Kampung Rawa Belong: Antara Tradisi Silat Cingkrik dan Pasar Kembang Jakarta

JAKARTA | 15 Oktober 2019 07:32 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Ratusan pesilat cilik dan remaja, putra-putri, memadati pinggir dan sudut Jalan Raya Rawa Belong, Jakarta Barat, Sabtu pekan lalu (12/10). Hangatnya matahari pagi bagai menyambut mereka yang sudah tampil rapi dengan baju seragam perguruannya.

Warna hitam tampak mendominasi. Dengan baju pangsi bak pendekar, mereka mengisi jalan utama di salah satu kampung Betawi itu riuh dengan canda tawanya.

Di pojok lain, tampak pesilat cilik lain giat berlatih. Merapikan koreografi silatnya sebelum tampil di panggung mewakili perguruan silatnya masing-masing.

Ya, sekitar seribu pesilat dari sekitar 70 perguruan silat tradisional Betawi berkumpul di Jalan Raya Rawa Belong, akhir pekan lalu. Mereka berkolaborasi untuk tampil di hajatan pertama bertajuk Gelar Seni Budaya Kampoeng Silat Rawa Belong. Mereka ingin terlibat dalam atraksi 1.000 pesilat memainkan jurus cingkrik.

1 dari 3 halaman

Atraksi 1.000 Pesilat Betawi

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Main pukul atau silat memang identik dengan Rawa Belong, satu dari kampung masyarakat adat Betawi di tengah megapolitan Jakarta. Local hero Pitung di zaman penjajahan kompeni Belanda makin menegaskan kampung Rawa Belong sebagai kampung silat. Selain Rawa Belong menjadi tanah kelahiran Bang Pitung, jagoan silat dan konon punya ilmu kebal senapan di mata tentara Belanda tempo dulu.

Selain itu, Rawa Belong juga terkenal sebagai pusat pasar kembang terbesar di ibukota. Setiap akhir pekan, tepatnya mulai Kamis malam, pasar kembang ini diburu para pedagang kembang seantero ibukota, bahkan wilayah penyangganya seperti Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

Tak heran, Sabtu lalu, kawasan Rawa Belong lebih meriah dari biasanya. Untuk kali pertama pula, Jalan Raya Rawa Belong yang menghubungkan Kebayoran Lama di Jakarta Selatan dengan Kemanggisan, Jakarta Barat, ditutup sementara demi hajatan Gelar Seni Budaya Kampoeng Silat Rawa Belong 2019. Macet tentu tak bisa dihindari. Tapi ada banyak keriaan di sepanjang jalan itu.

Warga Rawa Belong pun memanfaatkan perhelatan perdana ini dengan berdagang baik kuliner tradisional maupun nasional. Para pedagang kerak telok secara kompak sudah hasir di setiap persimpangan jala. Aroma penganan khas Betawi ini menggoda setiap pengunjung yang melewatinya.

Kuliner khas Betawi lainnya juga ada, seperti dodol betawi, bir pletok, dan tape uli. Cindera mata khas Betawi juga marak di sana. Ada ondel-ondel mini, golok, kaos bertema Jakarta/Betawi, baju pangsi lengkap, dan sebagainya melengkapi puluhan tenda yang meramaikan bazar di hajatan itu. Karnaval seperti tengah berlangsung di tengah Jalan Raya Rawa Belong.

2 dari 3 halaman

Guru Besar Pamer Jurus

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

"Kami minta pengertian kepada warga atau pedagang yang terganggu atas penutupan Jalan Raya Rawa Belong. Ini cuma sekali setahun atau paling banyak dua kali. Kami ingin hajatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan seperti Festival Kemang di Jakarta Selatan," ujar Ahmad Syarofi, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kota Jakarta Barat, saat memberikan sambutannya, akhir pekan lalu.

Selain unsur pemerintah kota Jakarta Barat, tampak hadir di pembukaan ini anggota DPD RI dari DKI Jakarta Fahira Idris, perwakilan Bamus Betawi H Lulung, H Aminuddin Mansyur (tokoh Rawa Belong), dan beberapa guru besar perguruan silat Betawi, seperti H Damin Sada (Bekasi), H Basir Bustomi (Red Beksi), Abdul Manaf (Cingkrik S3 Rawa Belong), perwakilan Polsek Kebun Jeruk dan Dandim, dan sebagainya.

Panggung utama tampak penuh dengan para tamu VIP yang hadir. Sementara masyarakat tampak antusias menunggu hajatan ini dibuka dengan memadati seluruh sisi panggung.

Yang menarik, setelah seremoni pembukaan acara, para guru besar perguruan silat itu didaulat naik ke panggung untuk melakukan 'kondangan jurus'. Mereka diminta memainkan sejurus-dua jurus kepada para tamu dan masyarakat yang kian memadati panggung. Sontak puluhan kamera smartphone merekam aksi istimewa itu.

3 dari 3 halaman

Kreasi Anak Muda Rawa Belong

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

Duet MC yang jenaka; H Bachtiar dan Mpok Mae Shafira, membikin suasana jadi ceria, meski terasa lama juga waktu dihabiskan untuk kondangan jurus itu.

Sekretaris panitia Kampung Silat Rawa Belong Harri Roosa menjelaskan hajatan ini merupakan hasil kreativitas anak-anak muda Rawa Belong untuk mempromosikan seni dan budaya di Rawa Belong, seperti silat cingkrik.

"Tujuannya mempererat tali silaturahim antarperguruan silat se-Jabodetabek khususnya Jakarta, selain itu kami ingin mengangkat bahwa Rawa Belong memang barometer silat Jakarta," ujar Harri Roosa.

Kata dia, Acara yang baru pertama kali digelar ini di Rawa Belong ini merupakan bentuk keinginan masyarakat khususnya warga Rawa Belong agar kesenian dan budaya silat cingkrik tetap eksis di tengah kemajuan zaman dan gaya hidup digital.

Bahkan, menurut Harri, acara ini sepenuhnya dari dana swadaya masyarakat dan dipilihnya lokasi di Jalan Rawa Belong karena ingin memperkenalkan warga bahwa di situlah Rawa Belong berada.

Meski acara ini menutup akses jalan raya Rawa Belong selama satu hari dari jam 08.00 WIB hingga 23.00, masyarakat tampak menyukai bazar yang disediakan dan atraksi silat beserta hiburan kesenian Betawi yang disajikan. Tujuan tampaknya berhasil dicapai, meski bukan tanpa kekurangan. Catatan yang bisa diberikan dari hajatan pertama di kampung silat Rawa Belong adalah minimnya akses jalan dan kenyamanan pengunjung.

Sampai jumpai di Rawa Belong 2020!

(mdk/sya)