Forum Jibang Perkampungan Betawi: Ikhtiar Pemikiran Merawat Masyarakat Inti Jakarta

Forum Jibang Perkampungan Betawi: Ikhtiar Pemikiran Merawat Masyarakat Inti Jakarta
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. ©Liputan6.com/Immanuel Antonius
JAKARTA | 16 Juli 2021 09:41 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Akhirnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menetapkan anggota Forum Pengkajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi, disingkat Jibang PBB, periode 2021-2025. Total ada 14 orang dari berbagai latar belakang mulai dari wartawan, dokter, dosen, mantan lurah hingga jenderal (purnawirawan) yang mengisi Forum Jibang PBB.

Mereka ditetapkan melalui keputusan gubernur provinsi DKI Jakarta No 693 tahun 2021 tentang Forum Pengkajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi. Selanjutnya untuk pelaksanaan tugas forum tersebut, biayanya dibebankan pada APBD melalui dokumen pelaksanaan anggaran Unit Pengelolaan Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jakarta Selatan.

Forum Jibang PBB 2021-2025 dipimpin oleh Brigjen TNI (Purn) dr Abdul Syukur, SKM dengan Sekretaris Indra Sutisna, SKom. Sementara Ketua Komite Tata Kehidupan dan Budaya adalah Drs Rusdi Saleh dengan anggota Diana M Muzammil dan Drs Yahya Andi Saputra, MHum.

Ketua Komite Kesenian dan Pemasaran dr Sibroh Malisi, MARS dengan anggota Ir Rudi Saputra, MT dan Drs Lahyanto Nadie, MSi. Ketua Komite Pengkajian, Pelatihan, dan Pendidikan Drs Beky Mardani dengan anggota dr Rosyana Hasbullah, MPH dan Robi Indra, SSos, SPd. Dan Ketua Komite Pengawasan dan Pengendalian Drs Yoyo Muhtar dengan anggota Apriansyah, SKom dan Drs Sofyan Murtado.

Anggota Forum Jibang Perkampungan Budaya Betawi Lahyanto Nadie mengatakan amanah dari Gubernur PDKI Jakarta Anies Baswedan harus dilakukan dengan baik.

“Insya Allah kami optimal bekerja untuk kepentingan masyarakat Betawi,” kata Lahyanto dalam keterangannya, kemarin.

Menurut dia, Forum Jibang PBB lebih banyak bertugas di area "think tank" seperti penelitian, pengkajian, dan pelestarian budaya.

Dia menegaskan ini bukan forum taktis, tapi jelas pemikiran. Pemikiran ini harus dikonkretkan berupa hasil penelitian dan penerbitan buku yang dapat diimplementasikan oleh UPK Setu Babakan. Kuncinya adalah bersinergi dan berkolaborasi sehingga produknya dapat berupa event.

“Namun yang harus diingat adalah forum ini adalah akar berpikirnya,” tegas dia.

Sebagai langkah pertama dari forum ini adalah pengkajian penataan pedagang kaki lima (PKL) di bantaran Setu Babakan supaya tampak lebih teratur dan terlihat indah.

Saat ini di lokasi PBB Setu Babakan keberadan PKL terkesan tidak teratur, tidak bernuansa Betawi, mengganggu daya tarik wisata Kawasan PBB. Namun, untuk mewujudkan itu, perlu keseriusan dan ketegasan dari para pihak untuk penataan dan pembinaan pedagang. (mdk/sya)

Baca juga:
Kisah di Balik Angkot Ondel-Ondel Ibu Kota
Mengenal Museum Fatahillah, Destinasi Ikonik Jakarta Penuh Cerita Sejarah Ibu Kota
Mengenal Masjid Cut Meutia di Jakarta, Rumah Ibadah yang Dulunya Bekas Markas Belanda
Menko Polhukam Sebut Perbaikan Gedung Kejaksaan Agung Ikut Aturan Cagar Budaya
Disebut Cagar Budaya, Renovasi Gedung Kejaksaan Agung Tunggu Koordinasi Pemprov DKI
Upaya Kekinian Fasilitas 'Beranda Betawi' di Perpustakaan Daerah DKI Jakarta

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami