Kisah Haji Mangan dan sejarah Pekan Raya Jakarta

Kisah Haji Mangan dan sejarah Pekan Raya Jakarta
Kerak Telor PRJ 2012. ©2012 Merdeka.com/imam buhori
JAKARTA | 7 Juni 2013 11:01 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Gelaran akbar Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair kembali dibuka. Pameran yang konon disebut terbesar se-Asia Tenggara itu akan digelar selama satu bulan penuh di Kemayoran.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kabar akan adanya pemindahan lokasi pergelaran pameran akbar itu pun kini kembali ramai. PRJ lagi-lagi akan dikembalikan ke Monas mulai tahun depan. Lalu bagaimana sejarah perkembangan PRJ?

PRJ pertama digelar pada tahun 1968 dan sejak saat itu hingga saat ini setiap tahun penyelenggaraannya tidak pernah terputus. Dari 1968 sampai 1991 PRJ berlangsung di Taman Monumen Nasional.

PRJ digelar pertama kali di Kawasan Monas tanggal 5 Juni hingga 20 Juli tahun 1968 dan dibuka langsung oleh Presiden Soeharto dengan melepas burung merpati pos kala itu. PRJ pertama itu dulunya disebut disebut DF yang merupakan singkatan dari Djakarta Fair (ejaan lama). Lambat laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih popular dengan sebutan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Jakarta Fair atau PRJ sendiri digagas pertama kali oleh Syamsudin Mangan yang lebih dikenal dengan nama Haji Mangan yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Haji Mangan mengusulkan suatu ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri yang kala itu sedang mulai bangkit pasca G30S/1965 kepada Gubernur DKI yang dijabat oleh Ali Sadikin pada tahun 1967.

Gagasan atau ide ini disambut baik oleh Pemprov DKI, karena Pemerintah DKI juga ingin membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama sebagai upaya menyatukan berbagai pasar malam yang ketika itu masih menyebar di sejumlah wilayah Jakarta, seperti Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di bekas Lapangan Ikada (kini kawasan Monas).

Haji Mangan sendiri terinspirasi dari berbagai event pameran internasional yang sering diikutinya sebagai seorang konglomerat di bidang tekstil di kala itu serta Pasar Malam Gambir yang dari dulunya sudah ramai dikunjungi. Ide ini disambut baik Pemerintah DKI dengan membuat gebrakan dengan langsung membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin)yang ketuanya dijabat oleh Haji Mangan.

Panggung terbuka di arena PRJ

Agar resmi, Pemerintah DKI lalu mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta juga dibentuk sebagai badan pengelola PRJ. Sesuai Perda No 8/1968 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara arena promosi dan hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.

Syamsudin Mangan, Ketua Kadin Indonesia ketika itu dinilai berjasa dalam menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang mengubah wajah Pasar Malam Gambir yang kemudian terkenal dengan Djakarta Fair yang 'bermutasi' menjadi Jakarta Fair atau lebih dikenal dengan Pekan Raya Jakarta. Karena kegigihan Syamsuddin Mangan Djakarta Fair mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sayang, sebelum melihat ide dan gagasannya terwujud Syamsuddin Mangan dipanggil yang Kuasa.

PRJ 1968 atau DF 68 berlangsung mulus dan boleh dikatakan sukses. Mega perhelatan ini mampu menyedot pengunjung tidak kurang dari 1,4 juta orang. Fantastis! Acara yang digelar pun unik. Kala itu digelar pemilihan Ratu Waria. Yang ikut 151 peserta dan boleh dikatakan cukup banyak kala itu.

PRJ 1969 atau DF 69 'memecahkan' rekor penyelenggaran PRJ terlama karena memakan waktu penyelenggaraan 71 hari. PRJ pada umumnya berlangsung 30-35 hari. Bahkan Presiden AS pada waktu itu Richard Nixon datang ke Indonesia, sempat mampir ke DF 69. Ia berhenti di sebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza, sempat melambai-lambaikan tangannya ke pengunjung dan karyawan DF 69.

Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekadar pasar malam, bermutasi menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektar di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektar. Dan sejak itu PRJ selalu digelar di Kemayoran yang dikelola oleh PT JIEXpo.

Untuk memudahkan pengunjung ke PRJ di Kemayoran, shuttle bus secara gratis juga disediakan selama masa buka pameran dari Parkir IRTI Monas (seberang Kantor Gubernur DKI Jakarta). Bus-bus tersebut berangkat hampir setiap 30 menit sekali.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Jakarta Fair kali ini juga akan dimeriahkan oleh Pentas Musik 32 Hari Nonstop, dengan 100 group band top ibu kota, Pesta Kembang Api Spektakuler, Malam Muda Mudi, Pemilihan Miss Jakarta Fair, Panggung Kesenian di Taman Budaya, Karnaval, berbagai promosi menarik di stand-stand pameran, dan undian berhadiah mobil dan sepeda motor.

Berbagai produk unggulan dalam negeri serta hasil produksi industri kecil, UKM, dan koperasi akan dipamerkan dalam event pameran terbesar di Asia Tenggara ini. Ada produk furniture, interior, building material, otomotif, handycraft, garment, sport & health, telekomunikasi, banking, stationary, komputer & elektronik, property, kosmetik, food & drink, handphone, mainan anak-anak, sepatu, branded fashion, leather, branded product, multi-product, jasa dan produk BUMN, produk kreatif, dan berbagai produk unggulan lainnya.

Namun kini keberadaan PRJ di Kemayoran kembali dipersoalkan. Gubernur DKI Jokowi menyebut bahwa PRJ akan kembali dipindahkan ke Monas seperti sebelum tahun 1992. Meski demikian, pihak masih melakukan kajian atas rencana tersebut.

"Masih direncanakan," ujar Jokowi di Cakung, Jakarta Timur, Minggu (2/6).

Adapun alasannya menurut Jokowi adalah supaya ada kombinasi antara usaha kecil, menengah dan memamerkan produk-produk berbasis budaya.

Jokowi menilai PRJ yang sekarang ini jauh dari roh kerakyatan. PRJ menonjolkan kepentingan bisnis besar dan hanya mengejar kepentingan komersialisme. Padahal, PRJ disuguhkan bertujuan untuk menghibur rakyat dan warga Jakarta.

Meski demikian, pemilik PT JIexpo, Murdaya Poo langsung melakukan lobi ke Bali Kota. Pengusaha ini bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait dengan gelaran PRJ yang akan dipindah itu.

"Adalah Jakarta Fair jalan seperti biasanya, mulai detailnya, soal UKM soal apa itu, sudah kita tampung semua," ujar Murdaya Poo saat keluar dari ruangan Ahok, Jakarta, Selasa (4/6).

Lalu mungkin tahun depan (2014) PRJ akan kembali digelar di Monas seperti di era sebelum tahun 1992? Tampaknya banyak yang mendukung agar PRJ kembali dijadikan pesta rakyat di Monas.

*dari berbagai sumber

Baca juga:

Tahun ini, Kampung Betawi Square muncul di PRJ

SPG cantik hiasi PRJ Kemayoran

Ahok: Banyak keluhan pedagang kecil jika PRJ dikelola PT JIExpo

Pembukaan Jakarta Fair Kemayoran ditunda 10 Juni

(mdk/hhw)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami