkan pasien yang perlu perawatan intensif karena terpapar," ucap dia.

Karena itu Anies sangat menekankan agar semua pihak bisa merasakan kepedulian kepada mereka yang terpapar Covid-19.

"Ini adalah saudara kita, ini adalah warga kita, dan setiap satu angka disebut itu adalah satu nyawa, itu adalah anak, ayah ibu, kakak, adik dari kita semua," kata dia.

Penambahan kasus baru Covid-19 di Jakarta pada 21 Juni 2021, mencapai 5.014. Angka kumulatif kasus Covid-19 di Jakarta mencapai 479.043. Sedangkan untuk kasus aktif atau pasien dalam perawatan atau isolasi sebanyak 32.060 kasus.

Dalam beberapa pekan terakhir, kasus positif Covid-19 di Indonesia mengalami lonjakan tinggi. Di Jakarta, banyak rumah sakit yang tidak mampu menampung lagi pasien positif Covid-19. Demikian juga lokasi isolasi seperti Wisma Atlet dan beberapa tempat milik Pemprov DKI telah penuh. Virus Covid-19 varian delta yang pertama kali ditemukan di India diketahui memiliki penyebaran yang cepat. (mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami