Organda DKI Klaim Moda Transportasi Modern Bantu Kopaja atau Metromini

JAKARTA | 25 Agustus 2019 11:39 Reporter : Ahdania Kirana

Merdeka.com - Jakarta kini memiliki beragam moda transportasi umum yang modern, dari Transjakarta hingga Moda Raya Terpadu (MRT). Dalam waktu dekat, warga Jakarta juga akan merasakan Light Rail Transit (LRT).

Dampaknya, beberapa moda transportasi yang sudah ada sebelumnya, seperti Kopaja atau Metromini harus rela bersaing mendapatkan penumpang. Tak sedikit sopir atau mantan sopir Kopaja dan Metromini 'menjerit' atas keadaan tersebut.

Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan mengungkapkan keberadaan moda transportasi seperti Transjakarta tak keberadaan kendaraan umum lain, terutama sejak diciptakannya program Jak Lingko atas gagasan Gubernur Anies Baswedan.

"Keberadaan Transjakarta dengan program Jak Lingko justru menyelamatkan angkutan kota yang ada. Baik bus besar, sedang, dan kecil. Kopaja dan Metromini masuk ke bus sedang," ungkap dia saat dihubungi merdeka.com, Jumat(23/8).

Dia menuturkan Jak Lingko merupakan transportasi yang terintegrasi dari segi rute, manajemen, dan pembayaran. Tidak hanya memudahkan sistem, tapi juga masyarakat.

"Tujuan mengintegrasikan adalah supaya kualitas layanan angkutan umum pada masyarakat semakin baik. Jadi masyarakat cukup sekali bayar, lebih efisien dan efektif. Masyarakat diharapkan nyaman dan aman menggunakan transportasi dengan tarif terjangkau dan estimasi waktu terukur. Diharapkan masyarakat bisa meninggalkan kendaraan pribadi sehingga mengurangi polusi kemacetan," lanjutnya.

Meski begitu, belum semua Kopaja dan Metromini bergabung ke Jak Lingko. "Sebelumnya ada yang sudah berintegrasi dengan Transjakarta, tapi belum seluruhnya. Saat ini sedang level bus kota, termasuk Kopaja dan Metromini," ucapnya.

Untuk berintegrasi, Kopaja dan Metromini harus memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimum). Hal ini termasuk peremajaan penambahan beberapa fasilitas bus. Maka, prosesnya membutuhkan modal yang cukup besar.

Namun, Shafruhan mengatakan, pemerintah membantu proses ini. "Pemerintah membantu proses mereka untuk kredit di bank-bank pemerintah. Karena sudah ada kontrak, maka prosesnya jadi lebih pasti dan bisa dipertanggungjawabkan," katanya.

Tak hanya armada, pengendara Transjakarta dan bus-bus yang terintegrasi juga diharuskan memiliki sertifikasi, sesuai dengan peraturan pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Sertifikasi didapat melalui pendidikan pada institusi di bawah Kementerian Perhubungan.

"Pemerintah bantu dan biayain sertifikasi melalui pendidikan pengemudi. Ada institusinya di bawah Kementerian Perhubungan, dilakukan pendidikan di sana. Setelah lulus, dapat SIM B1 umum atau B2 umum. Target Pemda DKI adalah seluruh pengemudi angkutan umum dan barang harus punya SIM umum," ucapnya.

Tahun ini, operator masih meremajakan armadanya karena Transjakarta membuka kuota bagi 150 kopaja dan 100 metromini untuk masuk Jak Lingko.

Penulis magang:Ahdania Kirana

Baca juga:
Jeritan Sopir 'Mati Total' Sejak Kopaja dan Metromini 'Hilang'
Kopaja dan Metromini 'Hilang', Bus sudah Dijual Kiloan oleh Pemilik
Melihat Puluhan Bus Transjakarta yang Rusak di Terminal Pulogadung
Kemenhub Ingin Kendaraan Listrik Lebih Dulu Diterapkan Pada Angkutan Umum
Mulai Hari Ini, Angkutan Umum di Bekasi Bisa Dipesan Online

(mdk/ded)