Gairah Baru Wisata Jakarta Weltevreden, Pusat Kota Zaman Hindia Belanda

Gairah Baru Wisata Jakarta Weltevreden, Pusat Kota Zaman Hindia Belanda
peluncuran Yayasan Kota Jakarta Weltevreden di Lapangan Banteng.. ©2022 Merdeka.com
JAKARTA | 26 Juni 2022 15:22 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Wisata Jakarta tempo dulu sedang digalakkan terutama saat masih bernama Batavia.

Sekelompok orang bergegas ingin menjadikan kawasan Jakarta Weltevreden menjadi tujuan wisata di DKI Jakarta. Bahkan destinasi wisata berstandar internasional.

Mereka berhimpun dalam sebuah yayasan bernama Yayasan Kota Jakarta Weltevreden.

Yayasan ini didirikan oleh beberapa orang dengan latar belakang suku dan agama yang beragam, yakni Toto Irianto, Lahyanto Nadie, Hamzah Ali, Dimas Supriyanto, Marthen Selamet Susanto, Firdaus Baderi, Mohammad Fauzy, Christian Chang, dan Arief Soeharto.

Kemudian Endy Subiantoro, Muhammad Ashraf Ali, I Made Karmayoga, dan Victorius Goenawan Wibisono.

Namun, di mana letak kawasan Jakarta Weltevreden berada?

Berdasarkan laman resmi Pemprov DKI Jakarta, Weltevreden yang berarti "suasana tenang" adalah daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Batavia lama ke arah selatan.

Weltevreden merupakan kota baru yang menjadi pusat pemerintahan masa Gubernur Jenderal Daendels serta pusat kediaman warga Eropa. Kota ini terletak antara Lapangan Banteng dan Monas. Letaknya kini di sekitar Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang membentang dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah.

Namun, pada masa pendudukan Jepang periode1942-1945, nama Weltevreden merujuk pada hampir seluruh daerah di Jakarta Pusat.

Yayasan Kota Jakarta Weltevreden baru saja diluncurkan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Lahyanto Nadie, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Kota Jakarta Weltevreden, menjelaskan peluncuran Jakarta Weltevreden dilakukan di Lapangan Banteng karena lapangan ini sangat bersejarah bagi kota Jakarta dan Indonesia. Apalagi kini kondisinya semakin cantik plus Monumen Pembebasan Irian Barat.

"Yayasan Jakarta Weltevreden dipimpin Toto Irianto, yang pernah menjadi Direktur Utama dan Pemimpin Redaksi Pos Kota. Wartawan senior Dimas Supriyanto sebagai bendaharanya,” kata Bang Lay, sapaan akrabnya dalam siaran persnya, kemarin (25/6).

Toto Irianto menjelaskan visi yayasan adalah menjadikan kawasan Jakarta Weltevreden sebagai destinasi wisata bertaraf internasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jakarta.

“Jiwa kami terpanggil untuk merawat Jakarta sebagai palang pintu Indonesia agar semakin berkembang menjadi kota berkelas dunia,” ujar pria asal Cirebon itu.

Menurutnya, Jakarta Weltevreden semakin tren, menjadi pembicaraan hangat karena banyak perubahan yang menjadi pilihan atau obyek wisata milenial dan generasi Z untuk berfoto, berdiskusi bahkan melakukan penelitian untuk keperluan skripsi, tesis, dan disertasi.

2 dari 2 halaman

Merindu Batavia

menikmati libur akhir pekan di lapangan banteng

©2022 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Cendekiawan Yudi Latif mengatakan bahwa kini banyak yang merindukan kenangan Batavia.

Bendahara Yayasan Dimas Supriyanto terkenang ucapan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) tentang kali depan kawasan Pasar Baru yang menjadi sentral Jakarta Weltevreden. Semasa jadi Gubernur DKI Jokowi ingin menjernihkan kali di seberang Kantor Pos Pusat ini untuk ditebar banyak ikan sebagai salah satu destinasi wisata.

Namun, gagasan itu mandeg. Program sungai bersih tak dilanjutkan penggantinya Basuki Tjahaja Purnama. Baru pada masa Gubernur Anies Baswedan ada gairah untuk menggalakkan kembali kawasan Jakarta Weltevreden!

(mdk/sya)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini