Dirut Bantah Sopir Transjakarta Dinas Melebihi Jam Kerja

Dirut Bantah Sopir Transjakarta Dinas Melebihi Jam Kerja
TransJakarta Kecelakaan di Depan Ratu Plaza. ©2021 Antara
JAKARTA | 8 Desember 2021 21:13 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Dirut Transjakarta Muhammad Yana Aditya membantah para sopir Bus Transjakarta yang bekerja melebihi jam atau lebih delapan jam dalam sehari. Menurutnya, aturan tersebut tidak ada dalam SOP (Standar Operasional Prosedur).

"Tidak ada (yang kerja lebih delapan jam), SOP tidak ada," kata Yana saat kepada wartawan, di Kantor TransJakarta, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (8/12).

Bahkan, dia pun mengklaim berdasarkan pengakuan dari para operator mitra armada PT Transjakarta, tidak ada yang menerapkan kerja lebih dari delapan jam.

"Tidak ada, jadi teman-teman operator semua menyampaikan tidak ada," kata Yana.

Oleh sebab itu, Yana pun mengatakan, terkait isu yang beredar termasuk soal bekerja lebih dari jamnya, PT. Tranjakarta sedang mengevaluasi itu. Termasuk menunggu hasil audit dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait keselamatan kerja.

"Jadi gini, semua ini tentunya berdasarkan data. Bukan katanya, katanya. Kami ini sekarang sedang mengevaluasi semua. Apabila nanti KNKT sudah mengeluarkan rekomendasi mengeluarkan pedoman kita semua akan melaksanakan semua," ujarnya.

"Jadi sekarang kami bekerja cepat, KNKT dan operator barang kali besok ada pertemuan yang lain dari tim audit kita tunggu saja," tambahnya.

2 dari 2 halaman

KNKT

Sebelumnya, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menilai ada faktor kelalaian manusia jadi dugaan penyebab kecelakaan bus Transjakarta dalam hampir sepekan terakhir. Soerjanto mengaku akan melakukan pemeriksaan terhadap jam kerja para pengemudi.

"Kita lihat memang (jam kerja) karena pengemudi itu tidak secure (aman) juga bagian dari masalah human factor. Mungkin dia agak sembrono jadinya," kata Soerjanto.

Selain soal jam kerja, Soerjanto mengaku ada pertanyaan soal divisi keselamatan. Menurut pernyataan Transjakarta, hal itu sudah dimili. Namun Soerjanto menyarankan, agar divisi tersebut dibentuk secara independen.

"Kita minta unit keselamatan itu independen. Nanti reportingnya langsung ke Dirut. Jadi dia mengawasi masalah operasi, maintenance, rekrutmen dan segala macam," ungkap Soerjanto. (mdk/rnd)

Baca juga:
Ikuti Arahan KNKT, Transjakarta Evaluasi SOP Keselamatan Kerja
Analisis Polisi: Rentetan Kecelakaan Transjakarta karena Human Error
Transjakarta Kerap Kecelakaan, KNKT akan Audit dan Periksa Jam Kerja Pengemudi
Polisi akan Bertemu Dirut Transjakarta Bahas Kecelakaan Bus
Imbas Kecelakaan, Transjakarta Hentikan 229 Busnya Beroperasi
Kronologi Bus Transjakarta Tabrak Pejalan Kaki di Dekat SMK 57 Versi Pengemudi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami