Bagi-Bagi Kopi di CFD, Cara Nurmansjah Perkenalkan Diri Sebagai Cawagub DKI

JAKARTA | 26 Januari 2020 13:13 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Nurmansjah Lubis mempunyai cara unik memperkenalkan dirinya sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dia membuka kedai kopi di area Car Free Day (CFD) Jalan Sudirman Jakarta, Minggu (26/1).

Tak sendiri, Nurmansjah ditemani kedua putranya saat meracik kopi untuk para warga yang tengah berkegiatan di kawasan CFD. Kopi itu dibagikan gratis kepada masyarakat.

Dia mengatakan telah memiliki kedai kopi di kawasan Bendungan Hilir Jakarta yang mulai beroperasi sejak tiga tahun lalu. Nurmansjah mulai belajar membuat kopi setelah berhenti menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009 dan 2009-2014.

"Sudah tiga tahun buka kedai kopi di Benhil," ucap Nurmansjah kepada wartawan.

Dia mengaku masih membutuhkan restu dari warga DKI untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Sandiaga Uno itu. Meski, dalam pemilihan cawagub nantinya hanya bergantung pada suara dari DPRD DKI.

"Dipilih parlemen penting. Tetapi yang terutama doa dari warga," ujar dia.

1 dari 1 halaman

Siap Di-Bully

Selain itu, Nurmansjah mengaku siap menerima segala kritikan dan bully-an dari masyarakat apabila terpilih menjadi Cawagub DKI Jakarta. Termasuk, kritikan dan bully-an yang selama ini kerap dilontarkan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Cawagub DKI dari PKS itu menyebut tak masalah jika bully-an dari masyarakat ke Anies itu dialihkan kepadanya. Hal ini, kata Nurmansjah, agar Anies dapat fokus bekerja menyelesaikan masalah di DKI.

"Enggak apa-apa, pindahin bully-nya Pak Anies ke ane, supaya pak Anies bekerja. Dia membahagiakan warganya dari segi makro, yang diomelin gua saja," kata Nurmansjah.

Bukan hanya itu, dia juga menyatakan siap disalahkan jika nantinya ada regulasi Pemprov DKI yang bermasalah dan diprotes. Nurmansjah akan menjelaskan kepada masyarakat apabila ada APBD yang tak jelas.

"Misalnya nomenklatur enggak bener, misalnya beli karpet 2 ton di APBD gitu. APBD kan beli tali banyak kan, tau enggak tali? Di APBD itu ada tali, kalau orang enggak ngerti langsung di bully," jelasnya.

Untuk itu, dia menilai pentingnya kesamaan persepsi antara masyarakat dengan pemprov. Baik soal kebijakan ataupun anggaran yang akan dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

"Nah makanya kadang-kadang persepsi warga, persepsi kita, kita sama-sama cari kesamaan," tutur dia.

Reporter: Ika Defianti

Sumber: Liputan6.com

(mdk/eko)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.