Hot Issue

Hilangkan Arogansi dan Pentingnya Budaya Saling Menghargai di Jalanan

Hilangkan Arogansi dan Pentingnya Budaya Saling Menghargai di Jalanan
Uji Coba Kedua Road Bike di JLNT. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia
JAKARTA | 31 Mei 2021 18:14 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Foto pemotor berpelat AA mengacungkan jari tengah ke pesepeda road bike trending di jagat dunia maya. Kejadian itu terjadi di kawasan Dukuh Atas, Jalan Sudirman Thamrin beberapa hari lalu.

Dari serangkaian foto yang beredar di media sosial, pemotor tampak mencoba melewati peleton road bike yang berada di tengah dan kanan jalan. Usai menyalip, pemotor yang kesal jalannya dihalangi mengacungkan jari tengah ke arah rombongan.

Aksi rombongan pesepeda vs pemotor memantik pro kontra muncul di antara warganet. Sebagian warganet menanggapi negatif aksi pemotor, sebagain lagi tentu ditujukan kepada rombongan pesepada.

Tetapi sorotan lebih banyak menyasar rombongan road biker. Publik menyampaikan komentar negatif dengan menganggap mereka egois dan arogan karena mengabaikan hak pengguna jalan lain. Terlebih lagi, Pemprov DKI sudah menyediakan jalur khusus sepeda di lajur kiri.

Selain road bikers, pengguna jalan yang acapkali disorot karena dianggap arogan dan egois adalah pengendara motor gede atau moge. Kasus terbaru rombongan motor gede (moge) kedapatan konvoi di jalur busway di kawasan KH Hasyim Ashari, Cideng, Jakarta Pusat.

Polisi melakukan penindakan berupa penilangan. Dari delapan motor, empat motor kabur, sementara empat lainnya berhasil ditilang polisi.

Bike To Work Singgung Adab Berkendara

Iring-iringan pesepeda road bike itu mendapat sorotan dari komunitas Bike To Work. Sikap rombongan tersebut dianggap egois dan keterlaluan karena seolah 'menguasai' jalan.

Ketua Umum Bike To Work, Poetot Soedarjanto mengatakan aturan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UULLAJ) Nomor 22/2009 pasal 122 huruf c sudah jelas mengatur lajur pesepeda.

Aturan tersebut berbunyi 'pengendara kendaraan tidak bermotor juga dilarang menggunakan jalur jalan kendaraan bermotor jika telah disediakan jalur jalan khusus bagi kendaraan tidak bermotor'

"Yang juga harus dikemukakan dan ditegaskan adalah mereka yang termasuk perilakunya tidak tertolong lagi itu, ya, sebagian dari pengguna sepeda balap, sepeda sport. Mereka sudah keterlaluan. Mereka egois," kata dia.

uji coba lintasan sepeda balap di jlnt
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Poetot merasa heran dengan postingan para pengguna sepeda balap yang menggunakan tagar #Sheretheroad atau berbagi jalan. Padahal mereka tidak memiliki etika dan berbagi jalan kepada pengendara lainnya.

"Sementara perilaku mereka jauh dari adab. Jadi apa yang mau dituju?" katanya.

Polisi Imbau Saling Menghormati dan Memberi Ruang

Polisi melihat fenomena berkendara ini sebagai suatu masalah serius. Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yugo mengajak semua pihak untuk saling menghormati hak dan kewajiban sesama pengguna jalan.

"Saya mengimbau kepada semua orang, kepada semua pemakai jalan, mari kita berbagi ruang jalan. Kan sudah jelas di Undang-Undang, kendaraan yang lebih kencang itu melaju di sebelah kanan. Artinya pesepeda, pengguna non sepeda, juga harus berbagi ruang jalan yang sama. Kalau misalnya peletonan, peletonan yang baik. Misalnya di sebelah kiri, jangan sampai mengambil seluruh badan jalan sehingga kemudian orang lain tidak bisa lewat," katanya.

Selain itu, kata Sambodo, masyarakat juga harus memperhatikan aturan-aturan dalam berkendara agar tidak saling menyerobot jalur. Sekaligus demi menjaga keselamatan bersama.

"Atau pun sepeda motor, kalau misalnya lagi ada yang olahraga sama-sama menghormati, sehingga dengan demikian itu paling tidak kita sama-sama bisa menjaga keselamatan diri sendiri maupun menjaga keselamatan orang lain," imbuh Sambodo.

Pesepeda Bandel Perlu Ditindak

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menilai maraknya pesepeda melanggar aturan disebabkan belum berlakunya penindakan oleh polisi. Dia mencontohkan pesepeda bandel yang melaju tidak pada jalurnya seperti rombongan road bike.

Padahal, menurutnya, polisi bisa menerapkan pasal 299 UU Lalu Lintas. Pasal itu menyatakan sanksi denda Rp 100.000 atau kurungan 15 hari bagi pesepeda yang melintas di luar jalur sepeda.

Sementara, Polisi beralasan masih melakukan sosialisasi jalur sepeda Sudirman-Thamrin sehingga belum melakukan penindakan.

"Polisi dapat tegas bertindak karena sudah dilindungi UU LLAJ," papar Djoko.

bersepeda di waktu liburan jakarta
©2021 merdeka.com/imam buhori

Djoko mengingatkan semua pengguna jalan sudah ada jalurnya masing-masing. Sehingga penting rasanya bagi semua pihak untuk mematuhi aturan-aturan lalu lintas demi keselamatan dan kenyamanan bersama.

"Semua pengguna jalan wajib mentaati aturan berlalu lintas dengan tertib demi keselamatan. Yang menggunakan jalan ada kendaraan bermotor ada kendaraan tidak bermotor (pejalan kaki dan pesepeda)," tutup dia. (mdk/ray)

Baca juga:
Pengamat: Arogansi Pesepeda Muncul Karena Belum Ada Tindakan dari Polisi
Selain Tilang, Polisi Pertimbangkan Sita KTP Pesepeda Langgar Aturan
Kelayakan Jalur Road Bike JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang Ditentukan Hari ini
Polisi: Semua Pemakai Jalan, Mari Kita Berbagi Ruang
Muncul Wacana Tilang untuk Pesepeda Langgar Aturan di Jalan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami