Hot Issue

Buruknya Distribusi Air Bersih di Tengah Ancaman Kekeringan Jakarta

Buruknya Distribusi Air Bersih di Tengah Ancaman Kekeringan Jakarta
Krisis air bersih di Muara Angke. ©Liputan6.com/Faizal Fanani
JAKARTA | 11 Mei 2022 16:17 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami suhu cukup tinggi dalam beberapa hari ke belakang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan pernyataan, bahwa Indonesia akan memasuki musim kemarau.

Merujuk dari pernyataan resmi BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI, kemudian mengingatkan warga Jakarta bersiap memasuki musim kemarau.

Pada musim kemarau, ancaman yang akan dihadapi yaitu kekeringan dan peningkatan polusi udara. Pemprov DKI bersiaga mewanti-wanti, agar warga Jakarta tidak kesusahan menghadapi musim kemarau.

Sejumlah imbauan dan strategi dikeluarkan oleh BPBD DKI, seperti mengingatkan warga agar berhemat air, dan menyiagakan tangki-tangki air di wilayah krisis air bersih. Sebab, berada di wilayah hulu bukan jaminan Jakarta terbebas dari kekeringan.

Pakar Hidrologi dari Universitas Gadjah Mada Pramono Hadi menjelaskan kebijakan yang dilakukan Pemprov DKI selama ini cenderung kebijakan tentang pengendalian banjir. Misalnya, membangun waduk, embung, sumur resapan dan sebagainya.

Meski sudah ada kebijakan yang mengarah sistem penyimpanan air oleh Pemprov DKI Jakarta, namun Pramono berpendapat, hasil kebijakan tersebut tidak instan dirasakan. Sementara dalam jangka pendek, warga harus bersiap.

"Jakarta itu sistem penyediaan airnya sangat fragile," kata Pramono kepada merdeka.com, Rabu (11/5).

2 dari 3 halaman

Kualitas Air Pipa

pipa rev1

Kualitas air yang didistribusikan melalui pipa, tidak cukup premium. Artinya, imbuh Pramono, kualitas air pipa sama seperti beberapa air tanah yang masih digunakan oleh sebagian warga.

Sorotan Pramono lainnya adalah, distribusi air pipa di Jakarta belum mencapai 100 persen, sementara sumber pasokan air yang diterima masih belum cukup memenuhi kebutuhan warga Jakarta yang diperkirakan mencapai 15 juta itu.

Dia menyebut, pemakaian air di Jakarta per detik mencapai 25-35 meter kubik. Jumlah fantastis bagi sebuah kota.

"Supply air pipa di Jakarta itu dari Bendungan Jati Luhur, Jakarta pasti mencari-cari sumber lainnya, kalau sumber lain kering, bisa apa Jakarta?" kata dia.

Soal imbauan menghemat air menurut Pramono bukanlah perkara sederhana. Sebab, itu adalah sebuah budaya yang terbangun dalam jangka panjang.

Justru, imbuh Pramono, sudah seharusnya Pemprov DKI Jakarta menyiapkan sistem penyimpanan air, dan berkoordinasi dengan daerah di hulu.

3 dari 3 halaman

Strategi Atasi Kekeringan

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DKI Isnawa Adji menyampaikan langkah-langkah penghematan air yang perlu dilakukan setiap warga Jakarta adalah sebagai berikut;

- Mematikan keran jika tidak dipakai
- Memastikan tidak adanya kebocoran pada peralatan pipa, keran dan penampungan air
- Bijak dalam penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga
- Menampung air hujan
- Menyediakan tandon air bersih

Isnawa juga mengatakan, tim khusus penanganan air akan kembali diaktifkan jika terjadi kondisi tertentu.

"Tim khusus dapat sewaktu-waktu diaktifkan apabila terjadi kekeringan yang berdampak langsung ke masyarakat," kata Isnawa.

Selain memantau kondisi masing-masing wilayah di Jakarta, Isnawa memastikan bahwa BPBD terus melakukan koordinasi antar organisasi perangkat daerah (OPD) dan pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi kondisi krisis air.

"BPBD akan terus memantau perkembangan kondisi meteorologis dalam memasuki musim kemarau ini," imbuh dia.

Sementara itu, belum ada data terbaru atas wilayah berpotensi rawan kekeringan pada tahun 2022.

Namun Isnawa merujuk data yang pernah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 2019, ada 15 kecamatan di Jakarta rawan krisis air.

"Apabila merujuk pada peringatan dini kekeringan meteorologis yang pernah dikeluarkan oleh BMKG pada tahun 2019, kala itu terdapat 15 kecamatan yang masuk ke dalam daerah rawan terjadi kekeringan," kata dia.

Selain kecamatan tersebut, Isnawa juga mengatakan bahwa daerah-daerah yang belum terlayani oleh jaringan perpipaan air bersih patut diwaspadai mengalami krisis air.

"Seperti di Kecamatan Jagakarsa, Pasar Minggu dan sebagian wilayah Kecamatan Cilandak," sebutnya.

Daftar kecamatan rawan kekeringan tersebar di Jakarta:

Jakarta Pusat

Menteng; Gambir; Kemayoran dan Tanah Abang.

Jakarta Utara

Cilincing; Tanjung Priok; Koja; Kelapa Gading dan Penjaringan. 

Jakarta Selatan

Tebet; Pasar Minggu dan Setiabudi.

Jakarta Timur

Makasar; Pulogadung dan Cipayung.

(mdk/fik)

Baca juga:
Strategi BPBD DKI Atasi Krisis Air di Jakarta
Ini Daftar Kecamatan di Jakarta Rawan Kekeringan
Bukan Minta Warga Hemat Air, Ini Saran untuk Pemprov DKI Hadapi Kemarau & Krisis Air
Mengurai Sulitnya Menerapkan Budaya Hemat Air di Jakarta
BPBD DKI Ingatkan Warga Jakarta Hemat Air Jelang Musim Kemarau
Ketua DPR Resmikan Sambungan Air Bersih Desa Gendayakan Wonogiri

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami