Jakarta Kota Paling Berpolusi, PDIP Minta Ganjil Genap Dievaluasi

Jakarta Kota Paling Berpolusi, PDIP Minta Ganjil Genap Dievaluasi
Indonesia Urutan ke-10 Kualitas Udara Terburuk Dunia. ©2022 Liputan6.com/Herman Zakharia
JAKARTA | 20 Juni 2022 11:18 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP, Gilbert Simanjuntak menuntut adanya evaluasi terhadap kebijakan ganjil genap. Sebab menurutnya, kebijakan itu tidak berdampak terhadap kualitas udara Jakarta.

"Kebijakan ganjil-genap yang diperluas hingga 26 jalur sebaiknya dievaluasi, karena walau dinyatakan mengurangi kemacetan, tetapi nyatanya polusi bertambah," kata Gilbert, Senin (20/6).

Dia juga mengkritisi sikap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terhadap kondisi polusi udara yang dianggap justru lebih fokus terhadap bursa pemilihan presiden 2024. Padahal, imbuhnya, kondisi pencemaran udara Jakarta masuk dalam kategori terburuk di dunia, sehingga sangat berbahaya bagi pernapasan.

Gilbert yang memiliki latar belakang akademik epidemiolog, menduga kondisi polusi udara di Jakarta sudah sepatutnya ada kenaikan kasus gangguan pernapasan.

"Seharusnya data kenaikan kasus gangguan pernafasan sudah terdeteksi karena sudah berlangsung lebih dari 2 minggu," ucapnya.

Dia juga mendorong, agar Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan melakukan edukasi secara optimal terhadap masyarakat agar mengurangi kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitas, dan dianjurkan agar memakai masker saat beraktivitas di rumah.

"Pendidikan kepada masyarakat sudah harus disampaikan. Masyarakat perlu sadar agar mengurangi kendaraan pribadi, dan menggunakan masker di luar rumah," tandasnya.

2 dari 2 halaman

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan sejumlah faktor yang mempengaruhi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang terjadi di Jakarta dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.

Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan bahwa pada beberapa hari terakhir PM2.5 mengalami lonjakan peningkatan konsentrasi dan tertinggi berada pada level 148 µg/m3. PM2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan kualitas udara tidak sehat.

"Tingginya konsentrasi PM2.5 dibandingkan hari-hari sebelumnya juga dapat terlihat saat kondisi udara di Jakarta secara kasat mata terlihat cukup pekat/gelap," kata Urip di Jakarta, Sabtu (19/6).

PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 µm (mikrometer). Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru.

Selain itu, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

Berdasarkan analisis BMKG, konsentrasi PM2.5 di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi baik yang berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta. Emisi ini dalam kondisi tertentu yang dipengaruhi oleh parameter meteorologi dapat terakumulasi dan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM2.5.

Selain itu, proses pergerakan polutan udara seperti PM2.5 dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Angin yang membawa PM2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM2.5.

"Pola angin lapisan permukaan memperlihatkan pergerakan massa udara dari arah timur dan timur laut yang menuju Jakarta, dan memberikan dampak terhadap akumulasi konsentrasi PM2.5 di wilayah ini," kata dia.

Faktor lainnya yang mempengaruhi peningkatan PM2.5 yakni tingginya kelembapan udara relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi (perubahan wujud dari gas menjadi partikel). Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi PM2.5 yang difasilitasi oleh kadar air di udara.

Selain itu, kelembapan udara relatif yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

"Dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM2.5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain, dan mengakibatkan akumulasi konsentrasinya yang terukur di alat monitoring," kata dia.

Menurut dia, peningkatan konsentrasi PM2.5 yang berdampak pada penurunan kualitas udara di Jakarta ini memberikan pengaruh negatif pada individu yang memiliki riwayat terhadap gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler. (mdk/fik)

Baca juga:
Jakarta Kota Paling Berpolusi, NasDem: Kurangi Aktivitas Kendaraan Pribadi
IQ Air: Jakarta Jadi Kota Paling Berpolusi pada 20 Juni 2022 Pagi
Faktor-faktor Penyebab Udara DKI Jakarta Terburuk di Dunia
DPRD DKI Dorong Pemprov Kerja Sama dengan Daerah Penyangga Atasi Polusi
Penampakan Buruknya Kualitas Udara Jakarta
PSI Minta Pemprov Perbanyak Uji Emisi Atasi Polusi Udara di Jakarta
Jakarta Nomor Satu Kota Terpolusi di Dunia Hari Ini

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini