Derita Korban Penggusuran Sunter, Merasa Diperlakukan Seperti Hewan

JAKARTA | 17 November 2019 19:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Korban Penggusuran di Jalan Agung Perkasa VIII, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara mengaku diperlakukan seperti binatang. Mereka seperti tidak dipedulikan oleh pemerintah.

"Kami kayak binatang saja pak. Sudah dihancurkan (tempat) tinggal kami. Tidak ada relokasi," kata Mochamad Hasan Basri salah satu warga di lokasi, Minggu (17/11).

Hasan menyayangkan sikap pemerintah menghancurkan tempat tinggalnya dan warga lainnya tanpa memberikan solusi. Hingga saat ini, dia dan warga lain sama-sekali tidak direlokasi usai digusur.

Hasan dan warga sempat bertahan di lokasi meski diminta untuk meninggalkan tempatnya dalam waktu satu minggu. "Kemarin mau digoyang (bongkar) tapi warga melawan. (Akhirnya) tidak jadi," ucap dia.

Warga berharap tidak dipindah dan tetap diizinkan kembali membangun tempat tinggal mereka seperti semula.

"Kalaupun direlokasi ke rusun kami tidak mau pak, kami kan bukan orang kantoran. Kami susah dagang," kata Hasan.

1 dari 2 halaman

Tinggal Dalam Keterbatasan

Hasan masih tetap bertahan di lokasi penggusuran. Entah sampai kapan. Dia bingung hendak ke mana melangkahkan kakinya.

Akhirnya dia membangun gubuk ala kadarnya di sekitar lokasi penggusuran. Gubuk yang jika diperhatikan jauh dari kata layak itu dihuni oleh Hasan beserta dan tiga anak dan seorang istrinya.

Di sana Hasan beserta keluarga merasa kesulitan untuk mengakses sanitasi dan air bersih. "Kami jadi susah sholat pak. Udah berapa dosanya. Biasa tiap malam Jumat Yasinan jadi tidak," ungkap dia.

Sebelumnya, warga yang tinggal di Jalan Agung Perkasa VIII, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara digusur pada Kamis (14/11). Mereka yang digusur sampai saat ini masih bertahan sampai waktu yang tidak diprediksi.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com (mdk/noe)

Baca juga:
Warga Sunter ke Anies: Katanya Tidak Ada Penggusuran Saat Kampanye
Karaoke Ilegal Dekat Masjid Agung Semarang Dibongkar
Melihat Aktivitas Warga Muara Angke yang Menolak Penggusuran
Anies Kembali Bangun Kampung Akuarium yang Diratakan Ahok
Renovasi Trotoar Kramat Raya, Petugas Bongkar Bangunan Liar
Rumah Digusur, Pengantin di Puncak Bogor Terpaksa Menikah di Lapak PKL

2 dari 2 halaman

Klarifikasi Wali Kota Jakut

Wali Kota Jakarta Utara, Sigit Widjatmoko menegaskan pembongkaran beberapa bangunan di Jalan Agung Perkasa VIII, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara atas sepengetahuan warga yang akan digusur. Tidak ada intimidasi ataupun kekerasan dalam proses sebelum ataupun saat proses pembongkaran.

Ia menambahkan, ada beberapa warga yang malah membongkar sendiri bangunan semi permanen yang difungsikan sebagai tempat menampung barang rongsok tersebut. Pihaknya hanya membantu.

"Jadi semua atas sepengetahuan warga, bahkan proses pembongkarannya kita hanya membantu, itu dilakukan sendiri oleh mereka," ujar Sigit usai rapat di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (18/11).

Pemkot Jakarta Utara dikatakan Sigit bukan sekadar membongkar lapak-lapak rongsokan warga tanpa ada solusi seperti fasilitas rumah susun.

Rumah susun di Marunda, kata Sigit, telah disediakan Pemkot untuk menampung mereka terdampak penggusuran. Namun menurutnya, tidak ada warga yang mendaftar. Para warga justru kembali ke tempat tinggal masing-masing.

"Mereka pada umumnya kembali ke tempat tinggal, ada yang di Penggilingan, ada yang di daerah Kebon Bawang, ada yang ke Tanah Abang," ujarnya.

Sigit meyakini tidak ada warga yang mendaftar ke rumah susun karena sejatinya pemilik lapak rongsokan tersebut memiliki tempat tinggal. Lokasi rongsokan hanya sebagai tempat usaha.