Kekecewaan Noor Khomariah punya KTP DKI tapi tak dapat lapak di Tanah Abang

JAKARTA | 22 Desember 2017 10:41 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Pemprov DKI Jakarta mulai menerapkan penataan kawasan Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat pada Jumat (22/12). Sekitar pukul 08.00 WIB, Dinas Perhubungan mengatur lalu lintas dengan menutup Jl Jati Baru atau tepatnya depan pintu lama Stasiun Tanah Abang yang merupakan lokasi bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) kini berjualan.

PKL sebelumnya berjualan di trotoar sekitaran pasar grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut. Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede juga ikut meninjau penerapan penataan Tanah Abang untuk para PKL.

Saat meninjau, Mangara menjelaskan terdapat 400 PKL yang sudah dicatat untuk bisa menetapkan tenda-tenda yang disiapkan Dinas UMKM. Rencananya, kata dia, hari ini masih sosialisasi untuk para PKL.

"Sudah di sini 400 PKL. Jadi bukan tendanya 400 tapi ada beberapa tenda dan mereka bisa sharing atau berbagi. Contoh PKL makanan bisa jadi satu dengan pedagang air mineral. Dan dari UMKM ini diberikan secara gratis," kata Mangara saat meninjau di Jalan Jati Baru, Jakarta Pusat, Jumat (22/12).

Dia berharap penataan ini menjadi solusi terbaik untuk para PKL. Yang utama penataan PKL bisa berjalan dengan baik. "Kita berjalan aja. Saya kira retribusi tidak menjadi target. Paling utama PKL penataan dengan baik," kata dia.

Dari pantauan merdeka.com sekitar pukul 09.38 WIB beberapa PKL sudah menempati tenda-tenda merah yang sudah disiapkan.

Harus punya KTP DKI untuk dapat lapak

Roni (38) pedagang pakaian wanita yang mendapatkan tenda untuk berdagang bercerita sebelum bisa menempati tenda, harus mengisi formulir untuk didata pihak kecamatan. Tidak hanya itu, Roni menyebut pedagang yang bisa berjualan itu harus memiliki KTP DKI.

"Sudah tiga kali pendataan Kecamatan. Khusus buat KTP DKI. Orang bilang ya harus isi data sesuai KTP. Dagangan apa dijelaskan apa," kata Roni.

Dia menjelaskan ketika sudah mendapatkan nomor tenda para PKL baru bisa menempati tenda tersebut. Namun, dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menempati lapak tersebut.

"Kalau itu saya enggak tahu sampai kapan. Yang penting saya sudah dapat lapak," kata Roni.

Roni juga menceritakan banyak teman-teman PKL-nya yang belum mendapatkan lapak lantaran tidak ber-KTP DKI. Dia juga tidak tahu nasib mereka. Walaupun seperti itu, dia tetap berharap para PKL di kawasan Tanah Abang bisa dirangkul seluruhnya. "Ya harapannya bisa dirangkul," harap Roni.

Sementara itu, hal berbeda dialami oleh Noor Khomariah. Penjual jilbab itu tidak mendapatkan lapak. Lantas, dia kecewa dengan pihak kecamatan sebab sudah beberapa kali mengisi formulir.

"Saya enggak dapat padahal udah di survei sama petugas kebersihan. Kedua entah dari mana. Formulir ke wilayah. Kemudian isi ulang, data ulang. Tapi tetap enggak dapat," ungkap Noor.

Noor yang biasa berdagang di trotoar kawasan Tanah Abang itu kecewa karena telah bertahun-tahun berdagang. Dia sebelumnya berdagang di trotoar.

"Sudah bertahun-tahun dagang jadi PKL. Udah lama di lapak kecil," kata Noor.

Dia pun berharap kepada Gubernur Anies Baswedan agar para dirinya dan PKL lain yang senasib untuk dapat dibantu. Sebab, dia merasa tidak ada tempat lagi untuk berdagang.

"Enggak dapat. Pinginnya di sini. Bagi perlu dibantu. Saya mau lari ke mana lagi?" kata Noor lirih. (mdk/rzk)


Warga Tanah Abang tolak cara Anies tutup jalan untuk beri lapak PKL
Penampakan depan Stasiun Tanah Abang mulai dipadati tenda PKL
Kunjungi Tanah Abang, Anies pilih naik KRL
Banyak warga tak tahu jalan di depan Stasiun Tanah Abang ditutup buat lapak PKL
Perhatikan, ini rekayasa lalu lintas saat Jl Jati Baru ditutup karena PKL Tanah Abang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.