Anak yang Bekerja di Karaoke Kayangan Berasal dari Sukabumi dan Depok

JAKARTA | 24 Januari 2020 15:18 Reporter : Tri Yuniwati Lestari

Merdeka.com - Anak korban perdagangan orang di Bar dan Karaoke Kayangan, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara berasal dari berbagai daerah. Mereka dipaksa melayani 10 orang pria dalam semalam oleh sang mami. Jika tak penuhi batas minimal, maka didenda Rp 50 ribu per hari.

Kepala Balai di lingkungan Kemensos, Neneng Heriyani mengungkapkan, korban rata-rata berusia 14-18 tahun. Mereka didapatkan dari berbagai daerah dengan cara mengiming-imingi bekerja dengan penghasilan yang besar di Jakarta.

"Macam-macam ada yang dari Sukabumi, Indramayu, Pandeglang dari Depok, dan Jakarta juga ada," ucap Neneng di kantor Kemensos, Bambu Apus, Jakarta Timur, Jumat (24/1). Saat ini mereka tengah ditangani Kemensos.

1 dari 2 halaman

Neneng mengatakan, Bar dan Karaoke Kayangan beroperasi setiap hari mulai pukul 20.00 WIB sampai 04.00 WIB, dan selama delapan jam itu anak-anak itu dipaksa melayani sepuluh laki-laki semalam.

"Itu merupakan kekerasan secara psikis jelas, mereka harus melayani sekian puluh orang semalam," ucap Neneng.

Dan dari kesaksian korban, mereka bisa berada di bar yang dimiliki tersangka atau yang dipanggil dengan sebutan mami, berawal dari tawaran bekerja di Jakarta yang mereka temukan di halaman media sosial Facebook.

"Ada yang sama temennya, ada yang direkrut melalui Facebook, mereka itu diiming-imingi kerja di Jakarta, mereka kan anak tidak paham seperti apa ternyata setelah sampai, mereka mengatakan tidak tahu seperti apa pekerjaannya awalnya," lanjut Neneng.

2 dari 2 halaman

Neneng juga mengatakan, anak-anak yang menjadi korban ini memiliki keterbatasan untuk dapat berkomunikasi dengan keluarga dan dengan dapat berkomunikasi dengan dunia luar.

Sejauh ini dalam menangani korban selain diberikan terapi secara psikologis dan penyuluhan kesehatan, anak-anak juga diajarkan mengenai norma dan etika, agar bisa mengembalikan peranan korban yaitu sebagai anak-anak.

"Kita memberikan pemahaman tentang norma dan etika, karena mereka kan melihat dunia malam kita berusaha untuk mengembalikan mereka ini anak-anak, kewajiban kamu ini seperti ini, agar mengembalikan peranan dan fungsi sosialnya kembali," ucap Neneng.

Selain itu, Kemensos sekarang ini sedang mendalami penelusuran dari identitas keluarga korban. Neneng menambahkan sebelum korban dipulangkan, Kemensos akan memanggil seluruh orangtua korban untuk diberikan pengertian lebih dalam.

"Kita harus mengadakan pertemuan dengan orangtuanya, kita beri pengertian bahwa walaupun anaknya sudah seperti ini, tetapi ini adalah tetap menjadi tanggung jawab mereka, dan juga kepada orangtuanya jangan percaya begitu saja anaknya meminta izin diajak kerja dan sebagainya," tutup Neneng. (mdk/rnd)

Baca juga:
Berawal dari Facebook, Anak di Karaoke Kayangan Dipaksa Layani 10 Pria
Dilaporkan Hilang, Siswi SMP di Depok Ditemukan dalam Apartemen Diduga Dijadikan PSK
Sudah Beroperasi 3 Tahun, Prostitusi di Gang Sempit Penjaringan Pindahan Kalijodo
VIDEO: Lorong Hitam Prostitusi di Penjaringan
Prostitusi di Bar Kayangan, Camat Penjaringan Akui Tak Ada Pengawasan Khusus
Jejak Kelam Prostitusi di Gang Sempit Penjaringan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.