Mengadu Nasib di Pinggir Kali Ciliwung

JAKARTA | 24 Agustus 2019 04:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Tak ada pilihan lain bagi Mustaqim untuk tinggal di sebuah rumah sederhana yang bermodalkan kayu selama 25 tahun lamanya. Meski rumahnya berada di pinggir kali Ciliwung, tapi ini menjadi tempat di mana dia mengais rizki setiap harinya.

Mustaqim adalah seorang pembuat tempe. Seorang diri dia menjalankan profesi ini tanpa bantuan tenaga kerja lain.

"Selama masih sehat dan bisa, alhamdulillah, sendiri saja tidak apa-apa," di rumahnya yang persis menghadap ke arah Kali Ciliwung.

Dari rumahnya, tampak karung putih menumpuk di sepanjang kali. Karung itu digunakan sebagai bendungan. Karung juga ditumpuk di depan rumahnya yang menghadap ke Kali. Mustaqim tak tahu dari mana bendungan ini berasal, siapa yang buat.

"Yang bikin tanggul di karung putih itu tidak tahu siapa. Bukan orang dari sini. Itu dari kerukan selokan kemarin dibuang ke sini. Jadi, bukan warga sini, tapi dari proyek," jawabnya.

Tidak hanya di depan rumah Mustaqim saja bendungan terlihat. Namun, beberapa rumah warga di pinggir kali pun terlihat mempunyai bendungan. Sekitar 20 rumah di pinggir kali ini membendung rumahnya dengan karung-karung berwarna putih.

Teti misalnya. Warga yang juga tinggal di pinggir kali ini menjelaskan bahwa bendungan ini berfungsi untuk menahan longsor. Pemerintah Daerah (Pemda) pernah menegur warga untuk tidak melakukan hal ini. Namun, beberapa warga tetap melakukannya.

"Ya habis gimana lagi, mau buang kemana lagi. Ini ditanggul pake batu-batuan saja. Lagi pula, ini cuma untuk rumah-rumah yang longsor saja," jawabnya.

Sebenarnya, warga mengetahui dampak dari membuat bendungan ini. Bagi mereka, selama bisa mencegah agar rumahnya tetap selamat dari longsor, ini hal yang sah-sah saja.

"Tahu dampaknya. Kali bakal keruh dan cetek, terus juga banjir. Takut tidak takut sih sama dampaknya, soalnya mau gimana lagi ya namanya juga di pinggir Kali," jawab Teti warga Kali Ciliwung.

Diterjang banjir sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Uniknya, mereka punya tempat tersembunyi untuk menyelamatkan diri dan harta bendanya dari banjir. Ya, setiap rumah di pinggir kali tersebut mempunyai loteng.

Meski tak memperlihatkan bagaimana bentuk lotengnya, tepi itu hanya terlihat seperti lantai atas rumah mereka. Namun, mereka tetap menyebutnya sebagai loteng. Bagian ini menjadi tempat mereka mengungsi ketika banjir melanda lantai bawah rumahnya.

Ketika hujan deras mulai turun pun, warga tidak langsung was-was dan memindahkan barangnya. Warga di sini mempunyai cara tersendiri untuk mengetahui apakah akan terjadi banjir atau tidak. Mereka akan mendapatkan sebuah informasi bahwa akan ada air yang datang dari Bogor.

Setelah menerima informasi tersebut, baru warga bergegas memindahkan barang-barang berharganya. Selama warga tidak menerima informasi tersebut, mereka tidak akan menggunakan lotengnya sebagai tempat perlindungannya.

"Kalau hujan begini, tidak was-was. Sudah biasa saja. Paling cuma antisipasi jadi mengurangi pembelian kacang. Kalau hujan sudah mulai deras, kita tidak memindahkan barang. Nanti kalau ada info bahwa air akan datang dari Bogor, baru berbenah," jawab Pembuat Tempe, Mustaqim di kediamannya, Minggu (18/8).

Meski usaha pembuatan tempe berada di pinggir kali, Mustaqim berani menjamin, limbah industri kecilnya itu tak dibuang ke kali. Hanya air rebusan tempe yang dibuang ke kali. Untuk ampasnya, dia olah lagi untuk menjadi makanan kambing.

Namun, untuk sampah rumah tangga, dia akui kalau dirinya kerap membuang ke kali. "Kalau sampahnya sedikit, kadang-kadang saya buang ke kali. Awalnya ada bak sampah di dalam (perumahan warga) dari Koramil, tapi sekarang sudah tidak ada lagi," jawabnya sambil tertawa.

Warga lain pun juga melakukan hal yang sama. Mereka membuang sampah rumah tangga ke kali. Bahkan, ada salah satu warga yang melempar satu kantong plastik berisikan sampah ke kali. Tanpa ada rasa bersalah, dia hampiri pinggiran kali dan menghempaskan sampah tersebut.

Pada Minggu (18/8), Kelurahan Kampung Melayu dan Dinas Tata Air melakukan pembersihan di kali Ciliwung. Pembersihan ini dimulai pukul 08.00 WIB. Para petugas mulai mengeruk dan membawa karung-karung putih tersebut naik ke atas.

Saat pembersihan warga kooperatif. Kelurahan sudah mengimbau agar warga tak buang sampah sembarangan di kali.

Reporter Magang: Rhandana Kamilia

Baca juga:
Pemprov DKI Bongkar Reklamasi di Kali Ciliwung
Naturalisasi Ciliwung, Pemprov DKI Bebaskan Lahan 4 Kelurahan ini Butuh Dana Rp 160 M
Aksi Petugas UPK Badan Air Jaga Kebersihan Anak Kali Ciliwung
Debit Air Surut, Sungai Ciliwung Jadi Tempat Wisata Dadakan
Sukarelawan Gotong Royong Bersihkan Aliran Sungai Ciliwung
Hari Lingkungan Hidup, 9.300 Orang Bersih-bersih Sungai Ciliwung
Rumah-rumah yang Rusak Pasca Banjir Melanda Kramatjati

(mdk/rnd)