Pemprov DKI Bakal Siapkan Lokasi Khusus untuk Warga Agar Tak Stres Selama di Rumah

Pemprov DKI Bakal Siapkan Lokasi Khusus untuk Warga Agar Tak Stres Selama di Rumah
JAKARTA | 30 Mei 2020 06:01 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengakui bahwa masyarakat tentu akan stres jika harus terus berada di rumah demi mencegah penularan Covid-19. Karena itu kegiatan rekreatif di luar rumah juga perlu dilakukan.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yusmada Faisal mengatakan pasca merebaknya Covid-19, masyarakat dituntut untuk bisa beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi warga yaitu dengan melakukan jaga jarak.

Jaga jarak, lanjut dia, patut diakui juga memerlukan kerelaan masyarakat. Sebab, berlawanan dengan tipikal masyarakat Indonesia pada umumnya, yakni suka berkumpul.

"Masyarakat kita ini memang budaya atau tipikalnya senang ngumpul. Sementara di pandemi ini kita jaga jarak dulu," kata dia, dalam diskusi daring, Jumat (29/5).

Karena itu, tidak bisa dielakkan bahwa terlalu lama di rumah saja akan membuat warga stres terutama mereka yang tinggal di permukiman padat penduduk. Hal inilah yang sedang dipikirkan pemprov DKI.

Dia mengaku sudah berbicara dengan SKPD-SKPD terkait untuk menyediakan arena rekreasi warga. Arena itu nanti akan dibuat dengan memanfaatkan lahan kosong berada di masing-masing kompleks permukiman.

"Tadi saya bicara dengan teman-teman di SKPD mungkin tidak kalau ada lahan tidur atau taman sebagai area melepas stress. Kalau berkumpul terus di rumah bisa stres loh," ungkap Yuswada.

Hanya memang, kegiatan masyarakat di luar rumah harus tetap diatur sejalan dengan upaya memutus mata rantai Covid-19.

"Kita butuh keluar. Keluarnya seperti apa. Mungkin di setiap wilayah itu ada area atau lahan tidur milik siapapun nanti kita kerja sama untuk dijadikan tempat-tempat macam area publik," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Seberapa Kuat Masyarakat Bersolidaritas di Tengah Pandemi

Dosen Sosiologi Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mengatakan semangat gotong royong dan jiwa solidaritas masyarakat Indonesia merupakan modal sosial besar dalam menghadapi pandemi Covid-19. Budaya ini memungkin warga masyarakat saling menyokong kehidupan satu sama lain di tengah pandemi.

"Kalau kita lihat secara nasional, sebetulnya kita diuntungkan oleh budaya gotong royong yang cukup tinggi. Bayangkan kalau tanpa ada gotong royong di masyarakat, saya ngga bisa bayangkan negara luar biasa nggak kuat menangani situasi ini," kata dia, dalam diskusi daring, Jumat (29/5).

Modal sosial tersebut amat membantu, mengingat kemampuan negara terbatas untuk menyokong semua kebutuhan warga seiring dengan keluarnya imbauan jaga jarak, dan selanjutnya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Bayangkan di antaranya sumbangan sosial masyarakat yang luar biasa. Nilainya bisa triliunan dari masyarakat itu melebihi kapasitas negara untuk membantu masyarakat. Saya kira itu salah satu potensi penting, bagaimana masyarakat kita memiliki semangat untuk menolong," ujar dia.

Hanya saja patut diakui, bahwa kemampuan masyarakat untuk bersolidaritas juga terbatas. Sebab, dalam riset yang dilakukan pihaknya, responden yang ditemui mengaku tidak bisa terlalu lama menjalankan pola hidup solider.

"Tapi central for social, dan political studies menemukan bahwa mereka memang memiliki daya yang cukup kuat untuk melakukan solidaritas. Tapi ketika kita tanyakan berapa kuat anda melakukan praktik solidaritas itu, mereka rata-rata menjawab mungkin sampai 2-3 bulan saja," ungkapnya.

"Artinya ini perlu ada data lain. Jadi ketika sudah 2-3 bulan masyarakat mengalami proses sosiologis yang luar biasa, mereka bantu tetangga, solidaritas pada sesama itu, data sosial lain itu lebih ke psikologi sosial itu apa yang yang terjadi pada situasi psikologis masyarakat," imbuh dia.

Pemerintah, kata dia, perlu memberikan perhatian pada aspek psikologis masyarakat. Perkembangan kejiwaan masyarakat di tengah pandemi perlu didalami. "Misalnya setelah lakukan praktik sosial yang luar biasa itu, seberapa besar mereka mengalami tingkat stres. seperti apa mereka stres dalam hidup di rumahnya. Kalau di rumah yang tempat cukup longgar mungkin beda tingkat stres dengan mereka yang tinggalnya di rumah yang kecil ukurannya. atau di kos-kosan misalnya," ujar dia.

Jika tekanan psikologi warga tidak dapat diredam, maka akan muncul kekerasan simbolik yang mulai dari rumah. Kemudian bisa menjalar ke lingkungan sekitarnya.

"Kekerasan simbolik di warga, begitu muncul di rumah-rumah yang padat itu, maka bisa akan meningkatkan tensi sosial, ini apa antisipasinya. yang harus dilakukan agar tensi Sosial itu tidak menimbulkan kekacauan," urai dia.

Sebagai contoh, lanjut dia, ada pernyataan warga yang menyampaikan bahwa kompleks permukimannya menjadi lebih aman dengan ada penutupan akses masuk.

"Tadi dikatakan aman karena di tutup tapi di dalam bisa menimbulkan ketegangan sosial yang luar biasa di daerah-daerah padat," ujar dia.

Karena itu pendekatan psikologi juga harus dilakukan. Pemerintah harus juga memikirkan cara untuk 'menghibur' warga di sejalan dengan imbauan jaga jarak dan pemberlakuan PSBB.

"Kalau itu muncul apa yang dilakukan disitu perlu saat treatment sosiologis yang mengaitkan perspektif psikologi sosial. Misalnya bagaimana menghibur warga, bagaimana bangun satu permainan tradisional yang tumbuh di kampung itu berjalan meskipun tetap melakukan physical distancing. itu kan praktik sosial," terang dia.

Selain itu, pelibatan tokoh-tokoh non pemerintahan yang ada dalam satu komunitas juga perlu dijalankan. "Misalnya tokoh kampung, tokoh agama, apa yang harus mereka perankan. Itu yang disebut open government jadi melibatkan semua struktur sosial yang ada di masyarakat," tandasnya. (mdk/gil)

Baca juga:
APBD DKI Terdampak Pandemi, Anies Pastikan Lanjutkan Kontrak Kerja 120.000 PJLP
Saat Gaji TGUPP Tak Terkena Dampak Covid-19
Anies Baswedan Minta ASN DKI Jangan Lemah, Lunglai & Lembek Lawan Corona
Cerita Anies Pilih Potong TKD PNS DKI Daripada Bansos
Pemprov DKI Relokasi TKD ASN untuk Penanganan Covid-19

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Putar Otak Bisnis Ritel Hadapi Corona

5