Mengintip Persiapan Masjid-masjid di Jakarta Menyambut New Normal

Mengintip Persiapan Masjid-masjid di Jakarta Menyambut New Normal
JAKARTA | 1 Juni 2020 09:57 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Ketua Dewan Masjid Indonesia DKI Jakarta, Makmun Al Ayubbi mengatakan kesiapannya melaksanakan kehidupan normal baru terhadap masjid di Jakarta, jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak diperpanjang.

Selama menunggu keputusan, Makmun menyebut seluruh masjid di Jakarta telah bersiap menyediakan fasilitas sanitasi untuk menekan penularan Covid-19.

"Insya Allah kami sedang menyiapkan apabila memang tanggal 4 Juni PSBB tidak diperpanjang. Lalu masjid boleh dibuka kembali maka ada beberapa catatan yang harus dipenuhi oleh masjid," ujar Makmun, Senin (1/6).

Ia menuturkan hampir seluruh gerbang masuk atau pintu masuk masjid di Jakarta telah menyediakan sabun cuci tangan sebelum para jamaah memasuki wilayah masjid. Untuk penyekatan, beberapa masjid masih melakukan persiapan.

Hanya saja, dia tidak bisa memastikan apakah seluruh masjid di Jakarta serentak melakukan tatanan normal baru. Sebab di Jakarta masih terdapat kelurahan tertinggi kasus positif Covid-19.

Dikutip dari situs corona.jakarta.go.id kelurahan tertinggi dengan kasus positif Covid-19 terbanyak adalah Sunter Agung dengan total 151 kasus. Disusul Kelurahan Pademangan Barat 141 kasus, dan 133 kasus di Pademangan Barat.

"Kalau hal yang seperti itu kami kembalikan kepada kebijakan aparat setempat seperti wali kota, camat, dan lurah karena mereka yang punya kewenangan. Kalau DMI cuma ikut aturan PSBB," ujarnya.

"Dan juga kami belum bisa membuat edarannya karena masih nunggu keputusan Gubernur terkait PSBB," imbuh Makmun.

1 dari 1 halaman

Sebelumnya, juru bicara penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyebut dua aspek utama menjadi penilaian penerapan kehidupan normal baru. Aspek tersebut adalah epidemiologi dan penggunaan tempat tidur ICU.

Pada aspek pertama, epidemiologi, Yuri menuturkan daerah yang berhasil menurunkan jumlah kasus minimal 50 persen selama tiga minggu berturut-turut, bisa dipertimbangkan menerapkan kehidupan normal baru.

"Positif ratenya rata-rata menurun dari 5 persen dari kasus yang kita periksa, di samping juga dari aspek menurunnya (persentase) kematian," ucap Yuri, Minggu (31/5).

Aspek kedua, penggunaan tempat tidur bagi pasien yang mendapat perawatan di ICU akibat infeksi virus Corona. Aspek ini menjadi bahan penilaian sebagai deskripsi tingkat fatalitas infeksi virus kepada pasien.

Yuri menambahkan, kendati dua aspek terpenuhi oleh satu daerah, penerapan kehidupan normal baru tidak dilakukan otomatis. Perlu ada sosialisasi dari pihak terkait, tokoh-tokoh masyarakat, simulasi, dan pemahaman masyarakat atas kehidupan normal baru.

"Sebagai contoh disepakati (sosialisasi kehidupan normal baru) di pasar, maka harus ada simulasi pasar yang memenuhi persyaratan protokol-protokol. Oleh karena itu semua sama-sama bergerak, tergantung epidemiologi daerah tersebut," kata Yuri. (mdk/ray)

Baca juga:
Wagub DKI Sebut 4 Syarat Ini Harus Dipenuhi Jakarta untuk Terapkan New Normal
Perpanjang PSBB di Tangsel, Airin Bolehkan Rumah Ibadah dan Kios Dibuka Kembali
Pembatasan Penerbangan, Calon Penumpang Pesawat Wajib Tunjukkan Syarat Terbang
Warga Penuhi Kawasan Wisata Kebun Teh di Puncak
Foto Model Saat PSBB

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5